nervous system (sistem saraf)

Sistem saraf sudah lama dikenal sebagai tempat  pengendalian tindakan manusia, tetapi karakteristik peran dan mekanisme yang memungkinkan terjadinya pengendalian ini sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan. Penyelidikannya yang utama bersifat empiris, dan diawali dari dua bidang kajian dalam lingkup psikologi, yaitu psikologi fisiologi dan neuropsikologi manusia.

Psikologi fisiologi (physiological psychology) meneliti pengaruh sistem-sistem umum fisiologi terhadap berbagai aspek fundamental perilaku, dan dipusatkan pada mekanisme-mekanisme afektif dan konatifnya, bukan pada proses-proses kognitifnya. Karena letak mekanisme-mekanisme ini ada dalam bagian-bagian subkortikal pusat kepala, dan dalam sistem-sistem otak bawah, maka mekanisme-mekanisme itu pada umumnya dikaji dalam preparat binatang, dan dimaksudkan untuk mencegah kerusakan parah di daerah-daerah ini pada kasus manusia. Penelitian telah mengidentifikasi tiga macam sistem fungsional utama. Pertama, sistem limbik (lymbic system), yang mencakup gyrus cingulate, wilayah septal, fornix, hippocampus dan amygdala, terlibat dalam evaluasi pengalaman hukuman dan ganjaran. Sistem ini juga memelihara ingatan tentang evaluasi- evaluasi ini, sehingga perilaku dapat menyesuaikan diri dan sesuai dengan konteksnya. Kekerasan dan rasa takut, peredaan, pelarian dan serangan terkait dengan wilayah ini, sebagaimana halnya dengan pengaturan suasana psikologis Kedua, simpul otak depan medial (medial f orebrain bundle), yang berada di sekitar hypothalamus, terlibat dalam berbagai sistem motivasional dasar bagi rasa lapar, haus dan perilaku. Untuk menyederhanakan masalah, berbagai subsistem dalam hypothalamus itulah yang menghidupkan atau mematikan dorongan-dorongan itu, meskipun dalam kenyataannya sistem itu lebih nimit. Berbagai struktur yang terkait tunduk pada berbagai efek ganjaran dan hukuman itu, dan juga melakukan kontrol terhadap sistem hormon-hormon endoktrin (endoctrine system of hormones) dan terhadap sistem saraf otonomik yang terlibat dalam emosi dan kecemasan. Di sinilah terjadi rasa senang dalam otak. Ketiga, sistem dalam otak kecil mengatur kerja respon-respon refleks dan memelihara tingkat kesadaran dan perhatian secara umum dalam sistem saraf lainnya.

Bidang lainnya, yang akhir-akhir sangat populer, adalah neuropsikologi manusia (human neuropsychology). Bidang ini terutama meneliti fungsi-fungsi kognitif, dan pada cortex otak manusia. Asal-usulnya adalah neuropsikologi klinik, yakni kajian terhadap pasien-pasien yang mengalami kerusakan pada sistem saraf sentral. Sejak pertengahan kedua abad ke-I9, para peneliti mengakui bahwa kelainan-kelainan perilaku bisa dikaitkan dengan luka tertentu pada permukaan otak. Kajian mengenai kerusakan-kerusakan otak focal yang berkembang lewat observasi terhadap mereka yang terluka dalam dua Perang Dunia meletakkan dasar neuropsikologi modem sebagai bidang penelitian maupun sebagai disiplin klinik terapan. Model fungsional dari karya ini yang paling banyak digunakan adalah model ekuipotensialitas regional (regional equipotentiality) dalam teori interaksionis (interactionist theory). Teori interaksionis, yang berasal dari Hughlings Jackson dan dikembangkan oleh Luria dan Geschwind, mengemukakan bahwa kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi dibentuk dari sejumlah komponen keterampilan dasar yang relatif terlokalisasi. Model ekuipotensialitas regional berpandangan bahwa iokalisasi hanya berada dalam wilayah-wilayah tertentu saja. Fungsi-fungsi yang lebih tinggi ini tampaknya tidak terlokalisasi secara tuntas dalam otak karena fleksibilitas sistem-sistem kognitif untuk menggerakkan komponen-komponen dasar dalam rangkaian yang kompleks rumit.

Ada tiga pendekatan utama yang digunakan dalam neuropsikologi klinik modern. Pertama, neurologi perilaku (behavioural neurology) berasal dari karya Luria dan paling banyak dipraktekkan di bekas Uni Soviet terfokus pada individu dan bertujuan memberikan analisis dan deskripsi kuantitatif tentang persoalan-persoalan pasien, jadi bukan penilaian kualitatif. Yang menjadi fokus perhatiannya tidak hanya tingkat kinerja (level of performance), tetapi juga cara melaksanakan tugas itu (the way in which a given task is performed). Kedua, suatu pendekatan yang terkenal di Amerika Serikat memusatkan pada serangkaian tes. Dua di antaranya yang belakangan amat penting adalah Halstead-Reitan dan Luria-Nebraska Neuropsychological Batteries. Berbagai rangkaian tes seperti ini, yang disusun berdasarkan sejumlah besar tes-tes baku, berusaha memberikan deskripsi yang sesempurna mungkin mengenai tingkat kinerja pasien dalam seluruh spektrum kemampuan, dan menggunakan metode-metode statistik. Indikator-indikator diagnostiknya biasanya juga merupakan gambaran dari hasil-hasilnya. Ketiga, pendekatan normatif yang terpusat pada individu, suatu pendekatan yang paling umum dipraktekkan di Inggris. Sampai tingkat tertentu pendekatan ini mengandalkan pengukuran psikometrik formal, tetapi juga menekankan perlunya menyesuaikan penilaian dengan karakteristik khusus dari kesulitan pasien. Tujuannya adalah memberikan deskripsi akurat tentang disfungsi yang sedang diteliti. Jadi, tidak sekadar klasifikasi diagnostik sederhana tapi pemahaman dalam kerangka psikologi kognitif. Pendekatan ini lebih efisien dalam hal waktu dan sumber daya, tetapi sangat menuntut keterampilan profesional dan pengetahuan klinik. Tentu saja, berbagai pendekatan ini kurang terlihat menonjol dalam praktek klinis.

Tradisi klinik dalam neuropsikologi sejak pertengahan tahun 1960-an mengalami perkembangan pesat akibat berbagai sumbangan penting dari psikologi eksperimental kognitif. Pemicu perkembangan ini adalah kajian terhadap commissurotomy atau pasien-pasien “otak terbelah” (split-brain) yang dilakukan Sperry dan Gazzaniga pada awal tahun 1960-an. Pasien-pasien ini, yang dua belahan lateral korteksnya telah dipisahkan melalui pembedahan untuk menyembuhkan epilepsi, telah menciptakan kesempatan khusus untuk mengkaji fungsi masing- masing belahan. Kajian ini membuktikan bahwa masing-masing belahan mampu merasakan, belajar dan mengingat dan bahwa terdapat ciri- ciri spesialisasi relatif dari masing-masing belahan: belahan kiri melakukan pembicaraan dan operasi- operasi verbal, simbolis, logis dan serial, sementara belahan sebelah kanan berurusan dengan proses- proses spasial-perseptual, holistik dan paralel. Pasien-pasien otak terbelah juga memberikan peluang untuk dilakukannya penelitian empiris terhadap posisi kesadaran, meskipun kesimpulan-kesimpulan mengenai masalah tersebut masih banyak diperdebatkan. Kendati berbagai temuan riset atas pasien-pasien otak terbelah ini kadang-kadang sulit ditafsirkan itu, hasil karya ini menunjukkan bahwa berbagai metode yang sudah digunakan pada konteks lain dari psikologi eksperimental dapat digunakan untuk meneliti organisasi otak pada manusia dewasa yang normal dan sehat. Ada banyak teks mengenai teknik- teknik ini, dan kebanyakan meskipun tidak semuanya mendukung kesimpulan yang ditarik dari pasien-pasien otak terbelah itu. Ini jelas menunjukkan bahwa belahan otak itu memiliki spesialisasi relatif bagi fungsi kognitif. Meskipun pada masa sebelumnya pernah diyakini bahwa hal ini berkaitan dengan tipe material yang diproses, atau mekanisme respons yang digunakan, namun sekarang muncul pandangan bahwa hakikat proses itu menentukan profisiensi relatif masing-masing belahan. Hingga kini belum ada satu pun spesifikasi mengenai karakteristik pemrosesan relevan yang diterima luas.

Kira-kira sejak tahun 1980, spesialisme neuropsikologi kognitif (cognitive neuropsychol-ogy) }uqa telah mapan karena terjadinya saling tukar posisi yang menguntungkan antara psikologi kognitif dan neuropsikologi manusia. Data yang diperoleh dari berbagai kelemahan pasien-pasien yang memiliki cacat neuropsikologik digunakan untuk memperbaiki dan menguji model-model proses kognitif yang normal yaitu: model-model kognitif yang dikembangkan bersama subyek- subyek normal diterapkan untuk memahami kelemahan kognitif dari mereka yang memiliki luka atau penyakit otak. Pendekatan ini terbukti berhasil dalam meluaskan pemahaman kita tentang fungsi-fungsi intelektual yang lebih tinggi, yang terutama meliputi membaca, menulis, mengeja dan berhitung. Penerapan klinis atas pendekatan ini memungkinkan dilakukannya analisis secara tepat mengenai ketidakmampuan pasien dalam pengertian neuropsikologik dengan mengacu pada berbagai elemen proses yang disfungsional. Senada dengan pendekatan neuropsikologi kognitif adalah perkembangan-perkembangan dalam cognitive neuroscience yang berhasil menciptakan generasi baru model-model fungsi otak, yang mengacu pada model-model neural networks, proses distribusi paralel (parallel distributed processing — PDP), atau model connectionist. Model-model ini, yang terkaitan dengan kemajuan ilmu komputer dan kecerdasan buatan ini, menggunakan konsep matriks konek- sionis yang memiliki kemampuan mempelajari dan mengenali fungsi-fungsi kecerdasaan, dan untuk menanggapi kesalahan fungsi (malfunction), melalui suatu cara yang memberikan analogi tepat tentang fungsi otak manusia. Model-model ini mungkin akan berperan makin besar dalam mendorong pemahaman kita tentang fungsi- fungsi yang lebih tinggi.

Sejalan dengan berbagai perkembangan dalam neuropsikologi eksperimental ini muncul minat baru terhadap proses-proses elektrofisiologi. Teknologi perekaman kemunculan respons rata-rata diungkapkan dan berbagai cara pandang terhadap keberlangsungan aktivitas elektrik otak, menghasilkan kemajuan signifikan dalam mengaitkan berbagai peristiwa kognitif dalam ranah psikologi dengan peristiwa nyata dalam ranah fisiologi. Meskipun mengalami kesulitan dalam hal teknologi dan metodologi, penelitian ini menjanjikan kemampuan mengidentifikasi secara akurat dengan kepastian temporer yang bagus berbagai proses kognitif yang menyertai aktivitas fisiologi otak. Lepas dari adanya riset yang bersifat inventif, janji ini tinggal beberapa langkah lagi untuk dipenuhi. Pada saat bersamaan kajian-kajian psikofisiologi, yang memiliki sejarah panjang, telah berkembang lebih jauh memasuki berbagai korelasi psikologi dari fungsi-fungsi sistem saraf otonom. Sudah ada banyak pembahasan mengenai perubahan-perubahan periferal pada detak jantung, respons elektrodermal, respirasi, tekanan darah dan perubahan-perubahan vaskuler yang membarengi perubahan-perubahan emosi dan suasana hati, namun masalah keberagaman individu dan situasi dan lemahnya keterkaitan antara keadaan mental dan fisiologi akibat respons yang lambat terhadap proses-proses otonom itu mengalami penurunan minat.

Berbagai perkembangan menonjol dalam pencitraan medis atas struktur-struktur otak  melalui pencitraan resonansi magnetik nuklir (nuclear magnetic resonance imaging  – NMRI) dan pencitraan resonansi magnetik (magnetic resonance imaging — MRI) serta pencitraan atas proses-proses fisiologi otak melalui tomografi emisi positron (positron-emission tomography — PET scan) dan tomografi komputasi emisi foton tunggal (single photon emission computed tomography – SPECT), memberi kesempatan-kesempatan baru untuk mengkaji keterkaitan antara struktur-struktur neurologi dengan proses-proses psikologi.

Ada sejumlah masalah fundamental yang menghadang keberhasilan kajian tentang berbagai hubungan otak-perilaku.

Pertama, isu filsafat dari masalah pikiran-tubuh. Kebanyakan ahli saraf (neuroseientist) menerima pandangan monisme psikoneural yang menyatakan bahwa identitas dapat dibentuk di antara peristiwa-peristiwa kejiwaan dan fisiologi. Pandangan ini tentu saja mengandung kekeliruan konseptual. Ada kemungkinan bahwa berbagai perkembangan dalam elektropsikologi mampu memberikan sarana penelitian empiris terhadap masalah ini, yang hingga sekarang masih merupakan bidang kajian para filsuf. Kedua, banyak di antara prosedur neuropsikologi eksperimental dilakukan dengan menarik kesimpulan dari jadi, bukan observasi langsung terhadap proses-proses fisiologi, sehingga memberikan peran yang sangat besar pada bidang metodologi. Ketiga, harus diakui bahwa kita masih belum sepenuhnya memahami cara kerja otak dalam menghasilkan kognisi tingkat tinggi. Model sibernetik- elektronik yang agak kabur seringkah menjadi pegangan meskipun model ini tengah dimodifikasi dengan mengetengahkan model-model koneksionis tetapi sama sekali tidak ada kepas¬tian bahwa model ini mampu merefleksikan prinsip-prinsip aktual dari sistem kerja dalam otak. Keempat, sistem saraf merupakan seperangkat subsistem terpadu yang sangat rumit. Tampaknya tidak mungkin mendapatkan kemajuan berarti dalam memahami kerja otak selama tidak diciptakan model-model yang lebih memadai, baik kineija psikologi dari sistem saraf besar maupun struktur psikologi dari berbagai kemampuan kognitif.