ARTI STRATIFIKASI RAS DAN KELAS DI AFRIKA SELATAN – Van den Berghe (1967) telah mengemukakan suatu analisis yang mudah dimengerti mengenai perkembangan stratifikasi rasial di Afrika Selatan. Apa yang sekarang ini Republik Afrika Selatan, pada mulanya dijajah oleh Belanda, yang mulai mendudukinya pada tahun 1652. Pada akhir abad xvii, terdapat suatu sistem stratifikasi rasial yang ketat. Dalam tahun 1658 Belanda mulai mengimpor budak. Bentuk perbudakan ini didasarkan pada pertanian berukuran menengah berupa pertanian yang beraneka ragam, bu-kannya perkebunan yang besar. Namun demikian, perbudakan Afrika Selatan mengembangkan suatu sifat yang paternalistik. Petaniberkulit putih tinggal di suatu pemukiman yang dikelilingi oleh budak kulit hitam. Pembagian kerja secara jelas ditentukan sepanjang garis ras, di mana orang kulit putih memandang pekerjaan manual sebagai rendah derajatnya. Suatu sistem status yang tidak sama dipertahankan melalui suatu etiket rasial yang rumit.

Ada sebagian orang Belanda, yang dikenal sebagai orang Boers, menjatah para pengembala Hottentot pribumi dan menurunkan sta tus orang itu menjadi hamba. Ekspansi orang Boer ini terhambat dalam tahun 1770-an ketika mereka berjumpa dengan suku-suku Bantu, tetapi mulai lagi dalarn

tahun 1836 dengan adanya Great Trek, yang berlangsung selama satu dekade.

Masa hubungan ras kompetitif di Afrika Selatan bermula pada akhir abad xix. Dengan ditemukannya emas dalam tahun 1886, maka Afrika Selatan mulai proses industrialisasi, dengan industri tambang emas sebagai pelopor. Industri ini didominasi oleh kaum koloni Inggris, yang mulai bermukim di Afrika Selatan sekitar masa peplihan abad xix. Para pemilik tambang Inggris saat itu sangat memerlukan pekerja tambang yang tidak terampil dan mengarahkan pandangan mereka kepada suku-suku Afrika yang banyak itu yang berdiam di seluruh daerah tersebut. Melalui berbagai cara, banyak warga suku itu ditarik ke industri tambang emas, di mana mereka pada akhirnya menjadi ancaman ekonomi yang keras terhadap para pekerja tambang berkulit putih. Persaingan ekonomi yang ekstrim di antara para pekerja tambang, orang kulit putih dan orang Afrika, khususnya dalam periode 1910-1924, telah mendorong terbentuknya apa yang sekarang dikenal sebagai praktek apartheid, atau suatu kebijakan segregasi dan penyingkiran rasial yang ketat yang ditujukan terhadap orang Afrika. Apartheid tidak menj adi kebijakan resmi pemerintah sampai tahun 1948 dengan berkuasanya Partai Nasionalis Afrikaner, tetapi dasar utamanya telah ditetapkan pada tahun 1924 (Ndabezitha dan Sanderson, 1988). Dewasa ini Afrika Selatan tak diragukan merupakan masyarakat yang dikuasai konflik yang terbagi-bagi secara rasial di dunia. Masyarakat ini terbagi ke dalam empat kelompok ras besar: (1) Orang Eropa, atau kulit putih, yang berjumlah sekitar 18 persen dari penduduknya; (2) Hindia Timur, yang berjumlah kira-kira 3 persen dari penduduknya; (3) Orang kulit berwarna (Coloureds) — yakni orang berketurunan campuran Eropa dan pribumi Hottentot — yang berjumlah kira-kira 10 persen dari total; dan (4) Orang Afrika, yang merupakan bagian terbesar penduduk, dengan 70 persen dari totalnya (kelompok ini terdiri dari berbagai suku Afrika yang telah tercakup di dalam negara Afrika Selatan secara berselang-seling). Tiga kelompok yang disebut terakhir secara kolektif dikenal sebagai “Non-Putih”, dan suatu garis kasta yang keras memisahkan mereka dari orang Eropa. Sistem apartheid yang mengatur hubungan-hubungan di antara yang orang kulit putih dan non-kulit putih di Afrika Selatan merupakan suatu gejala sosial yang besar yang mengandung dimensi-dimensi sosial, ekonomi, dan politik yang penting. Secara lebih sempit, apartlzeid memaksudkan suatu kebi-jakan pemisahan yang ketat di antara ras-ras yang berlaku untuk setiap aspek kehidupan sosial. Undang-undang apartheid yang ketat berlaku untuk perumahan, olahraga, sekolah, transportasi, rumah sakit, pekuburan, toilet, fasilitas sosial, dan gereja, maupun hal-hal lainnya. Akan tetapi, dimensi-dimensi ekonomi dan p olitik apartheid adalah lebih penting dalam arti bahwa dimensidimensi itu mempunyai arti yang lebih besar bagi kualitas hidup sebagian besar penduduk. Orang kulit putih di Afrika Selatan memegang suatu monopoli atas kekuasaan dan kekayaan. Orang kulit putih memiliki sebagian besar tanah, dan orang Inggris memiliki sebagian besar industri pertambangan dan manu faktur dan mengawasi sebagian besar perbankan, keuangan, dan perniagaan Afrika Selatan. Sejak tahun 1948 Afrikaners (keturunan Belanda, yang menggu-nakanbentukbahasa Belanda yang dimodifikasi yang dikenal sebagai Afrikaans) memonopoli kekuasaan politik. Tentara, angkatan laut, pengadilan, dan sefnua posisi yang lebih tinggi dalam kepegawaian negeri didominasi oleh orang kulit putih. Orang kulit putih mengawasi hampir seluruh pekerjaan yang menarik, dan yang bukan kulit putih terpusat pada pekerjaan rendahan dan dibayar ala kadarnya. Dalam tahun 1960 pendapatan keluarga kulit putih ratarata kira-kira 14 kali pendapatan orang Afrika dan lima kali orang kulit berwarna dan orang India. [Rasio pendapatan orang berkulit putih terhadap orang Afrika telah sedikit menurun pada tahun 1975, tetapi masih tetap sangat besar: kira-kira 10:1 (Nattrass, 1981:288)].

Suatu rezim politik represif telah mencirikan Afrika Selatan selama bertahun-tahun. Meskipun negara ini secara teknis adalah suatu negara demokrasi parlementer, tapi prosedur demokrasinya hanya berlaku untuk orang kulit putih, dan tiada hak demokrasi bagi orang yang bukan kulit putih. Ini merupakan suatu contoh klasik demokrasi Herrenvolk. Orang-orang Afrika tidak mempunyai hak untuk memberi suara. Mereka harus membawa kartu pribadi ke mana-mana dan menunjukkan kep ada polisibila diminta. Lebih dari sejuta orang Afrika ditahan setiap tahun, yang kebanyakan dari padanya berdasarkan pelanggaran-pelanggaran teknis dan kecil atas undang-undang apartheid. Orang-orang Afrika menghabiskan hidupnya di bawah pengawasan polisi, intimidasi, dan kekejaman. Dalam satu atau dua dekade yang lalu pembagian ras yang ekstrim di Afrika Selatan telah semakin nyata, dan telah mendapat perhatian dunia. Ada banyak bentuk kekerasan telah timbul di antara orang Afrika dan kulit putih dan penindasan orang Afrika oleh pemerintah telah sangat diintensifkan. jelas bahwa tingkat dendam orang Afrika terhadap orang kulit putih adalah ekstrim, dan bahwa masyarakat telah menjadi sedemikian terpolarisasi sehingga orang kulit putih merasakan bahwa satu-satunya cara untuk mempertahankan posisi ekonomi dan sosial mereka yang superior ialah dengan memilih tindakan-tindakan represif yang keras. Hal ini jelas bahwa situasi Afrika Selatan yang ada sekarang merupakan suatu situasi yang sangat berbahaya yang masa depannya sangat tidak pasti.

Filed under : Bikers Pintar,