physiological psychology (psikologi fisiologis)

Sebelum tahun 1879, ketika Wundt mendirikan laboratorium psikologinya di Jerman dan mengawali masa kontemporer psikologi ilmiah sebagai disiplin ilmu tersendiri, isu-isu psikologi telah diteliti dalam kerangka fisiologi oleh para ahli fisiologi sensorik seperti Helmholtz. Bahkan Wundt dan para pengikutnya dari Eropa dan Amerika menganggap dirinya sebagai ahli psikologi fisiologis, di mana mereka memusatkan perhatiannya untuk menjelaskan hubungan antara otak dan pikiran manusia. Namun, psikologi fisiologis modern sangat mengandalkan penerapan tindakan fisiologis dan manipulasi binatang (khususnya binatang yang dijadikan model bagi psikologi manusia). Demi alasan ini, Thompson (1967) melacak asal-usul subyek sebagai sebuah sub-disiplin fisiologi yang tersendiri pada publikasi Shepherd Franz tahun 1920 mengenai efek luka di cuping depan (frontal lobe) terhadap fungsi-fungsi pembelajaran sederhana binatang, yang ditemukan oleh Thorndike pada awal abad ini.

Kemudian subyek ini dikenal sebagai sebuah kajian tentang bagaimana otak dan sistem endocrine mengendalikan perilaku-perilaku yang terkait dengan persepsi, emosi, motivasi, perhatian, pikiran, bahasa, pelajaran dan ingatan. Setelah selama bertahun-tahun mendapat pengaruh behaviourisme Watsonian, kajian ini kehilangan semangat untuk memformulasikan proses-proses psikologi yang menjembatani perilaku yang dapat diamati. Hebb (1980) mengritik sikap acuh yang muncul dari ketidakpercayaan terhadap introspeksi sebagai jalan pengetahuan menuju alam pikir. Hebb menyatakan bahwa gerak kejiwaan (mental operation) pada dasarnya tidak sadar dan dapat diperkirakan hanya melalui pola perilaku dan aktivitas otak terkait. Karena perkiraan tersebut sulit dilakukan, muncul kecenderungan yang saling bertentangan di antara para ahli psikologi fisiologis di mana mereka tidak membuat dalil-dalil teoretis, tapi menjelaskan hubungan otak-pikiran dalam kerangka konsep-konsep psikologi intuitif yang sangat umum, seperti perhatian (attention). Demi berhasilnya usaha ini dibutuhkan teknologi yang memadai untuk mempengaruhi dan mengukur proses-proses otak, dan juga metode untuk mengukur dan menafsirkan perilaku. Perkembangan menarik dalam teknik eksplorasi proses otak sejak tahun 1950-an ternyata belum sejalan dengan penyempurnaan dalam upaya menganalisis proses perilaku, kendati mungkin ini bisa terjadi karena riset kepintaran buatan (artificial intelligence) memiliki dampak yang makin besar.

Isu-isu penting dari psikologi fisiologis terletak pada sejauh mana kendali fungsi-fungsi psikologi dilokalisasi dalam otak, bagaimana fungsi-fungsi ini dijembatani, dan bagaimana kendali ini muncul dalam phylogeny dan ontogeny. Isu pertama dan kedua telah menjadi polemik sejak akhir abad ke- 18 dengan hadirnya phrenology, lebih dari seabad sebelum Franz memulai penelitiannya. Para ahli phrenology percaya bahwa kendali terhadap fungsi psikologi kompleks, seperti philoprogenitiveness, dilokalisasi secara ketat dalam otak dan bahwa derajat perkembangannya ditandai oleh benjolan pada tengkorak. Beberapa peneliti abad ke-I9, seperti Flourens (yang membedah otak burung dara untuk melihat fungsi-fungsi yang hilang), mengambil posisi holistik dan menegaskan bahwa kendali fungsional didistribusikan, tidak dilokalisir. Peneliti lain, seperti ahli saraf Broca dan Wernicke, yang menemukan luka khusus cortical sebelah kiri menyebabkan kerusakan verbal tertentu. Mereka juga mengatakan bahwa fungsi-fungsi kompleks dikontrol oleh wilayah otak kecil. Kontroversi berlanjut di abad ke-20 ketika Kari Lashley memformulasikan suatu pandangan holistik yang sangat berpengaruh berdasarkan kajian mengenai efek luka terhadap pembelajaran tikus dibatasi oleh prinsip-prinsipnya tentang aksi masa (efisiensi fungsi tertentu tergantung pada jumlah selaput otak yang tersedia) dan equipotentiability (wilayah-wilayah otak yang terdistribusi luas memiliki fungsi yang ekuivalen.

Pertentangan yang berkepanjangan antara paham holistik dan lokalisasi disebabkan sebagian oleh analisis yang tidak memadai tentang karakteristik fungsi-fungsi psikologi kompleks, seperti ingatan, dan sebagian lagi disebabkan teknik- teknik fisiologi yang jauh dari sempurna pada masa sebelum Perang Dunia D. Luria (1973) mengindikasikan bahwa tujuan-tujuan psikologi, seperti mengingat, bisa dicapai melalui beberapa jalur, setiap jalur menggunakan sub-proses yang berbeda. Penutupan jalur yang lebih disukai (preferred route) akibat luka tertentu di otak bisa jadi menyebabkan ditempuhnya jalur yang kurang disukai (less preferred route) dan digunakannya berbagai sub-proses yang berbeda (yang dica-dangkan). Masalah intinya adalah bagaimana otak mengendalikan berbagai sub-proses terse-but. Analisis komponen terhadap perilaku kompleks dengan mengurai atom-atom fungsionalnya sebenarnya tidak mempunyai kriteria dasar yang universal. Ketidakpastian ini menyebabkan munculnya berbagai pandangan tentang alasan mengapa pemulihan parsial bisa terjadi setelah terjadi kerusakan otak. Beberapa ahli menyatakan bahwa selalu terdapat ketidakberdayaan fungsional sehingga perilaku yang mengalami pemulihan akan beroperasi secara berbeda, sementara sebagian ahli lain menyatakan bahwa fungsi-fungsi mengalami pemulihan dengan sendirinya dan didorong oleh selaput otak yang terus bertahan (Stein et al. 1983). Ketidakpastian ini juga menjelaskan tahap awal dari pemahaman tiga isu besar lainnya. Pertama, hal ini berhubungan dengan mengapa luka baru kadangkala memberikan efek yang berlainan dengan luka lama. Contohnya, fakta bahwa luka baru di belahan otak kiri mempunyai tingkat gangguan perilaku verbal yang jauh lebih besar dibandingkan luka lama apakah berarti bahwa proses tertentu belum dikembalikan ke otak belahan kiri tersebut, atau bahwa perilaku verbal pada masa awal kehidupan dicapai secara berbeda? Kedua, hal itu berkaitan dengan masalah seberapa jauh perbedaan organisasi otak manusia satu dengan lainnya. Misalnya, Ojemann (1983) melaporkan bahwa kemampuan menyebutkan nama-nama benda pada sebagian individu terganggu oleh rangsangan elektrik terhadap wilayah-wilayah cortical. Apakah sub-proses mereka berada di lokasi yang berbeda? Ataukah mereka melakukan penyebutan nama-nama itu dengan cara berbeda-beda? Ketiga, pertanyaan yang sama untuk persoalan terakhir, yaitu perbandingan antar spesies. Apakah otak spesies satu dengan lainnya mempunyai perbedaan yang sangat mencolok, yang sama- sama dapat melakukan tugas-tugas kompleks, yang melakukan tugas-tugas tersebut dengan menggunakan sistem sub-proses tersendiri?

Namun, penggunaan teknik-teknik fisiologi yang telah disempurnakan telah membuktikan bahwa fungsi-fungsi lebih terlokalisasi daripada yang diyakini Lashley. Saat ini otak dilihat sebagai satu perangkat modul yang saling terkait, yang masing-masing bertindak seperti komputer dengan tujuan tertentu. Ringkasnya, neocortex terdiri dari suatu mosaik modul fungsional, yang memproses aspek-aspek informasi sensorik secara serial dan paralel sehingga maknanya dapat dicerna dan representasi-representasi yang renggang dapat dibangun melalui integrasi cross-modal. Informasi ini terutama disimpan di neocortex bila sistem sub-cortial lanjutan diaktifkan. Selanjutnya neocorticaldan modul sub-cortical memprogram perilaku yang layak, berdasarkan analisis sensor serta sebuah determinasi (sebagian besar dilakukan sub-cortical} signifikansi informasi motivasional.

Bagian-bagian detil dari kerangka ini telah lepas dari aplikasi teknik-teknik fisiologi .Teknik- teknik ini sekarang sangat canggih. Luka pada binatang dapat ditemukan dan diidentifikasi dengan tepat, dan luka pada manusia akibat kecelakaan sekarang dapat dilokalisasi secara lebih baik dalam keadaan sadar dengan menggunakan computed axial tomography, cerebral blood flow measurement dan positron-emission computed tomo graphy. Teknik yang terakhir memungkinkan melakukan pengukuran terhadap gangguan-akibat- luka pada selaput yang tampak sehat. Masalah utama dari kajian tentang luka tersebut adalah: suatu fungsi bisa tidak berdaya karena ia dikendalikan oleh selaput yang rusak atau karena kerusakan menyebabkan selaput yang sehat berlaku tidak normal. Kesulitan ini dapat diatasi hanya dengan penggunaan teknik-teknik tambahan seperti rangsangan elektris atau kimia terhadap selaput, pencatatan electrophysiological (recording electrophysiological), aktivitas metabolik atau biokimia terhadap berbagai neuron pada saat binatang (atau manusia) diberikan tugas-tugas khusus. Jika penggunaan teknik ini memberikan implikasi-implikasi yang konsisten dan utuh, maka dapat dilakukan interpretasi terhadap fungsi dari suatu wilayah otak tertentu. Keyakinan terhadap interpretasi semacam itu dapat diperkuat melalui penyempurnaan pengetahuan tentang anatomi mikro dan berbagai hubungan otak. Teknik-teknik modern telah menyebabkan gelombang besar dalam pengetahuan ini, dan meningkatkan harapan bahwa pada peralihan abad ini akan memungkinkan untuk membuat simulasi komputer yang rinci tentang bagaimana bentuk aktivitas dalam wilayah-wilayah otak yang tergambar jelas menghasilkan berbagai kemampuan psikologi yang kompleks, seperti persepsi visual tentang sebuah obyek.

Incoming search terms:

  • pengertian fisiologis
  • pengertian fisiologis dan psikologis
  • apa pengertian kapabilitas fisiologi dan psikologi
  • arti fisiologis
  • psikologi fisiologi
  • Fisiologis
  • pengertian fisiologis menurut para ahli
  • apa itu fisiologis
  • psikologi fisiologis
  • arti fisiologis dan psikologis

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian fisiologis
  • pengertian fisiologis dan psikologis
  • apa pengertian kapabilitas fisiologi dan psikologi
  • arti fisiologis
  • psikologi fisiologi
  • Fisiologis
  • pengertian fisiologis menurut para ahli
  • apa itu fisiologis
  • psikologi fisiologis
  • arti fisiologis dan psikologis