psychology (psikologi)

Psikologi tidak mempunyai definisi resmi, terutama di Inggris. Meskipun setiap orang dapat menyebut dirinya sebagai psikolog, kebanyakan dari mereka menghubungkan istilah ini dengan lulusan SI atau yang setara dengan sarjana, dan ada yang akan berpikir lebih jauh tentang kualifikasi dan atau pengalaman pada wilayah khusus. Mereka menganggap psikologi sebagai studi tentang perilaku dan pengalaman manusia yang kurang lebih bersifat ilmiah. Mereka membedakannya dengan psikiatri, yaitu orang dengan kualitas medis khusus di bidang mental dan tingkah laku aneh. Psikologi juga dibedakan secara tajam dengan psikoanalisis yaitu orang yang menerapkan metode perawatan khusus dari Freud (dan dari metode-metode yang serupa). Meskipun ada perbedaan konseptual namun dalam prakteknya ada kesimpangsiuran. Psikolog berhubungan dengan masalah yang juga dihadapi oleh psikiater dan keduanya mungkin sama-sama menggunakan metodologi psikoanalis. Akan tetapi psikolog mempunyai jangkauan yang lebih luas. Karena itu yang akan dibahas di sini adalah psikologi dalam konteks akademik.

Ungkapan bahwa ‘psikologi telah lama ada tetapi sejarahnya hanya singkat’ dibuat oleh Herman Etbinghause (1908) dan sejak itu ucapan ini sering dikutip. Sebuah usaha studi ilmiah yang sistematis terhadap psikologi, sebagaimana yang dilakukan pada cabang ilmu lainnya, dapat dikatakan telah muncul pada pertengahan abad 19. Laboratorium psikologi yang pertama adalah milik Willhelm Wundt (1879) di Leipzig, sedangkan pengukuran psikometrik diawali oleh Francis Galton dalam buku Hereditary Genius (1869). Namun demikian masalah yang dihadapi psikolog barangkali sama banyaknya dengan jumlah ras manusia. Semua masyarakat yang kita kenal telah berusaha menangani masalah-masalah tersebut, dengan berbagai kecanggihannya. Baru-baru ini ada yang tertarik pada “psikologi pribumi,” baik di dalam budaya kita sendiri maupun budaya lainnya.

Istilah itu sendiri, bagaimanapun juga, secara etnosentris digunakan untuk psikologi “kita.”. Seperti semua istilah lainnya (sejarah, kimia), istilah ini juga mengacu pada bidang yang sangat berbeda. Tiga di antaranya saya bedakan menjadi bidang disiplin, profesi dan subyek. Disiplin berarti suatu serangkaian masalah yang dihubungkan serta metode dan teori yang dibuat untuk memecahkannya. Proses/berarti sekelompok orang yang terlibat dalam pekerjaan, entah itu sebagai peneliti, guru atau praktisi; mereka mungkin terorganisasi dan mungkin juga tidak. Subyek berarti pemilihan bahan dan sumber untuk pengajaran dan penyebaran untuk umum. Semua ini dapat dianalisa lebih jauh. Jadi antara disiplin psikologi, problem dan investigasinya mempunyai hubungan yang refleksif. Apa yang dilakukan dan dikatakan psikolog adalah bagian dari masalah subyek mereka dan berperan untuk mengubah keadaan. Pada dasarnya, dalam satu pengertian, semua penjelasan itu sendiri adalah sebuah penegasan; teori tentang tingkah laku manusia adalah bagian dari tingkah laku mereka sendiri yang perlu disesuaikan dalam teori. Dengan demikian tidak ada teori yang lengkap. Pada umumnya ada sedikit keragu-raguan bahwa tingkah laku manusia (Barat) masa sekarang tidak lagi sama dengan masa pertengahan 1890-an dan ini sekurang-kurangnya mengacu pada dampak kerja psikologi (dan pekerjaan yang berkaitan; mungkin juga, khususnya, psikoanalis dan psikometri).

Psikologi pada gilirannya akan berubah karena adanya perubahan tingkah laku; kini manusia mampu, misalnya, menerbangkan pesawat tempur atau membuat program komputer yang tidak ada pada abad ke-19. Tidak ada lagi banyak frustasi dari para penggemar komputer ketimbang mereka yang mencari mesin. Tanpa hardware dan software tak ada korespondensi aktivitas mental atau, jika ada, tidak akan ada kemampuan tanpa keahlian.

Semua disiplin yang berhubungan dengan tingkah laku manusia dalam ruang lingkup tertentu selalu tumpang tindih tapi masing-masing bisa dikatakan mempunyai suatu fokus terhadap karakteristik kepentingan dan metodologi. Fokus sejarah adalah masa lalu; tentang pengobatan, penyakit, kesehatan atau keduanya. Fokus psikologi bisa dianggap sebagai tingkah laku dan pengalaman individu. Tujuan umumnya, yang bervariasi, bisa dipahami, dijelaskan, diperkirakan dan dikontrol. Beberapa pendekatan psikologi lebih menekankan para pemahaman empatik dan intuitif, tetapi mayoritas lebih berusaha menyerupai cabang ilmu lainnya yang berdasarkan pembentukan hipotesa yang dapat diuji dengan data empiris obyektif, dan idealnya dengan eksperimen di mana variabel relevannya dapat dimanipulasi dan dikontrol. Ilmu tentang manusia lainnya seperti sejarah dan antropologi jarang yang dapat diuji dengan eksperimen. Bahkan dalam psikologi eksperimen itu tidak mungkin dilakukan. Ada banyak variabel yang tidak dapat dimanipulasi karena alasan etis dan praktis. Beberapa investigasi harus menggunakan variasi kejadian alam misalnya pada contoh anak kembar atau perbedaan budaya dalam mengasuh anak; yang lainnya lagi mengandalkan korelasi antara variabel yang dapat diamati; yang lainnya mungkin sebagian besar berupa deskripsi. Beberapa informasi didapat hanya dengan introspeksi misalnya setelah orang-orang mengatakan apa yang ia pikirkan. Namun demikian metode itu dapat dipakai untuk mengumpulkan data yang kurang lebih sistematis dan obyektif. Kebanyakan investigasi berusaha menggunakan analisis deskripsi dan statistik yang cukup canggih agar dipercaya, entah itu nantinya hasilnya akan sangat berarti atau hanya bersifat sementara. Inilah sesungguhnya perbedaan pokok pendekatan psikologi dari cara tradisional yang menangani masalah perilaku manusia, yang sebagian besar berdasar pada nalar namun juga sering berdasarkan konvensi, praduga, kabar, politik dan lain-lain. Gambaran sifat dari psikologi bisa berarti bahwa keutuhan obyektivitas adalah tidak mungkin, tetapi beberapa ahli menyatakan ini untuk cabang ilmu yang lain: hal ini tidak berarti bahwa obyektivitas yang lebih luas tidak dapat dicari.

Ada banyak cara berpikir, atau bisa dikatakan tidak terbatas, tentang tingkah laku manusia, dan psikologi cenderung mendominasi dengan satu mode berpikir kendati tidak secara eksklusif dan tiap kasus bisa melebar variasinya. Mode dominan yang pertama muncul pada abad ke-20 (1910- 1960) adalah aliran behavioris. Pembahasannya dimulai dari pandangan yang sederhana bahwa tingkah laku dapat diteliti, (dan karena itu) dapat dirumuskan atau dibuat teori, sampai kepada analisis eksperimental yang lebih canggih terhadap perkembangan tingkah laku yang dilakukan oleh B. F. Skinner dan pengikutnya. Sejak tahun 1950-an mode “kognitif” menjadi dominan. Mode ini menekankan usaha membentuk model dari apa yang sedang terjadi di dalam pikiran, dengan input dari kerja kecerdasan buatan. Tetapi mode yang bisa disebut”kultural” muncul dengan cepat di tahun 1990-an. Mode tersebut menekankan tentang bagaimana tingkah laku manusia tidak hanya bisa dipengaruhi tetapi secara simbolis juga diciptakan oleh konteks sosial. Fokusnya pada individu sebagai aspek dari sesuatu keseluruhan yang kompleks.

Yang termasuk di dalam profesi psikologi bisa dikatakan adalah semua orang yang berhubungan langsung dengan problem tingkah laku individu dan pengalamannya, entah itu dengan mengajar, meneliti atau praktek. Kebanyakan negara industri telah mengembangkan sistem perizinan profesi psikolog, umumnya berdasar pada gelar yang diakui ditambah dengan kualifikasi yang lebih spesifik dan pengalaman. Dalam beberapa kasus, hal ini menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, sedang dalam kasus lainnya menjadi tanggung jawab organisasi profesi. Bentuk cabang kerja profesi yang diakui saat ini berupa klinik, pendidikan, pekerjaan, konseling, kriminologi, pengajaran psikologi dan penelitian. Perbedaan di antaranya sangat penting bagi para praktisi tetapi bagi peneliti mungkin sulit mengikuti salah satu diantara mereka. Contohnya, seorang psikolog mungkin melakukan tes intelegensi atau kepribadian dan mendiskusikannya dengan klien, atau merancang dan melakukan investigasi eksperimental, atau mengajar murid-muridnya. Sebaliknya, dua orang, bahkan dalam satu cabang yang sama, mungkin melakukan tugas harian yang lain sama sekali. Perbedaan lebih pada konteks ketimbang tujuan utama pekerjaan. Jadi klinik psikolog pada umumnya berasosiasi dengan rumah sakit atau badan kesehatan, meski beberapa diantaranya menjalankan praktik pribadi tersendiri, yang berhubungan dengan mental dan tingkah laku tidak normal; psikolog yang bekerja di perusahaan industri terutama sekali berhubungan dengan masalah-masalah “biasa” dari pegawai, kondisi pekerjaan, ergonomi dan lain-lain; sedang guru dalam bidang ini juga ada di sekolah, akademi dan perguruan tinggi. Masih banyak wilayah profesi ini seperti penelitian pasar yang sedikit berbeda definisi dan aturannya.

Gambaran yang lebih abstrak mengenai apa yang dilakukan psikolog, menurut filosof Richard Peters (1953) adalah mereka biasanya berhubungan dengan satu atau dari empat pertanyaan. Pertama adalah pertanyaan teori yaitu pertanyaan ilmiah tentang apakah masalahnya, apakah yang benar, dibawah kondisi apa dan mengapa. Kedua adalah pertanyaan teknologi: bagaimana agar tujuan praktis didapat apa pun tingkat ilmu pengetahuannya. Yang ketiga adalah pertanyaan tentang kebijakan, etika dan moral. Hampir semua psikolog mengangkat persoalan baik itu yang berhubungan dengan individu maupun akibatnya terhadap masyarakat dalam konteks yang lebih luas. Keempat adalah pertanyaan filsafat, termasuk di antaranya adalah jenis aktivitas apakah psikologi itu sendiri dan asumsi apa yang mendasari teori dan metodenya. Banyak problem praktis mencakup keempat pertanyaan itu. Contohnya, apakah hukuman fisik bisa diterapkan pada anak-anak (masih diperdebatkan di Inggris). Bagaimana pembuktian ilmiah didapat merupakan teka-teki dan bagaimana cara menunjukkan bahwa hukuman semacam itu bisa berlaku atau tidak; di sini jelas melibatkan masalah etika, dan mungkin juga melibatkan sudut pandang kemanusiaan kita, yaitu apakah hal ini baik, buruk, ataukah normal secara intrinsik.

Pada tingkat yang lain seseorang dapat mengatakan bahwa psikolog pada umumnya berhubungan dengan salah satu dari empat aktivitas atau beberapa kombinasi dari keempatnya. Pertama teoretisasi yaitu mencoba memahami keadaan dari pengetahuan pada saat tertentu. Kedua adalah penelitian empiris di bawah kondisi yang kurang lebih terkendali, dan biasanya dengan melakukan eksperimen. Ketiga adalah psikometrik yaitu menilai perbedaan dan persamaan manusia menggunakan instrumen standar (tes). Keempat adalah bersifat klinis yaitu membantu orang bermasalah tanpa harus menyatakan bahwa mereka adalah pathologis. Sekali lagi dalam praktek ini semua sering tumpang tindih. Sebuah tes psikometrik bisa digunakan pada beberapa eksperimen atau diagnosa masalah. Eksperimen digunakan untuk menguji teori. Tetapi secara konseptual, dan pada level historis, pendekatannya berbeda pada subyek persoalan yang sama, yaitu tingkah laku manusia.

Beberapa pakar utama historis dari psikologi dijumpai di Jerman, Perancis, Inggris dan Rusia, tapi sejak perang dunia pertama psikologi didominasi oleh Amerika dalam jumlah dan pengaruh, meski sekarang mulai terjadi pemulihan keseimbangan. Ketidakseimbangan lain dalam psikologi yang semakin meningkat adalah bahwa psikologi sebagai profesi cenderung hanya untuk perempuan. Mahasiswa psikologi di Eropa dan Amerika 80 persen adalah perempuan. Psikologi dipandang sebagai bidang ‘perempuan,’ ketika perempuan yang masuk ke pendidikan tinggi psikologi melebihi laki-laki (di Inggris tahun 1993). Pandangan bahwa psikologi hanya cocok bagi salah satu jenis kelamin tampaknya sudah terbentuk sejak masa remaja, kendati sulit untuk dipahami. Perbedaan utamanya tampaknya dihubungkan dengan ide bahwa bidang dari pekerjaan itu ‘berorientasi benda’ atau ‘berorientasi orang.’

Subyek yang saya maksudkan tidak hanya mengacu pada pengajaran tetapi juga penye-baran dalam pengertian yang lebih luas misalnya melalui buku-buku dan jurnal ilmiah. Tidak ada kesepakatan mengenai taksonomi psikologi, mungkin karena sifat relatifnya, namun pengelompokan baru dari subyek ini terus-menerus muncul. Bagaimanapun juga, sebagaimana yang dikenal dalan texbook, psikologi mencakup sekurang-kurangnya bidang-bidang berikut ini:

1. Basis biologis dari tingkah laku genetik, otak dan sistem syaraf, pikiran, sistem hormon;

2. proses kognitif persepsi, pembelajaran, memori, pikiran, bahasa;

3. Proses sosial interaksi antara dua orang atau lebih, misalnya orang tua dan anak, kelompok, media massa,

4. Emosi dan motivasi;

5. Perbedaan individu misalnya kemampuan intelektual, kepribadian;

6. Mental dan tingkah laku abnormal;

7. Perkembangan dari bayi sampai tua;

8. Konsep teoretis dan isu-isu sejarah dalam psikologi;

9. Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif;

10. Aplikasi psikologi (dengan pelatihan khusus di tingkat pasca sarjana).

 

Pengajaran psikologi untuk tujuan yang lain, seperti kursus-kursus prasarjana, biasanya hanya mengandung pilihan yang lebih sedikit dari menu yang sama. Psikologi kini berkembang sebagai bagian dari perdagangan dan pelatihan profesi, dari penata rambut sampai polisi. Di masa yang lalu tidak diragukan lagi bahwa pengajaran yang diberikan adalah tidak lengkap dan tidak relevan, tapi sekarang perkembangannya sangat banyak. Ketimbang mengajarkan versi psikologi yang begitu banyak, para pengajar bertanya mengenai masalah-masalah apa yang ada dalam pekerjaan tertentu dan apakah ada sesuatu di dalam psikologi yang mungkin dapat digunakan. Hal ini berhubungan dengan fakta bahwa psikologi pelan-pelan naik daun diberbagai negara di mana psikologi diajarkan secara sistematis.

Dalam pandangan ini, dan berdasar perjalanan sejarahnya yang telah berjalan sekitar satu setengah abad, agak mengejutkan bahwa gambaran publik tentang psikologi semakin sama banyak variasinya dengan psikologi itu sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa ‘psikolog dipandang sebagai pembimbing “untuk segala tujuan” dengan cara yang samar-samar walaupun mungkin tidak banyak membantu. Psikologi dianggap sebagai cara yang intuitif dan tidak ilmiah dalam menangani kondisi abnormal, yang pada umumnya dengan merekomendasikan pendekatan yang hangat dan “lembut.” Dalam pandangan yang berlawanan, psikologi seringkali dilihat cara yang masuk akal dan sekaligus tidak masuk akal dan ini tidak efektif dan berbahaya. Psikologi seringkah (tetapi tidak selalu) dicemooh di media massa, di mana kata tersebut dapat saling ditukar dengan psikiater. Toko buku umum sering mempunyai tempat yang diberi label “psikologi” yang sebagian besar berisi psikoanalisa; ini menunjukkan dengan jelas bahwa pengaruh kultural Freud telah mewarnai pandangan populer tentang psikologi yang sebe-narnya sangat berbeda dengan psikoanalisa tersebut. Mungkin yang lebih unik, toko yang sama ini juga menempatkan counter “psikologi populer” yang sebagian besar berisi macam-macam buku pertolongan diri sendiri. Buku-buku ini kadang-kadang mengambil dari penelitian tetapi biasanya mengandalkan cara dari fantasi penulis sendiri yang dipakai berabad-abad yang lalu ditambah dengan hal-hal apa saja yang sedang laku di masyarakat.

Memang ada beberapa bukti meningkatnya popularitas dari apa yang bisa disebut dengan “psikologi semu’ di bawah pikiran “New Age.” Para akademisi telah melaporkan adanya peningkatan jumlah siswa yang tidak hanya menolak penemuan ilmiah tetapi juga menolak pencarian obyektivitas ilmiah. Sikap yang sama juga menjadi karakter dari penganut fundamentalisme agama yang kini semakin meningkat. Bahkan bagi siswa-siswa psikologi aspek-aspek ilmiah ini kurang populer. Pada saat yang sama para penguasa, seperti politikus dan hakim dengan seenaknya mengutarakan masalah dan pengobatan tingkah laku manusia, tapi biasanya bersifat dangkal, dan hanya berharap memperoleh popularitas, tanpa pembuktian, danhanya berdasar prasangka mereka sendiri.

Sikap seperti itu mungkin sebagian berkaitan dengan fakta bahwa psikologi jarang memberikan obat yang sederhana dan bahkan dalam kasus tertentu tidak mampu memberi jawaban yang tegas. Penyebab tingkah laku sangat beragam; psikolog hanya menawarkan metodologi sistematik, obyektivitas, dan penuh kesabaran tapi canggih, yang akan menguraikan masalah-masalah yang pokok. Dalam semua bentuknya, psikologi mengangkat isu kompleks yang tidak mudah diselesaikan. Konsisten dengan sifat reflektif dari disiplin ilmu ini, para psikolog dipusingkan dengan masalah apakah mereka akan terlibat dalam aktivitas yang utuh, dan jika ya, sejauh mana ruang lingkupnya dan apa metodenya. Banyak sekali kebingungan yang muncul dari kegagalan untuk membuat perbedaan yang telah disebutkan tadi. Kebingungan ini lebih banyak berasal dari keinginan untuk memperlakukan label sebagai sesuatu yang nyata menulis seolah-olah karena ada label “psikologi” maka pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan label ini, yang didefinisikan dengan karakteristik yang dangkal, hanya jika kita dapat menemukan apa yang berhubungan itu.

Psikologi biasanya didefinisikan sebagai studi, atau ilmu pengetahuan, tentang tingkah laku, atau pengalaman, atau keduanya. Versi apa pun yang dipakai, argumen selanjutnya adalah apakah semua spesies dimasukkan, ataukah hanya untuk manusia saja? Jika hanya untuk manusia, apakah mencakup semua manusia atau hanya sebagian saja. Dalam praktiknya, sejauh ini sejumlah besar eksperimen psikologi telah dilakukan pada siswa perguruan tinggi Amerika, seolah-olah mereka ini adalah tabung percobaan yang proses dasarnya dapat dipelajari, kendati keseimbangannya sekarang bergeser menuju bidang yang lebih luas.

Seperti dinyatakan di sini bahwa psikologi adalah istilah yang tepat untuk serangkaian ma-salah yang berpusat pada individu. Maka cukup masuk akal jika muncul pertanyaan mengapa William Shakespear, dan bukan anggota keluarganya yang lain, yang menulis naskah drama terkenal, atau mengapa orang tertentu, bukan yang lain, menganiaya anaknya, karena ia mengalami ilusi atau mendapat nilai matematika para ranking 13 di kelas pertama. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kita harus memperhatikan apa yang oleh Fredrick Bartlet disebut dengan istilah “kondisi tingkah laku manusia.” Satu cara untuk memahami kondisi yang beragam ini adalah dengan mempertimbangkan tiga dimensi atau “level,” meskipun metafora topografi semacam ini bisa keliru. Ketiganya adalah psikologi, individu per sedan sosial. Ada beberapa perilaku manusia yang tidak masuk di sini meskipun tidak selalu dalam derajat yang sama. Misalnya, Shakespear pasti memiliki bakat genetik tertentu (baru-baru ini dibuktikan adanya sifat gen unik yang mungkin berada di balik sifat jenius seseorang), berinteraksi dengan pengalaman tertentu untuk mengembangkan keahlian linguistik dan keahlian drama, di mana semuanya ini dalam konteks sosial di mana puisi dan drama dinilai sama dengan nilai uang dan prestise. Ada yang menambahkan bahwa penjelasan lengkap mengenai manusia seharusnya juga membedakan dengan apa yang disebut sebagai dimensi spiritual, dan karenanya tanpa perlu mengimplikasikan sesuatu yang supranatural. Bagaimanapun juga psikologi Barat tidak banyak berbicara tentang masalah ini.

Beberapa ahli teori mencoba menilai perilaku yang konsisten pada level psikologi, individu dan sosial. Freud, misalnya, yang pertama berharap menghasilkan penjelasan tentang syaraf yang akan konsisten dengan pembuktian di dua level yang lain, yang juga dipelajarinya; tapi bidang syaraf pada masa itu tidak banyak membantu untuk tujuan tersebut. Pembahasan oleh H.J. Eysenck tentang kepribadian mencoba menerangkan konsistensi yang serupa: kekuatan kondisi (conditionabilihfi, yang dianggap sebagai atribut sistem syaraf, menentukan tingkat ketertutupan (introversion) atau keterbukaan (extroversion) individu yang pada gilirannya menentukan tingkah laku sosial, seperti memilih menyendiri ketimbang berkelompok atau melakukan kejahatan. Skinner juga berusaha menjelaskan genetika, sejarah pembelajaran individu, dan kepentingan fungsional dari lingkungan sosial.

Psikolog dihadapkan pada masalah pokok, yaitu individu, yang sangat beragam, bahkan individu kembar yang ‘identik’ (monozygot), tidak sepenuhnya persis. Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Salah satu pendekatan menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat secara prinsip berhubungan dengan masalah individu, tapi hanya secara umum. Kita dapat mengatakan dengan akurat berapa pria yang akan mati oleh kanker di usia 60-an, tetapi kita tidak mungkin mencari lebih dari perkiraan probabilitas dalam setiap kasus ini adalah pernyataan yang janggal. Pandangan alternatif yang ekstrim adalah karena tiap individu itu unik. dia hanya bisa dimengerti dengan cara dia sendiri. Namun demikian memahami orang lain harus meliputi sekurang-kurangnya asumsi bahwa ada beberapa persamaan, yang umumnya diterima begitu saja kecuali tingkah laku yang kelihatan ganjil. Ini adalah upaya memahami dengan lebih sistematis, dan karena itu untuk mengenal individu tertentu dengan cara yang lebih umum, yang berada di jantung psikologi yang disebut disiplin. Salah satu strategi meliputi asumsi bahwa, ada beberapa unit atau proses yang mendasari tingkah laku, seperti ahli kimia yang berusaha mereduksi subyek persoalan menjadi elemen-elemen dan ahli fisika yang mereduksi persoalan menjadi materi dan daya. Jadi Wundt dan pengikutnya, misalnya, mencoba menganalisa proses persepsi ke sensasi sederhana, dan versi behavioris yang lebih sederhana berusaha menunjukkan bagaimana perilaku dapat dibuat dengan gerak reflek yang terkondisikan. Freud, sebagai seorang ahli fisiologi dan fisika, juag berpikir serupa, walaupun dengan strategi yang lebih canggih. Tekniknya dalam menggambarkan kesimpulan umum dari analisis yang hanya menggunakan beberapa pasien pilihan sering dikatakan “tidak ilmiah,” tetapi hanya menyerupai metode fisiologi, khususnya pembedahan. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Piaget, seorang ahli biologi. Pendekatan model kognitif berdasar pada asumsi bahwa pikiran dari semua individu itu mirip dalam hal-hal yang penting, sehingga sebuah model secara umum dapat diaplikasikan. Memang asumsi ini mendasari kebanyakan dari apa yang disebut dengan psikologi eksperimen dan juga beberapa pendekatan yang agak berbeda, seperti psikoanalis.

Sebaliknya pendekatan psikometrik bersandar pada pengertian bahwa perilaku manusia hanya dapat dinilai secara relatif, tidak secara absolut. Adalah Galton yang melihat bahwa orang yang “jenius,” misalnya, secara esensial pasti lebih baik dibanding yang lain dalam beberapa aktivitas meskipun mungkin ia tidak melihat secara jelas bahwa ini tergantung siapa yang orang lain tadi. Apa pun penyebab atau mekanisme yang mendasari kejeniusan (atau setiap derajat perilaku lainnya), kinerjanya sendiri harus didefinisikan secara relatif menurut apa yang dapat dilakukan oleh orang lain. Karya-karya yang langsung mengambil dari rintisan Galton adalah tes psikologi yang menggunakan alat instrumen standar untuk populasi tertentu, yaitu, pada kelompok orang yang norma kinerjanya telah terbentuk.

Penggunaan tes untuk menilai individu dan kelompok, baik itu yang berkarakteristik yang sama maupun yang tidak, sebagai referensi telah menimbulkan kontroversi sengit, yang paling terkenal adalah dalam kasus skor dari tes kecerdasan pada bangsa Amerika non-kulit putih. Secara konseptual ada keberatan, seperti apakah pengukuran itu akan menunjukkan bahwa individu terbagi menjadi sejumlah kelompok (tupe) yang relatif berbeda; atau apakah tiap-tiap orang akan memanifestasikan sejumlah karakteristik (ciri); atau apakah perbedaan dapat diringkas dalam sejumlah kecil dimensi dasar, yaitu posisi yang masing-masing akan menggambarkan individu dengan tepat. H.J. Eysenck juga berusaha menunjukkan bahwa pendekatan-pendekatan tersebut sesungguhnya bisa direkonsiliasikan. Dia juga berpendapat bahwa, di satu pihak, banyak nilai kerja eksperimental akan sia-sia jika perbedaan individu tidak diperhitungkan, sedangkan, di pihak lain, adalah mungkin untuk mengidentifikasi mekanisme fisiologi dasar yang mendasari dimensi perbedaan, seperti kecerdasan dan keterbukaan Aetertutupan, sehingga dapat mengintegrasikan pendekatan eksperimental dan psikometrik.

Akan tetapi, meskipun mekanisme fisiologi mungkin sama pada setiap anggota manusia, dalam hal ini yang lebih sulit adalah mempertahankan tingkah lakunya. Bahkan sebuah operasi dasar seperti memori, misalnya, mungkin mempunyai fungsi yang berbeda dalam budaya lisan dan tulis, dan mungkin juga memakai mekanisme yang berbeda. Dalam budaya kita sendiri, yang secara psikologis telah tahu, selama bertahun-tahun diyakini bahwa memori langsung dapat mengingat angka, yaitu kuantitas angka-angka tunggal yang dapat diingat sesudah dipresentasikan secara singkat, kurang lebih berjumlah sekitar tujuh angka, plus atau minus 2, berkisar antara lima sampai dengan sembilan. Sejumlah eksperimen menunjukkan hal ini. Sejak pertengahan 1980-an telah ditunjukkan bahwa dengan teknik yang tepat dan dengan praktek yang intensif, jangkauan ingatan dapat ditingkatkan, dan bahkan sampai tujuh puluh atau delapan puluh. Individu-individu secara terbuka berkompetisi dalam prestasi memori untuk mendapatkan hadiah. Juga studi kultural menunjukkan adanya masyarakat lain yang tidak selalu memanifestasikan pengelompokan tingkah laku yang sama seperti milik kita, misalnya dalam hal “kecerdasan.” Bukannya mereka mengartikan hal yang berbeda sebagai “kecerdasan,” tapi hanya tidak ada persamaan klasifikasi atau dimensi. Perdebatan tentang apakah ada sesuatu yang bisa dikatakan budaya universal telah lama berlangsung di dalam antropologi dan ini tidak akan diuraikan lebih jauh di sini. Dari sudut psikologi penting untuk disadari bahwa tidak bisa diterima begitu saja usulan mahasiswa Amerika untuk mengisolasi sampel tingkah laku yang asli dalam tabung percobaan yang sesuai seperti pada percobaan terhadap tikus putih.

Memang, seperti yang disebutkan di atas, masih diragukan apakah ada suatu subyek masalah psikologi yang dapat dijadikan sampel dengan cara yang persis seperti cabang ilmu pengetahuan alam lainnya. Namun, sebagian besar mode psikologi telah terpengaruh oleh keberhasilan sains tersebut, dan psikolog telah berusaha menerapkan metode yang sama, khususnya eksperimen yang dapat ditiru. Tetapi sesungguhnya tidak ada eksperimen yang dapat ditiru, meskipun pada cabang ilmu sains lainnya perbedaan logika dapat diabaikan. Ini tidak berlaku dalam perilaku: di sini tidak dapat diasumsikan bahwa ada dua kelompok orang yang ekuivalen sebagaimana ada dua elemen kimia yang ekuivalen. Tidak mungkin untuk terus-menerus menggunakan desain arketip yang menangani semua variabel kecuali satu saja, yang kemudian harus dikembangkan agar bisa melihat efeknya. Cara yang lainnya sering- kali berupa metode kompleks dari disain eksperimental dan analisis statistik multi varian. Menarik kesimpulan dari sini, bagaimanapun juaa, selalu berdasar pada konsep statistik probabilitas. Secara esensial, hal ini melibatkan kalkulasi dari kemungkinan bahwa hasil dari urutan tertentu akan terjadi secara kebetulan. Jadi, jika pada satu kali lemparan sebuah koin menunjukkan kepala, maka mustahil mengatakan bahwa hasil ini menyimpang. Jika hal yang sama terjadi dalam, katakanlah, seribu kali berturut-turut, peneliti akan merasa adanya faktor lain selain kebetulan, meskipun, tentu saja, secara logika tidak mungkin. Dalam praktek, eksperimen tidak dapat diulang ratusan atau ribuan kali. Metode statistik memungkinkan perhitungan probabilitas dari hasil tertentu yang diperoleh, tapi tingkat kemungkinan yang dapat diterima adalah sebuah persoalan pemilihan. Hasil secara umum dirasakan dapat diandalkan jika mempunyai suatu probabilitas yang terjadi secara kebetulan sekali dalam dua puluh kali atau lebih tinggi lagi sekali dalam seratus kali.

Kendati hal ini sudah tidak diragukan lagi sebagai suatu dasar awal dari metode tradisional penilaian subyektivitas, masih ada masalah yang lebih jauh. Pertama adalah penerimaan kesimpulan statistik cenderung dipengaruhi oleh daerah penelitian. Mungkin penting untuk mendapatkan probabilitas yang lebih tinggi, jika konsekuensi kesalahan serius. Banyak psikolog enggan menerima pembuktian dari eksperimen extra sensory perception (ESP), bahkan meskipun hasil statistik menunjukkan tingginya keyakinan di bidang lain, karena mereka merasa hal itu tidak masuk akal. Masalah lain adalah bahwa beberapa penelitian (ESP sekali lagi sebagai contoh) menunjukkan hasil yang secara statistik signifikan, tapi hanya ketika jumlah observasi yang dilakukan sangat besar. Mungkin aneh menyimpulkan kalau ada faktor penyebab yang muncul dengan sendirinya. Sekali lagi, hasil yang signifikan secara statistik tidak selalu sama dengan makna secara psikologis. Masalah lain muncul ketika studi selanjutnya menunjukkan hasil yang kontradiktif. Pada umumnya hal ini sebagian berkaitan dengan kesulitan untuk mendapatkan replikasi yang persis; tapi, kemudian, juga sulit melihat bagaimana menarik kesimpulan umum. Suatu metode yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah meta-analisis. Esensi dari metode ini adalah lebih semua penelitian yang cocok yang tersedia dipandang sebagai populasi yang dijadikan sampel dan dinilai secara sistematis ketimbang sekedar menghitung penelitian yang bisa atau yang tidak bisa untuk mendukung kesimpulan tertentu. Kesemuanya ini akan menghasilkan sebuah basis data yang dapat dianalisis secara statistik sebagaimana cara survei data kuatitatif lainnya. Meta analisis ini dapat memberikan bukti yang meyakinkan ketepatan metode psikologi intervensi.

Ada yang akan menyanggah bahwa ujian terakhir dari upaya ilmiah adalah apakah usaha itu bisa bekerja atau tidak. Di atas kriteria-kriteria ini, psikologi, dalam pengertian yang dibahas di sini, muncul sebagai pendekatan yang paling berhasil, atau satu-satunya pendekatan yang memiliki peluang nyata iptuk berhasil, untuk mengatasi berbagai macam masalah praktis, seperti tindakan perawatan terhadap individu yang kacau dan tertekan, metode pengajaran yang lebih baik, meningkatkan kondisi kerja dan seleksi jabatan, menilai keandalan dari kesaksian hukum dan ketepatan metode kriminologi, dan lain-lain. Jika ini semua tampak masih tidak cukup untuk mencari solusi terhadap masalah utama yang membentuk peradaban manusia, hal ini sebagian karena kerumitan masalah itu dan keterlibatannya yang tak terpisahkan dengan semua faktor yang tak dapat dikontrol seperti situasi politik, ekonomi, agama dan lain-lain. Hal ini juga karena jawaban dari beberapa masalah mungkin tidak pernah diberikan oleh sains tetapi akan tetap menjadi persoalan filsafat atau metafisika. Namun betapapun sulit dan terbatasnya usaha itu, pada pemahaman tingkah laku manusia yang lebih obyektif, upaya ini adalah pendekatan yang lebih baik bahkan terhadap masalah-masalah itu ketimbang usaha yang pernah dilakukan berabad-abad yang lalu.