ARTI STATUS SISTEM-DUNIA DAN BENTUK NEGARA – Kita sekarang perlu mempertimbangkan pertanyaan penting mengenai bagaimana posisi negara-bangsa di dalam sistem dunia kapitalis menentukan tipe Ntruktur negara tertentu yang dikembangkannya. Dengan pertama-tama meIlhat kepada inti kapitalis, kita akan jumpai bahwa dalam zone ini dijumpai bentuk-bentuk negara demokrasi yang stabil. Di dalam inti itulah pertama kali timbul demokrasi parlementer, dan dewasa ini setiap negara inti tunggal adalah demokrasi. Kita telah melihat mengapa hal ini terjadi. Masyarakat kapitalis inti telah secara kuat mengembangkan kelas-kelas kapitalis dengan mempunyai kebutuhan y-ang kuat untuk meminimalkan peran campur tangan negara di dalam kegiatan-kegiatan keusahawanan mereka (meskipun mereka berusaha untuk menggu_nalcan negara untuk ikut campur tangan di dalarn kegiatan ekonomi apabila hal ini menguntungkan mereka). Lagi pula, masyarakat-masyarakat inti memiliki kelas menengah yang besar dan berpendidikan tinggi yang mengharapkan — memang merupakan kebutuhan — agar kemerdekaan dan hak-hak umum ditegakkan (Chirot, 1977). Secara keseluruhan tradisi pemerintahan demokratis telah terkelilingi secara kuat sehingga sampai tingkat tertentu merupakan suatu kekuatan yang independen dalam dirinya sendiri. Falsafah demokrasi akan merembesi seluruh jaringan kehidupan dalam masyarakat-masyarakat itu.

Akan tetapi, bagaimanapun perlu kiranya diterima bahwa demokrasi dapat dipandang sebagai sudah demikian pada bangsa-bangsa inti. Bangsa-bangsa itu peka terhadap segala macam gerakan-gerakan anti demokrasi. Sebagian sesungguhnya telah mengalami masa-masa penundaan demokrasi dan yang lainnya dapat melihat perkembangan politik demikian di kemudian hari. Sebagai contoh, Jerman sejak tahun 1933 sampai 1945 telah mengalami suatu periode fasisme yang intens. Rezim fasis Jerman — kaum Nazi — telah menunda kebebasan sipil dan terlibat di dalam penindasan politik umum atas penduduk. Rezim fasis juga menggunakan kekerasan dan teror terhadap banyak segmen penduduk, terutama kaum Yahudi. Rezim fasis cenderung untuk timbul dalam masyarakat kapitalis yang terperangkap di tengah-tengah krisis ekonomi yang parah dan fasisme sesungguhnya adalah suatu usaha untuk membawa bangsa itu ke luar dari krisis itu. Penghancuran demokrasi oleh kaum fasis dapat juga terjadi pada bangsa-bangsa inti di masa datang jika mereka mengalami kemunduran yang mencolok di dalam nasib ekonomi mereka. Daniel Chirot (1977), misalnya, telah mengemukakan bahwa fasisme dapat menjadi ancaman yang signifikan di Amerika Serikat di masa datang yang dekat jika masalah-masalah ekonomi yang ada semakin memburuk. Dalam periferi kapitalis demokrasi merupakan kekecualiannya. Masyarakat kapitalis periferi mempunyai sesuatu bentuk rezim non-demokrasi. Rezim-rezim yang didasarkan pada kediktatoran militer, misalnya, telah tersebar luas di dunia kapitalis periferi. Kediktatoran itu berfungsi untuk memperkuat dominasi kelas penguasa di dalam masyarakat-masyarakat di mana ketidaksamaan ekonomi sering mencapai proporsi yang fantastis. Demokrasi tidak mungkin ada di dalam masyarakat di mana eksploitasi dan kesengsaraan manusia yang keji dan yang menderita mencapai tingkat yang demikian. Dengan kata lain, “kemewahan”-lah yang oleh masyarakat kapitalis periferi (atau, secara lebih tepat, kelas-kelas penguasa mereka) tidak dapat “disanggupi”.

Di dalam semi-periferi kapitalis modern jarang pula terdapat demokrasi. Alasannya sebagian adalah sama dengan dalam kasus periferi. Banyak masyarakat semiperiferi mempunyai tingkat eksploitasi dan kesengsaraan yang terlalu tinggi untuk memungkinkan pengakuan hak dan kebebasan secara luas. Ketidakpuasan adalah terlalu tinggi, dan penindasan p olitik diperiukan untuk memelihara ketertiban minimum tetapi para teoris sistem dunia juga memberi penekanan bahwa dikembangkannya negara-negara otoriter yang kuat dapat menjadi suatu keuntungan yang riel bagi masyarakat-masyarakat periferi yang berusaha untuk meningkatkan status mereka di dalam ekonomi-dunia. (Korea Selatan sejak awal tahun 1950-an dan Brazil sejak pertengahan tahun 1960-an sampai pertengahan tahun 1970-an merupakan ilustrasi yang baik mengenai hal ini). Seperti telah dikemukakan oleh Chirot, tipe-tipe negara itu ikut membantu meningkatkan tujuan-tujuan ekonomi dari masyarakat-masyarakat semiperiferi dengan membatasi konsumsi guna memperoleh lebih banyak dana untuk investasi, maupun dengan mengambil berbagai tindakan ekonomi lainnya. Negara-negara demikian dapat menjadi kekuatan penting untukberperan secara politis dan militer di arena internasional, khususnya jika mereka ditempatkan secara strategis sehingga menjadi penting bagi kepentingan kekuasaan inti yang besar. Dalam tahun-tahun terakhir ada banyak pembicaraan mengenai suatu proses “redemokratisasi” yang terjadi di bagian-bagian periferi dan semiperiferi, khususnya di Amerika Latin. Apa yang telah terjadi ialah bahwa beberapa negara Amerika Latin — Brazil, misalnya — telah mengganti pemerintahan militer dengan pemerintahan sipil yang berkuasa melalui suatu proses pemilihan umum. Beberapa pengamat memandang ini sebagai awal suatu gerakan menjauhi negara otoriter dan represif ke arah demokrasi sejati (Cammack, 1986) — atau sekurangkurangnya berpikir bahwa terdapat kemungkinan untuk menciptakan suatu tertib (order) yang jauh lebih demokratis. Yang lainnya lebih pesimistik, atau sekurang-kurangnya lebih berhati-hati. Fernando Henrique Cardoso (1986) mengemukakan bahwa kita hendaknya memandang kecenderungan demokratisasi yang baru itu dengan waspada. Dikatakannya, “pada tingkat masyarakat kecenderungan itu ada dan universal; akan tetapi, pada tingkat negara, kecenderungan itu menemui tantangan, dan dalam beberapa masyarakat tantangan iniberhasil” (1986:30). Herman dan Petras (1985) malah mempunyai pandangan yang kuat, yang mencatat bahwa kekuasaan militer tidak runtuh meskipun digunakannya aparat demokratik formal. Memang, sampai sejauh tidak terus-menerus berlangsung, penggunaan teror negara melalui “regu tembak” akan terus mengintai dari belakang (Petras, 1987). Lagi pula, suatu pengertian perspektif historis juga memb eri kita alasan agar bersikap lebih dari hanya sedikit berhati-hati mengenai tuntutan yang keras tentang pentingnya kecenderungan redemokratisasi. Sepanjang abad ini, politik dibanyak negara Amerika Latin telah memperlihatkan sesuatu perubahan siklikal di antara rezim-rezim yang kurang lebih bersifat represif (Skidmore dan Smith, 1989; E. Stephens, 1989). Dengan berpatokan pada pola ini prediksi mengenai suatu \kecenderungan yang mengarah kepada demokrasi tampaknya sangat prematur. Tapi malah jika jenis demokrasi yang berlaku di Amerika Latin lebih bersifat kulit luar saja bila dibandingkan dengan substansi yang riel, apa yang menyebabkannya? Bruce Cumings (1989) mengemukakan alasan ekonomi maupun politik . Pada sisi ekonomi, “demokratisasi adalah suatu akibat yang pasti dari permintaan yang kuat agar pasar di negara-negara yang sedang berkembang di buka bagi barang-barang Amerika, khususnya industri jasa sepertibartk dan asuransi, tetapi juga tembakau, gandum dan daging” (1989:30). Jadi kepentingan-kepentingan ekonomi inti, khususnya Amerika, dapat menimbulkan tekanan-tekanan eksternal atas pemerintah Dunia Ketiga agar menggunakan aturan-aturan demokratis. Pada sisi politik, gerakan ke arah demokrasi (atau sekurang-kurangnya kulit luarnya), adalah suatu cara mengelola dan membaurkan ketidakpuasan yang mengancam sistem. Cumings percaya bahwa hal ini menjelaskan usaha-usaha demokratisasi akhir-akhir ini di Korea Selatan (1989:32):

Demokratisasi Korea banyak berutang budi kepada suatu proses pembukaan saluran dan katup yang terkontrol untuk menyuarakan kepentingan yang tersingkirkan (atau menghembus semangat), daripada untuk suatu konsolidasi perwakilan pluralis yang stabil. Adalah akibat dari konflik dan negosiasi di antara negara, militer, dan elit bisnis, yang didukung dan ditolong oleh Amerika Serikat, dengan tujuan mendemobilisasi sektor kerakyatan yang mudah menguap. Peristiwa-peristiwa di Korea Selatan dalam tiga tahun yang lalu sangat sama dengan peristiwa-peristiwa rezim Figueiredo di Brazil 1979: membuka sistem untuk oposisi yang moderat, mentolerir pemogokan, memberi kebebasan pers, dan membolehkan penentang-penentang anti rezim yang dikucilkan untuk kembali.

Filed under : Bikers Pintar,