Advertisement

Menurut Geertz (1963), pada akhir abad XIX dan awal abad XX Indonesia (Jawa) dan Jepang telah membuat suatu kemajuan teknik yang berarti dalam pola produksi usaha tani berskala kecil. Namun dalam perkembangannya usaha tani di Jepang mencapai kemajuan yang pesat dibandingkan dengan di Indonesia. Geertz berpendapat bahwa perbedaan kemajuan yang dicapai usaha tani di Indonesia dan Jepang disebabkan karena usaha tani di Indonesia tidak terintegrasi secara vertikal, melainkan berjalan dalam lajur horizontal, sedangkan di Jepang berjalan secara vertikal sebagai suatu sistem dan dikerjakan secara intensif. Dengan kata lain usaha tani tradisional yang berskala kecil di Jepang dikelola sebagai suatu sistem yang terintegrasi secara komplementer dengan industri pengolahan.
Pola integrasi komplementer ini mengakibatkan terjadinya interaksi positif dan dinamis antara sektor pertanian dan sektor industri, sehingga keduanya tumbuh serempak secara berbarengan, yang kemudian dikenal dengan konsep pertumbuhan berbarengan. Johnson (Okawa, Kazushi, dkk, 1983) menganggap bahwa pertumbuhan pertanian dan industri berbarengan ini merupakan suatu model yang dapat diterapkan dalam pembangunan di negara-negara Asia dewasa ini. Pertumbuhan berbarengan ini menuntut adanya interaksi positif dan dinamis antara usaha tani dan industri pengolahan hasil pertanian, interaksi ini disebut agroindustri.
Agroindustri yang merupakan industri rumah tangga seperti industri kerupuk, industri tenun, industri tahu tempe, dan sebagainya, telah lama tumbuh di Indonesia. Namun agroindustri berskala kecil ini belum terbina dengan baik sebagai suatu sistem agribisnis. Akibatnya agroindustri berskala kecil dan berbasis di pedesaan ini menjadi lemah dan tidak sehat sehingga mudah kalah dalam persaingan. Kondisi agribisnis pedesaan yang tidak sehat ini timbul sebagai akibat dari strategi pembangunan yang disebut strategi Industrialisasi Substitusi Import (Import Substitution Industrialization). Tujuan utama dari strategi ini adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Growth Oriented Strategy) dengan melakukan ekspansi dan melindungi industri manufaktur untuk menambah penerimaan sektor industri. Untuk maksud ini Pemerintah membatasi impor dengan berbagai kebijaksanaan seperti kuota, tarif impor yang tinggi dan sebagainya.
Di samping itu Pemerintah juga merangsang investasi dengan cara memberikan berbagai kemudahan memperoleh kredit (suku bunga rendah), keringanan pajak, ongkos urus yang murah. Dalam kurun waktu empat Pelita, strategi Industrialisasi Substitusi impor ternyata tidak memberikan hasil yang diharapkan. Harga barang impor untuk kebutuhan petani menjadi relatif tinggi dibandingkan harga produksi pertanian. Proteksi dan kemudahan yang diberikan kepada industri besar dan menengah membuat mereka tumbuh dengan tidak efisien dan kurang mampu bersaing di pasar internasional. Di sisi lain proteksi dan kemudahan yang diberikan kepada usaha berskala besar tersebut menyebabkan usaha berskala kecil menjadi tersisih di pasar dan pada akhirnya gulung tikar. Banyak kendala yang dihadapi di dalam membangun sektor pertanian yang berlandaskan sistem agribisnis, terutama dalam mengembangkan agroindustri. Seperti yang dikemukakan oleh Bungaran Saragih (Kompas, 19-10-1992) kendalakendala yang dihadapi dalam upaya pengembangan agroindustri antara lain adalah : (a) Dari sisi sumber daya manusia, tenaga kerja yang diperlukan untuk menangani pengolahan lanjutan dan manufaktur hasil pertanian belum tersedia cukup. Hal ini terjadi, karena selama ini penyediaan tenaga kerja masih terlalu berorientasi pada penyediaan sumber daya untuk subsistem produksi (b) Dukungan teknologi baru bagi agroindustri belum memungkinkan untuk menghadapi persaingan di pasar. Salah satu indikatornya adalah belum terlihat fokus penanganan kegiatan penelitian agroindustri dan koordinasi pada lembaga riset yang ada dan telah menunjang pembangunan pertanian (c) Infrastruktur untuk pendukung agroindustri masih kurang, terutama di pedesaan yang menjadi tumpuan pengembangan-pengembangan agroindustri (d) Kelembagaan dalam arti luas masih timpang dalam melayani usaha pertanian (on farm activities) yang berbasis pedesaan dibandingkan dengan kegiatan di luar usaha pertanian yang ada di perkotaan (off farm activities), ketimpangan ini sebenarnya dapat menjadi ancaman potensial bagi kelangsungan pertanian. Kendala lain dalam kelembagaan adalah daya dukung tanah yang makin terbatas (e) Pola dan organissi usaha tani, yang dikembangkan dalam PJP I perlu dikaji ulang, seperti koperasi, asosiasi masyarakat produksi, perdagangan dan jasa pelayanan lainnya. Agroindustri merupakan interaksi positif dan dinamis antara sektor pertanian dan sektor industri, yang akan membuka peluang bagi tumbuhnya pertanian tangguh yang berperan sejajar dengan sektor industri dalam perekonomian Indonesia.

Incoming search terms:

  • subsistem agroindustri
  • sub sistem agroindustri
  • tujuan subsistem agroindustri
  • tuliskan cakupan subsistem agro industri

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • subsistem agroindustri
  • sub sistem agroindustri
  • tujuan subsistem agroindustri
  • tuliskan cakupan subsistem agro industri