personal construct theory (teori konsep diri)

Teori konsep diri dikemukakan oleh Kelly (1955) sebagai sebuah alternatif terhadap teori-teori psikologi yang ada. Asumsi dasar filosofinya yaitu alternatif konstruktif menegaskan bahwa seluruh penafsiran tentang dunia ini dapat dibuat ulang. Manusia dianggap mempunyai cara kerja seperti ilmuwan, yaitu merumuskan hipotesis, menguji coba rumus ini dan merevisinya jika ada yang tidak valid. Proses ini melibatkan perkembangan sistem hirarki dari konsep diri dua kutub (misalnya”ramah-tidak ramah”), yang tidak semuanya memiliki lebel-lebel verbal. Setiap konsep menawarkan satu pilihan, artinya sebuah elemen dari pengalaman individu mungkin memberikan tafsiran dalam kerangka salah satu kutub, atau kutub satunya lagi, atau tidak sama sekali, dan Kelly menyatakan bahwa seseorang membuat pilihan-pilihan yang mempermudah antisipasi terhadap berbagai peristiwa. Meskipun terdapat kesamaan antar individu dalam menafsirkan segala hal terutama mereka yang memiliki budaya sama sistem konsep setiap individu adalah unik.

Teori konsep diri memandang manusia secara keseluruhan, serta menolak pemisahan antara kognisi, konasi (conation) dan afeksi. Emosi dianggap sebagai suatu kesadaran terhadap suatu transisi dalam tindak penafsiran.Dalam hai ancaman, transisi ini terjadi di konsep-konsep inti, yang merupakan bagian pokok dari identitas seseorang. Rasa bersalah adalah suatu kesadaran telah melakukan tindakan tertentu yang berseberangan dengan peran inti seseorang, sistem konsep menentukan karakteristik seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Kecemasan adalah kesadaran bahwa konsep seseorang tidak cukup lengkap untuk mengantisipasi berbagai peristiwa. Agresi adalah elaborasi aktif dari tindakan penafsiran, sedangkan permusuhan adalah usaha untuk memaksakan bukti demi suatu prediksi, jadi bukan merevisinya ketika tidak valid. Strategi lain yang biasanya digunakan untuk mengatasi invalidasi dan inkonsistensi dalam tindak penafsiran antara lain menafikkan berbagai peristiwa tak terduga dalam dunia seseorang, dan sebaliknya meluas menjadi suatu usaha untuk mengembangkan suatu cara menafsirkan berbagai pengalaman baru yang sangat tidak menyenangkan. Seseorang mungkin saja melakukan kesalahan dalam tindak penafsiran,  prediksinya kurang tepat dan memperjelas batasan berbagai prediksi ini. Seseorang yang berfungsi optimal dicirikan dengan kondisi saling pengaruh dari berbagai strategi semacam ini sambil memformulasi dan merevisi berbagai konsepsi. Namun, dalam suatu kekacauan psikologi, secara terus menerus seseorang menggunakan konsepsi tertentu meski selalu tidak valid. Dengan demikian psikoterapi konsep diri bertujuan membantu rekonstruksi.

Selain diterapkan di aplikasi klinik ekstensif (Winter 1992), teori ini juga digunakan di banyak bidang lain, termasuk pendidikan (Pope dan Keen 1981) dan bisnis (Jankowics 1990). Teknik sangat populer yang berasal dari bidang tersebut adalah repertory grid, suatu metode menilai tindak penafsiran.

Walaupun sudah ada usaha-usaha mengintegrasikan teori konsep diri dengan berbagai pendekatan alternatif, teori ini tetap saja sangat berbeda dengan kebanyakan teori lain, khususnya teori yang mempunyai berbagai asumsi reduksionis dan mekanistik. Namun seharusnya ini dianggap sebagai upaya mencontohkan suatu pendekatan yang disebut constwctivisme (Mahoney 1988), pengaruhnya telah merembes ke sejumlah bidang psikologi dan juga bidang-bidang lainnya.