Tao Te Ching

Ungkapan Cina yang berarti Keunggulan Jalan dan Keutamaannya”. Dokumen Cina abad ke-6 hingga ke-4 SM dengan jumlah pelaku 5.250 orang dan 81 bab yang dipakai sebagai kitab suci untuk gerakan filosofis dan religius yang bernama Taoisme. Dikenal sebagai karya Lao Tzu, yang katanya senior Confucius yang hidup sezaman. Barangkali karya itu tidak memuat ajaran Lao Tzu, tetapi karya itu dikompilasikan maupun ditambah oleh para pengikutnya. Isinya adalah himne, pepatah, fragmen polemik, dan penggalan-penggalan instruksi. Ia dibagi ke dalam dua bagian: “Mengenai tao” dan Mengenai te” (Yakni “Mengenai Jalan” dan “Mengenai Kebajikan”). Dengan memperlihatkan bagaimana manusia mengaitkan dirinya dengan jalan atau tao suatu konsep dengan implikasi personal, sosial, dan kosmikTao Te Ching memuat ide-ide sebagai berikut:

1. Di belakang semua nama dan sifat terdapat suatu realitas tanpa nama dengan mana kita harus menghubungkan diri. Itulah tao. Yang bernama dan yang tak bernama dikaitkan dengan istilah-istilah “yang-tiada” dan “yang-ada”, kendati keduanya pada dasarnya sama.

2. Sang guru sejati harus mengajarkan orang lain bagaimana memperoleh tao tanpa kata, karena nama-nama bertalian dengan yang-ada, dan tidak dapat menamakan yang tanpa nama. Ini mungkin dapat dilakukan dengan bertindak melalui “tidak- berbuat”. Orang mendapatkan pencerahan lewat ketenangan, keheningan, dan kehampaan total.

3. Tao tak kelihatan, tak kedengaran, subtil, tak berbentuk, tak terbatas, tak berbatas, kabur, elusif. Bila tao merosot, muncullah tujuan-tujuan tertentu kemanusiaan dan kejujuran; bila pengetahuan dan kebijaksanaan muncul, hilanglah pula hipokrisi (kemunafikan); bila ada yang tak beres dalam hubungan keluarga, lahirlah kebaktian anak kepada orangtua. Orang mesti mencapai hubungan yang lebih utuh dengan tao ini agar berkanjang dalam hidupnya.

4. Pencapaian ini menuntut supaya orang menghubungkan dirinya terutama dengan Yin, unsur betina dan pasif dalam semua hal, dan bukan dengan Yang, unsur jantan dan aktif. Maka, dengan tetap reseptif, luwes, pasrah, tenang, spontan, lemah, orang akan mampu menguasai semua hal. Kelihatannya ini memerlukan suatu sikap di mana orang menyelaraskan dirinya dengan pola, irama, dan aliran semua hal, begitu rupa sehingga ia memperoleh hasil tanpa jerih payah. Malah gerakan alam yang tanpa upaya itu menambahkan kekuatannya kepada kehidupan seseorang yang hidup oleh Jalan, dan orang seperti ini menjadi ujung tombak alam.

5. Sesungguhnya, tao merupakan cara yang tepat mengatur negara. Raja hendaknya menjadi teladan utama Jalan itu. Dari keempat hal yang agung Jalan, langit, bumi, dan raja hanya rajalah yang dapar ditegur dan, dari keempatnya, hanya rajalah yang dapat lupa akan Jalan itu. Di mana raja buta terhadap Jalan itu, kemunduran dan malapetaka mengancam negara. Di mana raja mengikuti Jalan itu, rakyat memperbaiki dirinya, mengubah dirinya dan menjadi makmur oleh dirinya sendiri.