Teori maha guru

Neo-hubungan kemanusiaan dan pengembangan organisasional mendominasi pemikiran manajemen selama hampir dua dasawarsa. Baru pada pemilihan Presiden Ronald Reagan di AS dan Margareth Thatcher di Inggris pada awal 1980- an, jalan terbuka lebar bagi budaya bisnis di kedua negara tersebut. Banyak pengamat menyebut 1980-an sebagai ‘Dasawarsa Bisnis’. Salah satu konsekuensi dari hal ini adalah ledakan sejumlah gagasan manajemen. Tidak hanya jumlah gagasan itu yang meningkat, tapi juga gagasan itu sendiri berkembang dari berbagai macam sumber. Adalah sulit untuk menentukan secara tegas tema utama yang ada pada berbagai tulisan, pidato, video, kaset audio yang selama 1980-an menyebarkan gagasan pada para manajer mengenai bagaimana memenej secara lebih efektif. Kondisi ini barangkali menandakan bahwa obyek bisnis adalah persaingan satu sama lain demi memuaskan para pelanggan sehingga soal pemuasan pelanggan inilah yang sangat mewarnai pemikiran pada saat itu. Karena begitu banyak dampak gagasan-gagasan ini bergantung pada individu-individu yang mempromosikan persoalan ini (memuaskan pelanggan), tubuh keenam dari gagasan manajemen ini disebut teori mahaguru. Manajemen mahaguru berasal dari tiga latar belakang yang berlainan. Pertama, ada banyak mahaguru akademis yang memegang jabatan di universitas bisnis. Yang termasuk golongan pertama ini di antaranya adalah Rosabeth Moss Kanter dan Michael Porter (Harvar Business School), Henry Mitzberg (McGill) dan Philip Kotler (Northwestern). Bekerja melalui jalur akademis, para penulis ini berpengaruh dalam mempengaruhi cara pikir para manajer tentang inovasi, strategi perusahaan dan pemasaran. Kedua adalah para mahaguru konsultan yang mempunyai keahlian dan kredibilitas sebagai konsultan yang telah menangani sejumlah organisasi. Termasuk golongan ini adalah Peter Drucker, Tom Peters, Phillip Crosby dan W. Edward Deming. Para penulis ini mempunyai pengaruh besar terhadap praktek manajemen, penciptaan keunggulan, dan peningkatan kualitas produk. Golongan terakhir terdiri dari para ‘manajer pahlawan’. Sebagaimana disiratkan sebutan tersebut, para manajer pahlawan ini adalah individu-individu yang telah memegang posisi-posisi manajerial senior di perusahaan-perusahaan. Seiring dengan tradisi Henry Fayol dan Alfred P. Sloan, para manajer pahlawan modem membuat rekomendasi, berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka, untuk para manajer yang lain. Manajer pahlawan Amerika yang paling berhasil adalah Lee Iacocca (Chrysler Corporation), sementara dari Inggris adalah Sir John Harvey-Jones (mantan-ICI) yang menjadi terkenal lewat publikasi buku dan penampilannya di televisi. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah tiga tipe gagasan mahaguru ini akan bertahan dalam waktu yang lama, dan akankah ditempatkan di tempat yang sejajar dengan lima tubuh gagasan manajemen lainnya yang telah mapan.