theory of prices, (teori harga)

Teori harga terletak di jantung ekonomi neoklasik. Komponen kembar teori harga ini, yaitu optimisasi dan equilibrium, menciptakan landasan bagi sebagian besar analisis ekonomi modern. Tidaklah mengherankan, kemudian, teori harga adalah juga suatu petunjuk bagi analisis ekonomi yang mencerminkan kelebihannya tetapi juga mengungkapkan kelemahannya.

Teori harga neo-klasik menganggap suatu ekonomi terdiri dari konsumen dan produsen dan sekumpulan komoditi yang dikonsumsi dan diproduksi. Tujuan teori ini adalah untuk menganalisis penentuan harga komoditi tersebut. Dengan memberikan satu set harga, yaitu satu harga untuk setiap komoditi, konsumen diasumsikan akan memutuskan pola konsumsi mereka untuk memaksimalkan fungsi utilitas yang mewakili selera mereka di antara komoditi-komoditi yang berbeda tersebut. Mereka diasumsikan mengambil harga sebagai parameter dan memilih komoditi yang diinginkan serta faktor penawaran untuk memaksilmalkan utilitas, dengan alasan utama keterbatasan anggaran di mana pengeluaran (atas barang yang dikonsumsi) tidak dapat melebihi penghasilan (dari penjualan faktor-faktor produksi, yang termasuk dalam daftar komoditi). Produsen juga mengambil harga sebagai parameter, tetapi mereka memaksimalkan keuntungan (penghasilan dari penjualan komoditi yang dikurangi biaya-biaya pembelian faktor-faktor produksi), di mana pokok permasalahannya ada pada keterbatasan teknologi. Keuntungan-keuntungan itu kemudian didistribusikan kembali ke konsumen. Permintaan barang konsumsi dan faktor penawaran dapat dilihat sebagai fungsi dari parameter harga dan penawaran barang produksi, dan faktor permintaan juga dapat dilihat sebagai fungsi harga tersebut. Dengan adanya fungsi-fungsi tersebut, yang diperoleh dari maksimalisasi utilitas dan maksimalisasi keuntungan, kita dapat mengajukan pertanyaan lebih lanjut: apakah ada equilibrium komoditas dan equilibrium faktor harga, jika semua pasar jelas, yaitu, permintaan agregat untuk setiap komoditi dan setiap faktor tersebut sama dengan penawaran agregat?

Jika sekumpulan harga seperti itu eksis dan jika ekonomi cenderung kepada kepada harga tersebut, maka teori harga di atas (di mana harga ditentukan dalam suatu cara agar permintaan dan penawaran dapat seimbang) akan memiliki relevansi. Pertanyaan tersebut telah terjawab pada permulaan periode setelah perang, berpuncak dalam karya Debreu (1959) sehingga dia memperoleh penghargaan nobel bidang ekonomi. Secara matematis, masalahnya adalah menemukan solusi untuk suatu bidang persamaan non-linier dalam vektor harga. Teori matematik utama yang secara khusus dipakai adalah fixed point theorems, yang menyatakan bahwa setiap pemetaan yang kontinyu dari suatu bidang cembung yang tersusun rapat dalam peta mempunyai suatu titik tetap, yaitu, ada sebuah elemen yang dipetakan kembali ke dalamnya. Persyaratan agar harga terletak dalam suatu bidang cembung yang rapat akan terpenuhi jika kita memperhatikan bahwa seluruh sistem yang digambarkan di atas adalah homogen pada tingkat harga nol: mengukur semua harga dengan memberikan angka tertentu dan membiarkan keputusan tidak berubah. Sebagai contoh, meng gandakan semua komoditi dan faktor harga tidak akan mengubah kombinasi optimal penawaran komoditi dan faktor permintaan keuntungan pada kombinasi yang lama akan sama dengan kombinasi yang digandakan. Karena itu penghasilan keuntungan konsumen akan berlipat dua, demikian juga dengan faktor penghasilan dan pengeluaran mereka pada komoditi pola konsumsi dan faktor penawaran akan menjadi sama seperti sebelumnya. Dengan homogenitas sistem seperti itu. kita dapat membatasi harga menjadi seperti yang mereka tambahkan tiap satuan. Hal ini, bersama dengan kenyataan bahwa mereka tidak boleh negatif, akan membatasi vektor harga hanya terletak pada unit bidang cembung sederhana yang padat.

Kunci berikutnya yang diperlukan adalah kesinambungan atau kontinuitas (continuity): kita harus membuat fungsi permintaan dan penawaran individual tidak terputus dalam harga yang membentuk argumen mereka. Seperti yang diperlihatkan dalam Gambar la dan lb untuk pasar tunggal, diskontinuitas dalam fungsi penawaran atau permintaan dapat mengakibatkan hilangnya harga pada saat penawaran sama dengan permintaan. Kontinuitas, bersama dengan asumsi-asumsi dari fixed point theorems, akan menjamin keseimbangan harga. Tetapi apa yang menjamin kontinuitas? Karena kurva permintaan dan penawaran diambil dari maksimalisasi keputusan produsen dan konsumen, jawabannya pasti terletak dalam tujuan fungsi dan dalam batasan masalah tersebut. Sebenarnya, yang menjamin kontinuitas permintaan komoditi dan faktor penawaran sebagai fungsi dari vektor harga adalah kecembungan kurva indiferen tunggal. Gambar 2a, 2b, 3a dan 3bmemperlihatkan kurva indifferen cembung dan cekung, bersama dengan fungsi permintaan yang kontinyu dan diskontinyu. Analisis yang sama bisa diterapkan pada teknologi produksi, maksimalisasi keuntungan dan kontinuitas dari hasil fungsi penawaran.

Jika equilibrium vektor harga eksis, maka kita mempunyai sebuah teori harga, suatu teori yang tergantung pada peran harga sebagai koordinator permintaan dan penawaran perseorangan yang bebas, yang didasarkan pada optimalisasi yang bebas. Tetapi apakah equilibrium vektor harga akan terus tetap bertahan? Untuk itu kita perlu mempertimbangkan dinamika, yakni bagaimana perekonomian bergerak jika keluar dari equilibrium. Pemikiran yang sederhana mengenai hal ini adalah memperhatikan apa yang terjadi dengan harga dalam suatu pasar tertentu ketika penawaran melebihi permintaan. Kemudian, dikatakan, bahwa akan terjadi suatu tekanan untuk turun pada harga. Dan saat penawaran yang berlebihan itu terjadi, ini akan membuat harga jatuh dengan sendirinya. Dengan cara yang sama, ketika permintaan melebihi penawaran, harga akan naik dan mengurangi kesenjangan tersebut. Batasan dari proses ini, yang terjadi di semua pasar secara bersamaan, akan memindahkan vektor harga tersebut ke pola keseimbangannya. The invisible hand Adam Smith membawa pasar ke tempat keseimbangan yang baru.

Jika penjelasan di atas dapat diterima, maka kita akan mendapatkan suatu teori penentuan harga: tekanan penawaran dan permintaan akan menggerakkan harga ekonomi di dalam pasar beoas. Bagaimanapun juga, setidaknya ada dua kekurangan. Keberatan pertama kembali pada asumsi perilaku harga, yang membentuk dasar logika untuk memperoleh kurva penawaran dan permintaan. Seperti yang pernah dikatakan Arrow, “Jika setiap orang adalah penentu harga, kemudian siapa yang mengubah harga?” Kedua, jika harga berlaku di dalam pasar yang tidak bebas maka beberapa pedagang akan terbatas: mereka tidak akan dapat lagi membeli apa yang mereka inginkan untuk dibeli atau menjual apa yang mereka ingin jual. Jadi tampaknya masuk akal kalau mereka akan menghitung kembali kebutuhan dasar mereka pada batasan yang baru itu, yang, sekali lagi, mengacaukan dasar kalkulasi awal kurva permintaan dan penawaran.

Teori ortodoks telah menciptakan khayalan ‘juru lelang’ yang melaksanakan tugas ganda menyesuaikan harga dalam merespon ketidakseimbangan, bersama dengan khayalan bahwa tidak ada perdagangan yang dapat mengambil tempat di luar equilibrium, agar dapat mengatasi masalah tersebut. Tetapi ini tidak lebih dari suatu alat untuk menjaga struktur formal teori. Sekali konstruksi artifisial ini diambil, maka teori ini akan ambruk. Karena teori ini tidak dapat menjamin akan mempertemukan keseimbangan harga dalam kerangka kerja logika teori itu sendiri, ini berarti bahwa teori harga ini hanya berlaku sepanjang ekonomi dalam keadaan equilibrium. Hal ini secara teori benar, tetapi keseimbangan penawaran dan permintaan mempunyai ciri khas yang sangat berbeda dengan realitas sebenarnya misalnya pengangguran. Karena penawaran tenaga kerja sama dengan permintaan tenaga kerja berada dalam keseimbangan, dan teori harga hanya bisa berlaku dengan syarat penawaran dan permintaan adalah seimbang, teori yang mengklaim dapat menjelaskan penentuan harga ini tidak dapat menjelaskan fenomena pengangguran. Ciri khas ini telah ditekankan oleh Malinvaud (1977).

Garis besar teori harga ortodoks di sini dapat dan telah dikembangkan untuk mencakup dimensi waktu, dengan menggunakan alat ‘penanggalan barang’. Suatu komoditi sekarang didefinisikan dalam konteks karakteristik konsumsinya dan konteks alokasi waktunya. Jumlah barang dengan demikian ditingkatkan oleh suatu faktor yang sebanding dengan jumlah periode waktu yang dipertimbangkan dalam analisis tersebut. Pasar dianggap eksis sekarang untuk semua barang-barang masa depan, dan suatu equilibrium seperangkat harga ditentukan dengan cara yang persis sama dengan cara sebelumnya. Alat yang sama digunakan untuk memperkenalkan ketidakpastian. Ketidakpastian tercakup dalam istilah distribusi probabilitas yang di atasnya ‘keadaan alamiah’ akan mengatur pada titik tertentu di dalam waktu. Barang-barang kemudian dibedakan sesuai dengan waktu dan keadaan alami mereka di mana mereka akan dikonsumsi: suatu payung saat matahari bersinar adalah barang yang berbeda dari suatu payung saat hari hujan, dan setiap payung itu, sebaliknya, berbeda dari suatu payung pada hari esoknya jika hari besok itu hujan, dan begitu selanjutnya. Sekali lagi, pasar diasumsikan ada saat ini untuk satuan komoditas masa depan, dan harga untuk barang-barang tersebut ditentukan oleh equilibrium permintaan dan penawaran. Hal ini, tentu saja, adalah syarat utama teori bahwa pasar untuk satuan barang itu ada di masa sekarang. Jika tidak, maka equilibrium tidak terjadi, seperti diperlihatkan, misalnya, oleh Hart (1975).

Sebagai kesimpulan, teori harga neo-klasik modern berusaha untuk menyiapkan suatu dasar yang kuat untuk menegaskan teori Adam Smith bahwa ‘invisible hand,’ akan membawa pasar ke suatu situasi di mana keputusan optimalisasi seseorang dianggap konstan dengan yang lainnya. Teori modern dengan tepat menunjukkan kondisi yang sebenarnya. Dalam pelaksanaannya yang formal dan ketat, tampak betapa tidak masuk akalnya equilibrium, bahkan jika hal ini ada, akan diperoleh. Tentu saja, dalan hubungannya dengan analisis, teori modern mengabaikan ciri khas institusional dari kenyataan ekonomi analisisnya dilakukan dengan latar belakang abstrak. Tetapi ini nampaknya tidak mungkin jika validasi peran koordinator pasar dapat dipertanyakan dalam setting abstraksi. Tampaknya akan lebih masuk akal jika keterbatasan institusional diperkenalkan.

Incoming search terms:

  • teori harga
  • pengertian teori harga
  • teori harga adalah
  • teori tentang harga
  • Contoh teori harga
  • apa yang dimaksud dengan teori harga
  • definisi teori harga
  • jelaskan teori harga
  • konsep teori harga

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • teori harga
  • pengertian teori harga
  • teori harga adalah
  • teori tentang harga
  • Contoh teori harga
  • apa yang dimaksud dengan teori harga
  • definisi teori harga
  • jelaskan teori harga
  • konsep teori harga