Advertisement

Tao Chia

Sekolah taois, pengikut-pengikut Lao Tzu, Chuang Tzu, Lieh Tzu, yang “mendorong manusia kepada kesatuan roh.” Mereka mengajarkan, hendaknya semua kegiatan selaras dengan yang tak kelihatan (Tao), dengan kebebasan terhadap semua hal dalam alam. Mengenai metode, mereka menerima urutan (orde) alam yang teratur dari sekolah Yin Yang, memilih pokok-pokok yang baik dari kaum Confusianis dan Mohis, dan memadukan dengan ini semua pokok-pokok penting dari kaum Logis dan kaum Legalis. Sesuai dengan perubahan-perubahan musim, mereka tanggap terhadap perkembangan objek-objek alamiah.

Dengan mempelajari prinsip-prinsip keberhasilan dan kegagalan, pemeliharaan dan penghancuran, bencana dan kemakmuran dari dulu hingga kini, mereka belajar bagaimana mempertahankan apa yang esensial dan menangkap yang fundamental. Mereka menjaga diri dengan kemurnian dan kekosongan. Mereka berpendapat bahwa dunia ini dapat diatur oleh kemurnian dan kekosongan belaka.

Menganggap yang fundamental sebagai esensi halus dan meng-anggap hal-hal sebagai penjelmaannya yang kasar; menganggap akumulasi sebagai defisiensi; berdiam tenang dan sendirian dengan yang rohani dan pikiran; semuanya ini merupakan beberapa aspek sistem Tao orang-orang kuno. Mereka membangun sistemnya berdasarkan prinsip Bukan-Ada kekal dan memusatkanya pada ide Kesatuan Tertinggi. Ungkapan luarnya adalah kelemahan dan kerendahan hati. Kekosongan murni tanpa merugikan hal-hal objektif bagi mereka merupakan substansi sejati. Kuan Yin berkata, “Janganlah membangun apa-apa yang berkaitan dengan diri sendiri. Biarkanlah barang-barang berada sebagaimana adanya; mengalir bagaikan air; tenang ibarat cermin; tanggap seperti gema, berlalu cepat bagaikan non-eksistensi; tenang bak kemurnian…” Lao Tan (Lao Tzu) berkata, “Kenalilah kepriaan (kekuatan aktif), dan pe¬liharalah kewanitaan (kekuatan pasif); jadilah jurang (ngarai) dunia. Kenalilah keputihan (kemuliaan); hindarilah kehitaman (aib); jadilah model dunia.” Semua manusia mencari yang pertama; dia sendiri mengambil yang terakhir… Semua manusia mengejar kebahagiaan; dia sendiri mencari kepuasan dalam perubahan. Dia menganggap yang dalam sebagai yang fundamental; moderasi sebagai kaidah…

“Diam dan karenanya tidak berbentuk, berubah dan karenanya tidak tetap, kadang mati, kadang hidup, sama dengan langit dan bumi, bergerak bersama dengan yang rohani dan pikiran, hilang ke mana? Tiba-tiba lenyap? Semua ini merupakan beberapa aspek dari sistem Tao dari orang-orang kuno. Chuang Chow (Chuang Tzu) mendengar dari mereka dan merasa senang… Dia mempunyai persekutuan pribadi dengan roh Langit dan Bumi tetapi tidak merasa bangga atas keunggulannya terhadap semua barang. Dia tidak mencela yang benar atau yang salah, sehingga dia beristirahat bersama dengan dunia… Di atas dia mengembara bersama dengan Pencipta; di bawah dia bersahabat dengan orang- orang yang mengatasi permulaan dan akhir dan tidak membeda- bedakan antara kehidupan dan kematian…”