privatization (privatisasi)

Privatisasi di sini merujuk pada transfer aset yang dimiliki oleh negara ke beberapa bentuk pemilikan swasta, meskipun kata itu telah digunakan lebih luas bagi setiap pemindahan aktivitas ekonomi kepada sektor swasta, misalnya contracting out pembersihan rumah sakit dan joint venture (usaha bersama/kongsi) yang menggunakan modal swasta. Fokus joint venture (di sini adalah pada definisinya yang lebih sempit (pemilikan), tapi banyak dari argumennya juga berlaku pada pemakaian yang lebih luas.

Kata privatisasi, seperti juga konsepnya, menonjol pada 1980-an. Istilah sebelumnya adalah ‘denasionalisasi’, yang menunjukkan sifat dasar prosesnya maupun tingkatannya, dan merupakan reaksi terhadap nasionalisasi yang ada sebelumnya. Tapi, ini hanya salah satu dari beberapa alasan bagi munculnya privatisasi, baik di bidang ekonomi maupun politik.

Argumen dasar ekonomisnya adalah alasan efisiensi. Teori tradisional selalu menyokong solusi pasar kompetitif bagi masalah organisasi ekonomi, tapi juga mengakui bahwa kehadiran monopoli mungkin telah merusak konklusi ini. Khususnya ‘monopoli kebutuhan dasar’, seperti di sektor energi, transportasi dan komunikasi, di mana kompetisi tak dapat dipraktekkan. Pilihan antara pemilikan publik dan swasta akhirnya sampai pada sebuah keputusan, apakah manfaat kepemilikan swasta, yang mendorong efisiensi ekonomi dan kebebasan dari campur-tangan birokrasi pemerintah dan politisi, lebih banyak dari manfaat kepemilikan publik yang mengontrol monopoli. Selama 30 tahun usai Perang Dunia Kedua konsensus lebih memilih kepemilikan publik sejak 1970-an argumen pandangan pentingnya kepemilikan negara telah pudar, sementara the zeitgeistpada 1980-an mengarah pada pilihan bagi kepemilikan swasta dan solusi pasar pada umumnya.

Jadi, satu tujuan privatisasi adalah kepemilikan saham yang lebih luas. Alasan praktis lain, adalah kegagalan model nasionalisasi. Juga argumen monopoli di sektor kebutuhan dasar manusia dalam kepemilikan publik, dilemahkan oleh perubahan teknis di beberapa industri, dan dalam realisasinya hanya diterapkan sebagian.

Yang terakhir adalah sasaran finansial/keuangan. Sederhananya adalah, privatisasi merupakan jalan bagi pemerintah untuk mendapatkan uang, membolehkan pengurangan pada sumber lain seperti pajak. Juga industri-industri itu dapat menggunakan pasar modal biasa untuk keperlukan investasinya. Dalam beberapa kasus, hal ini diperkuat oleh konvensi /kaidah laporan faccount-internasional: Di Inggris, pinjaman industri yang telah dinasionalisasi termasuk dalam syarat pinjaman sektor publik, dan pemerintah menjadikan ini sebagai target utama untuk dikurangi.

Secara jelas, tak semua tujuan dalam daftar itu saling cocok lebih banyak kompetisi dikenalkan, misalnya, mungkin saja justeru hasil pendapatan yang lebih rendah yang diperoleh sebuah privatisasi. Bobot tujuan yang berbeda-beda itu akan terefleksi dalam metode privatisasi yang digunakan. Yang paling menyolok adalah pengambangan publik, di mana industri diubah menjadi sebuah perusahaan dan sahamnya dijual ke masyarakat. Alternatif lainnya termasuk debt-financed manajemen buy-outs (membeli semua saham), di mana perusahaan dijual ke manajemen yang ada, dan dijual secara terbuka kepada perusahaan swasta lainnya.

Menilai sukses atau tidaknya privatisasi cukup dirumitkan oleh kebutuhan untuk membebaskan diri dari kekusutan pengaruh perubahan kepemilikan, yang juga membawa perubahan dalam tingkat persaingan, dan sering pula dalam hal teknologi, yang terjadi pada saat yang sama. Lagipula kritik umumnya akan sangat keras manakala monopoli diprivatisasi tanpa dikenalkannya persaingan yang nyata, dan bila harga saham sangat rendah.

Menurut definisi, privatisasi tak bisa berlangsung terus selamanya pada akhirnya, persediaan aset milik negara pasti habis. Di inggris contohnya, mayoritas aset itu telah dijual pada pertengah-an 1990-an. Di seluruh dunia, kebijakan itu masih akan memakan waktu panjang. Hancurnya komunisme, dan terbukanya negara-negara Eropa Timur setelah 1989, membuat banyak negara di kawasan itu melihat privatisasi sebagai jalan cepat mencapai ekonomi pasar, sekaligus untuk menarik modal dari Barat. Kebijakan itu juga mendapat dukungan di negara-negara sedang berkembang, meski tak persis sama alasannya.

Sering saham dalam sebuah investasi yang berada dalam tanggung jawab perusahaan publik sangat tinggi, dan perannya dalam perencanaan pembangunan nasional bermakna privatisasi tak dilihat sebagai opsi yang menarik.