psychoanalysis (psikoanalisa)

Ini adalah prosedur penanganan gangguan mental dan emosional. Sigmund Freud menyusun dan mengembangkan psikoanalisa sebagai hasil penelitian individualnya terhadap sebab-sebab penyebab histeria, salah satu bentuk penyakit mental yang umum di Eropa dalam akhir abad ke-19 (lihat Jones 1953).

Karakteristik unik dari psikoanalisa sebagai sebuah terapi berasal dari dari teori psikopatologi. Penemuan paling penting dari psikoanalisa adalah bahwa gangguan mental dan emosional diakibat-kan oleh kehidupan alam bawah sadar. Oleh karena itu penanganannya tergantung pada kemampuan si pasien, dengan bantuan sang analis, untuk membuka pikiran dan perasaan bawah sadarnya. Rumusan inilah yang mendorong metode psikonalisis dari sejak lahirnya (‘apa yang tidak sadar dibuat sadar’) tetap amat penting. Perubahan yang terjadi dalam rumusan itu diakibatkan oleh pemahaman yang luas dan mendalam atas sifat kehidupan bawah sadar dan bagaimana itu berfungsi dalam hubungan dengan kesadaran dan dengan lingkungan.

Menurut konsepsi pertama Freud mengenai pembentukan simptom (gejala), pola-pola pikiran yang tidak normal terjadi selama keadaan disosiasi dan terhalang dari pelepasan yang normal karena keadaan kesadaran yang berubah. Penyembuhannya memerlukan beberapa metode pelepasan (discharge) katarsis jiwa. Dengan menggunakan hipnotis, materi berat bisa dibawa ke permukaan dan dilepaskan melalui asosiasi. Rangkaian kesimpulan ini, dirumuskan pertama-kali oleh Freud bersama dengan Joseph Breuer (1842-1925), yang menggambarkan pengalaman klinisnya dalam menangani pasien wanita yang ia sebuat Anna O. (Freud 1955: vol. 2), bergantung pada hipotesa kuantitatif mengenai kehidupan alam bawah sadar dan hubungannya dengan keadaan sadar.

Perubahan besar terjadi baik dalam riset maupun teori yang menjelaskan peralihan abad. Freud mengakui, sebagian besar melalui analisis dirinya tapi juga melalui perhatian yang hati-hati pada apa yang dikatakan pasien padanya, bahwa faktor kualitatif sama pentingnya dengan faktor kuantitatif dalam proses patologis.

Pengenalan faktor kualitatif mengubah teori sakit syaraf (neurosis)dan prosedur pengobatannya, serta tentu saja, metode penelitiannya. Dari mengatur sebuah prosedur yang didisain untuk melepaskan banyaknya rangsangan yang tersimpan dalam jiwa, problem lalu beralih jadi membongkar makna gejala-gejala itu, dan akarnya dalam bawah sadar, melalui asosiasi. Hipnotis tak lagi digunakan untuk tujuan di atas, karena seluruh prosedur penanganan memerlukan partisipasi penuh dari si pasien. Freud meminta pasien-pasiennya untuk berbaring di atas dipan dan untuk mengatakan apa saja yang datang ke pikirannya. Metode ini, yang dinamakan asosiasi bebas, menciptakan kontradiksi. Freud menemukan, sulit bagi si pasien untuk melaksanakan permintaannya (Freud). Kesulitan dalam melakukan asosiasi nampak tidak menjadi pengaruh acak, tapi bersama gejala-gejala itu bisa dimengerti sebagai aspek inheren dari cara berpikir dan perasaan si pasien, dan bentuk khusus serta isi gejalanya yang ada. Freud menggambarkan kesulitan asosiasi bebas itu sebagai penolakan dan sebagai bagian masalah bawah sadar yang berusaha untuk memecahkan halangan yang menjaga kehidupan alam bawah sadar.

Metode riset dan penanganan, yang bernama psikoanalisa, meniru perjuangan intrapsikis individu itu dengan bawah sadarnya. Model penanganan penderita gangguan mental dari Freud menggabungkan ide-ide kuantitatif dan kualitatif itu dalam konsep konflik intrapsikis. Gejala (symptoms), kondisi asing dan melemahkan itu, timbul sebagai hasil konflik di dalam jiwa itu.

Menurut model ini, istilah konflik pada penderita gangguan mental bermula dari nafsu; yang tujuannya adalah kepuasan. Dorongan hati untuk bertindak, untuk mencari kepuasan nafsu secara langsung, dirintangi oleh kekuatan penghalang didalam jiwa. Jenis penghalang yang paling dikenal itu timbul dari standar moral individu, yang membuatnya tak bisa menerima pemuasan nafsu secara langsung. Penentangan pada kekuatan nafsu dan moralitas itu menghasilkan gejala-gejala yang melemahkan tapi dalam bentuk yang akan memperkenankan sebuah ukuran pemuasan nafsu, meskipun kecil dan merugikan. Gejala (symptoms), yang diakibatkan oleh konflik intrapsikis, adalah upaya terbaik seorang individu berkompromi.

Bagaimanapun, seperti ditemukan Freud, bentuk gejala (symptom), sejak memanfaatkan kompromi, mengikuti prinsip-prinsip fungsi mental yang mempergunakan seluruh spektrum kegiatan yang luas. Oleh karena itu, dinamika konflik intrapsikis keluar dari bidang patologis dan masuk ke dalam bidang psikologi umum. Aktivitas mental normal seperti bermimpi, sebagai satu ilustrasi, mengikuti prinsip yang sama seperti aktivitas yang mengarah pada bentuk gejala (symptom) (Freud 1955: vol. 4 dan 5). Mimpi adalah gejala konflik mental, karena mewakili kompromi di antara kekuatan-kekuatan dalam alam bawah sadar, yang secara simultan mendorong menuju pemuasan nafsu sementara juga menghalangi kecenderungan ini. Isi simbolis dari mimpi menyembunyikan konflik itu, tapi juga mengekspresikan semua faktor konflik itu nafsu dan larangan.

Namun meski nafsu berbelok ke dalam, obyeknya tetap penting dalam teori psikoanalitis tentang konflik, disebabkan pengamatan bahwa seorang individu menahan image obyek yang sudah terinternalisasi, sementara tampak melepaskan melepaskan ini dalam bentuk nyatanya. Bahkan dalam kasus gangguan psikologis paling berat yaitu sakit gila, seseorang boleh jadi tampak tak tertarik pada alam obyek, tapi konflik internal itu berkembang sekitar representasi obyek-obyek ini, baik yang berbentuk kedermawanan dan kedengkian.

Formalisasi model konflik itu mengarah pada hipotesis struktural yang membagi tiga bagian struktur psikis: id, superego dan ego. Id adalah bagian dari pikiran yang membangkitkan nafsu, baik dorongan maupun agresif. Superego adalah perantara yang melibatkan kata hati (meski tidak akan) dan idealnya (yang harus dicapai seseorang agar merasa dicintai dan punya harga diri). Ego adalah alat eksekutif yang terdiri dari bermacam fungsi yang bersama-sama menengahi konflik di antara id, superego dan akhirnya, realitas.

Beberapa masalah muncul dalam aplikasi hipotesis struktural itu, tentu saja, sejalan dengan hipotesis-hipotesis superordinat ini dalam teori psikoanalitis. Hipotesis itu, yang merupakan bagian dari metapsikologi psikoanalisa menghadapi poses sejumlah masalah dalam penerapannya, baik dalam riset ilmiah yang ketat maupun dalam kerja klinis. Beberapa masalah dapat dihilangkan dengan mudah, seperti penggunaan hipotesis struktural yang merujuk pada perantara ‘nyata’ pikiran. Id, superego dan ego adalah konsep-konsep abstrak, sebuah upaya untuk menyusun teori konflik. Ketiganya itu bukanlah entitas atomik, tidak pula bernilai spesial sebagai pembimbing ke fenomenologi konflik. Tapi hipotesis struktural dan konsep id, superego dan ego menyajikan sejumlah tujuan intelektual dalam teori psikoanalisa. Salah satu contoh adalah konsep penolakan, atau yang mencegah isi bawah sadar kelihatan langsung dalam image dan pikiran yang sadar. Kerja psikoanalisa mengindikasikan bahwa tiruan kehidupan jiwa bawah sadar ada di mana-mana, dalam kesadaran, tapi dalam bentuk tak langsung dan tersamar seperti itu (kecuali dalam kasus pikiran mengawang dan halusinasi) merentang tentang ide tiruan bawah sadar yang mempengaruhi pikiran dan aktivitas yang sadar. Hipotesa struktural menyusun observasi dan kesimpulan Freud tentang penolakan sebagai bagian dari kehidupan alam bawah sadar (dari halangan kesadaran) untuk bertahan sebagai sebuah fungsi tak sadar dari ego untuk membatasi bahaya yang terjadi ketika tekanan yang beraksi pada dorongan hati menjadi besar (Freud 1955: vol. 20).

Masalah lain pada hipotesis struktural psiko-analisa berasal dari konsekuensi logis menggunakan hipotesis ini untuk membedakan dan menerangkan bentuk serta fungsi patologi yang beragam. Konflik psikologis menunjukkan secara tak langsung bahwa struktur psikis berada di dalam diri individu, sebagai contoh, perintah moral tak lagi bergantung pada orang tua. Seorang individu punya kesadaran yang memberi beberapa ukuran keterasingan dan kesalahan manakala nafsu bawah sadar mencari pemuasan.

Teori klasik psikoanalisa menganggap bahwa konflik dan struktur psikis terbentuk selama tahap akhir perkembangan sifat kanak-kanak, yang disebut tingkat Oedipai (Freud 1955: vol. 7). Dalam melepaskan nafsu yang menyimpang, seorang anak yang berumur kira-kira 5 tahun mengenal obyek-obyek itu, dan karenanya tum-buh dari masa bayi dengan struktur psikis pengendalian diri yang pas. Patologi (ilmu penyakit) berhubungan dengan konflik pada struktur psikis, pemindahan sakit syaraf, termasuk histeris, godaan pikiran dan sakit-sakit yang berkaitan dengan syaraf lainnya. Patologi ini dinamakan pemindahan sakit syaraf karena itu tak merusak kemampuan pasien, meski sakit dan menderita, untuk menyayangi obyek. Meskipun rasa sayang secara neurotis berpangkal dalam itu, si pasien mengalihkan keinginan keras yang menyimpang, dari orang tua ke orang lain. Dalam pemindahan sakit syaraf itu, hubungan ke obyek tak secara total ditentukan oleh terus-menerusnya gangguan neurotik. Misalnya, seseorang mungkin bisa berhubungan baik dengan orang lain kecuali kalau orang itu tak mampu berhubungan seksual sebagai akibat hambatan neurotik.

Investigasi psikoanalitis, khususnya pada periode pasca Perang Dunia Kedua, telah makin menyangsikan beberapa formulasi dari hipotesis struktural dan tiruannya dalam penjelasan patologi (ilmu-ilmu penyakit). Misalnya, dapatkah seseorang membedakan konflik struktural dengan jelas dari masalah sebelumnya yang berasal dari kekurangan di masa kanak-kanak? Penelitian pada kondisi yang tidak tentu (akibat dari kurang berkembang) atau gangguan narsistik (kondisi terganggunya rasa harga diri dan kesadaran diri yang menyakitkan), memberi kesan bahwa internalisasi dini pada suatu obyek sangat mewarnai identifikasi di masa kemudian, dengan tujuan meminimalkan pengaruh struktur psikologis (lihat Segal 1964). Menurut kritik mereka yang tak sependapat, menangani pasien semacam itu dengan menggunakan teknik-teknik klasik akan terbukti sia-sia. Pada taraf yang lebih teoretis, para pengkritik itu juga memperselisihkan perbedaan antara pemindahan dan gangguan narsistis akibat pentingnya obyek pada kategori gangguan narsistis itu. Menggarisbawahi kontroversi di dalam profesi psikoanalisa, ada perbedaan-perbedaan yang lebih fundamental dibanding satu atau lebih hipotesa terbuka untuk dipertanyakan. Akhirnya, segala upaya ilmiah yang keras untuk menyangkal hipotesis dan untuk memodifikasi teori itu merupakan hasil observasi dan eksperimen baru.

Hampir sedari lahirnya, psikoanalisa telah menjadi pusat perdebatan di mana para penen-tangnya, lebih menyibukkan diri dalam saling uji pandangan mereka yang kontradiktif, daripada memperselisihkan hipotesa-hipotesa yang bersifat khusus. Seperti sudah diindikasikan sejak semula, ketegangan yang melekat dalam observasi dan penjelasan psikoanalitis, meliputi ruang lingkup ilmu itu. Dialektika kuantitas dan kualitas, dari mekanika dan makna, mewarnai evaluasi dan praktek dalam lingkupnya itu. Ketegangan meluas ke dalam polarisasi yang lebih abstrak: umat manusia, antara ilmu pengetahuan dan humanisme, pandangan tragis dan utopia umat manusia, dan konservatif melawan pandangan imperialistik tentang tempat psikoanalisa dalam memperbaiki hubungan antar manusia.

Freud mengingatkan titik pandang yang terlepas termasuk dalam posisi kuantitatif dan kualitatif dalam psikoanalisa. Saat ia menjadi artis dalam observasinya mengenai patologi dan fungsi mental (lihat misalnya, cerita indah Freud tentang sakit gangguan pikiran obsessional illness dalam ‘The Rat Man’ (Freudn 1955: vol. 10) – Freud tak pernah meninggalkan teori insting dan dasarnya dalam biologi. Sedari awal, perselisihan dalam psikoanalisa disebabkan oleh upaya menyusun teori-teori patologi dan terapi mendekati sebuah dimensi tunggal, apa yang disebut Freud kesalahan pars pro toto, atau mengganti sebagian bagi keseluruhan. Jadi dalam psikoanalisa kontemporer, tekanan pada kekurangan perkembangan di atas konflik sruktural muncul sebagai bagian dari perspektif humanistis dan mengarah pada penggunaan para ahli terapi, bukan sebagai obyek dalam sebuah drama pemindahan yang menuntut interpretasi, tapi akan menggunakan sifat kedermawanan untuk mengatasi sifat ingin berbuat jahat yang berasal dari masa lalu, khususnya di awal masa kanak-kanak. Debat dalam psikoanalisa ini memiliki landasan intelektual, dan juga kultural serta filosofis yang kuat. Beberapa peneliti menempatkan psikoanalisa tepat di tengah-tengah disiplin interpretif dari ilmu-ilmu alam (Ricoeur 1970). Mereka menghubungkan psikoanalisa dengan hermeneutics, ilmu bahasa dan ilmu sastra sebagai lawan biologi, ilmu kedokteran, psikiatri dan sains. Debat ini juga merambah ke bidang ekonomi dan politik, menyangkut profesi psiko-analitis dan kualifikasi bagi mereka yang akan memasuki praktek profesi ini.

Psikoanalisa bermula sebagai disiplin kedokteran bagi penanganan gangguan syaraf. Ini melanjutkan tradisi pengobatan oleh psikoanalisa klasik dalam penerapan yang lebih luas terhadap sakit gila, kondisi ketidaktentuan dan kondisi narsistik melalui bermacam-macam psikoterapi psikoanalitis. Sebagai hasil metode investigasi, observasi dan teori-teori ini, psikoanalisa telah menjadi bagian dari budaya umum. Penerapan psikoanalisa dalam kritik sastra, sejarah, ilmu-ilmu sosial dan politik, hukum dan bisnis, adalah bukti masuknya ini dalam kultur umum. Penulis, artis dan kritikus, saat memperdebatkan penggunaan psikoanalisa telah memahami teori dan eksperimen dengan aplikasinya pada kesenian. Freud telah melahirkan terapi dan teori, dan mungkin juga pandangan atas dunia dan kondisi manusia.

Incoming search terms:

  • pengertian psikoanalisis
  • psikoanalisa
  • pengertian psikoanalisa
  • psikoanalisa adalah
  • pengertian teori psikoanalisis
  • psikoanalisis adalah
  • Apa itu psikoanalisis
  • psiko analisa
  • definisi psikoanalisis
  • pengertian teori psikoanalisa

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian psikoanalisis
  • psikoanalisa
  • pengertian psikoanalisa
  • psikoanalisa adalah
  • pengertian teori psikoanalisis
  • psikoanalisis adalah
  • Apa itu psikoanalisis
  • psiko analisa
  • definisi psikoanalisis
  • pengertian teori psikoanalisa