prejudice (prasangka)

Secara harfiah, kata prejudice atau prasangka bermakna anggapan yang belum tentu benar. Orang yang berprasangka adalah orang yang telah membuat/menyusun pikiran menyangkut suatu topik tertentu sebelum assessing informasi yang relevan. Pengertian dari anggapan yang belum tentu benar ini telah membentuk bagian penting konsep psikologi sosial tentang prasangka. Sebagai tambahan, ahli psikologi sosial cenderung menggunakan istilah prasangka (prejudice) untuk merujuk pada jenis khusus prejudgements.

Para ahli psikologi sosial berpendapat, kesalahan orang yang punya prasangka, sebagiannya berasal dari kecenderungan berpikir stereotip terhadap suatu kelompok sosial. Dalam salah satu penelitian psikologi paling awal, Katz and Braly (1935) menemukan bahwa mahasiswa kulit putih Amerika Serikat punya kecenderungan luas melakukan stereotip terhadap kelompok-kelompok sosial. Dengan berpikir stereotip seperti itu, orang yang berprasangka tidak hanya punya pandangan jelek pada kelompok secara keseluruhan, tapi juga membesar- besarkan persentase individual yang mungkin memiliki ciri stereotip itu.

Beberapa teori psikologi terkenal tentang prasangka telah menawarkan penjelasan motivasional atau psikoanalisis untuk menerangkan pikiran stereotip. Sebagai contoh, Adorno et al. (1950) berpendapat bahwa orang yang suka berprasangka cenderung memiliki kepribadian otoriter. Sikap otoriter, menurut Adorno, dimotivasi oleh ketidaktoleranan yang mendua, yang berasal dari pengalaman masa kecil yang berat, seperti kurang kasih sayang dari orang tua. Ketidaktoleranan yang mendua itu direfleksikan dengan kebutuhan memikirkan dunia, dalam kondisi yang penuh kekerasan, yang hierarkis. Seorang yang otoriter mencari figur-figur hero, kepada siapa respek berlebihan diperlihatkan mereka juga memerlukan kelompok-kelompok ‘inferior’, pada siapa ketakutan dan rasa tidak aman yang menekan mereka sendiri diproyeksikan. Hasilnya adalah kepribadian yang rapuh dan selalu curiga, yang terdorong untuk memandang rendah dan melakukan stereotip pada kelompok luar mereka (outgroups).

Ada masalah fundamental dengan penjelasan motivasional tentang prasangka, seperti teori otoritarianisme. Mereka punya kesulitan untuk menjelaskan keyakinan yang telah menjadi prasangka secara luas. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa keyakinan rasis pada kebanyakan warga kulit putih Afrika Selatan tak bisa secara penuh dijelaskan dalam istilah kepribadian otoriter. Meski kebanyakan warga kulit putih di Afrika Selatan punya keyakinan penuh prasangka atas warga kulit hitam, hanya sekitar 10 persen yang bisa dikatakan punya kepribadian otoritarian. Prasangka ras, jenis kelamin atau terhadap orang asing seringkah tak berpegang pada alasan-alasan motivasional yang mendalam, tapi karena prasangka-prasangka itu merupakan bagian dari ‘perasaan umum’ (common sense) yang secara umum diterima dalam masyarakat rasis, patriarkis atau nasionalistis.

Banyak ahli psikologi sosial berkonsentrasi mengamati apa yang disebut Henri Tajfel (1981) “aspek kognitif dari prasangka”. Penelitian ini telah memberi kesan bahwa banyaknya pikiran prejudis bukanlah hasil dari proses psikologis abnormal’, tapi lebih merupakan hasil sampingan dari pola normal berpikir. Jadinya, ahli psikologi coba menunjukkan bagaimana persangkaan orang bisa mempengaruhi cara sebuah informasi baru diinterpretasikan. Mereka sudah disarankan, bahwa pengkategorian stimuli bisa mengarah pada kesalahan simplifikasi, menyerupai kekeliruan stereotip. Lagipula, eksperimen telah menunjukkan tingkatan di mana orang cenderung menyelidiki bukti yang mengkonfirmasi persangkaan mereka, dan mengabaikan bukti yang berlawanan. Juga ada penemuan tentang kecenderungan melakukan overgeneralize, atau menggambarkan dengan pasti kesimpulan dari sejumlah kecil kasus (Hamilton and Trolier 1986). Sebagai contoh, seseorang, yang memandang satu kelompok sebagai malas, akan sering secara tak sadar menginterpretasikan setiap perilaku ambigu sebagian anggota kelompok itu sebagai sesuai dengan stereotip kemalasan. Sebaliknya, perilaku anggota kelompok itu yang bekerja keras mungkin tak dicatat, atau diabaikan sebagai ‘kekecualian’ belaka. Sejak kelompok-kelompok mayoritas dalam sebuah masyarakat punya kekuatan untuk menyebarkan stereotip menyangkut kelompok minoritas, stereotip itu akan berlalu sebagai ‘perasaan umum’ dan para penganutnya akan secara konstan mencari bukti yang memperkuatnya.Mereka tak sadar pada bias kognitif mereka sendiri, dan kekuatan kelompok mayoritas itu, yang telah membantu menciptakan bukti seperti itu.

Makin banyak pengakuan, bahwa berpikir prejudis mungkin secara kognitif tidaklah sesederhana seperti diasumsikan para penyelidik terdahulu. Secara khusus, orang akan menyatakan prasangka tanpa membuat statemen yang sesungguhnya, statemen lengkap tentang semua orang Yahudi, semua kulit hitam, atau semua perempuan, dan sebagainya. Nyatanya, pribadi yang prejudis sering melindungi stereotip-stereotip mereka dengan mengakui adanya kekecualian-kekecualian. Untuk alasan ini, sejumlah ahli psikologi sosial telah memberi perhatian besar pada ceramah atau pidato, yang digunakan untuk merumuskan pandangan-pandangan prejudis (van Dijk 1993; Wetherell and Potter 1993). Studi- studi atas ceramah ini telah mengungkapkan seluk beluk prejudis. Di dalam masyarakat Barat kontemporer, ada penerimaan umum bahwa prejudis itu salah. Banyak pembicara, yang tak ingin dilihat sebagai prejudis, takkan menggunakan stereotip yang mencolok, misalnya subyek dalam penelitian Katz dan Braly. Sebagai konsekuensinya, para pembicara akan mengadopsi strategi-strategi kompleks untuk membuat evaluasi negatif terhadap kelompok minoritas. Mereka menyangkal telah berbuat prejudis, sementara secara terus- menerus mengekspresikan rasa prejudisnya (Billig 1991). Ucapan seperti ‘saya tak berprasangka, tapi…’ secara khas digunakan untuk mengawali kata-kata yang menyalahkan kelompok luar (outgroups). Ucapan ini mengilustrasikan bagaimana pikiran prejudis sendiri telah menjadi bagian sangat besar dalam diskursus tentang prejudis.

Incoming search terms:

  • pengertian prasangka
  • arti prasangka
  • definisi prasangka
  • apa itu prasangka
  • maksud prasangka
  • apa yang dimaksud dengan prasangka
  • contoh prasangka
  • pengertian dari prasangka
  • pengertian berprasangka
  • pengertian prasangka beserta contohnya

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian prasangka
  • arti prasangka
  • definisi prasangka
  • apa itu prasangka
  • maksud prasangka
  • apa yang dimaksud dengan prasangka
  • contoh prasangka
  • pengertian dari prasangka
  • pengertian berprasangka
  • pengertian prasangka beserta contohnya