tradisi lisan

Penggunaan tradisi oral sebagai istilah seni dalam ilmu-ilmu sosial menjadi hal yang biasa setelah diterbitkannya buku Jan Vansina, De la tradition orale essai de methode historique (1961) dalam bahasa Inggris (1973). Di sini Vansina menampilkan sarana-sarana sistematik untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, dan menafsirkan tradisi-tradisi lisan dalam rangka menemukan aspek-aspek masa lampau, terutama di tempat yang tidak ada dokumentasinya. Dia mendefinisikannya sebagai “kesaksian verbal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainnya atau generasi masa depan” (1973:xiii).

Vansina menunjukkan metodologinya melalui analisis terhadap tradisi-tradisi yang telah dikumpulkannya sendiri pada tahun 1950-an di wilayah Ruanda-Urundi bekas jajahan Belgia dan Kerajaan Kuba di Congo. Meskipun terpengaruh oleh para pakar antropologi Inggris, namun ia mengritik mereka karena menyatakan mereka bahwa tradisi-tradisi itu hanya membenarkan struktur-struktur sosial kontemporer (bandingkan pandangan Malinowski bahwa mitos adalah pedoman-pedoman untuk perbuatan sekarang, 1926). Karena paham benar dengan tradisi keilmuan Jerman masa lampau, ia juga menyalahkan pendapat bahwa tradisi-tradisi lisan tidak dapat divalidasi secara internal dan tanpa mengacu pada pertimbangan mandiri (yang biasanya tertulis).

Pandangan-pandangan Vansina menyebar luas dan berpengaruh ketika kolonialisasi Eropa berakhir dan bangsa-bangsa baru berupaya menemukan kejayaan masa lampaunya ketika para sejarawan di Amerika Serikat dan Eropa Barat mulai menyelidiki sejarah sejak awal berdasarkan ingatan; ketika jumlah universitas baru  dan tentunya jumlah para peneliti juga menjadi berlimpah. Di Afrika, tradisi lisan dicari dengan harapan masyarakat-masyarakat tradisional akan mempergunakannya untuk mentransmisikan sebagian catatan masa lampau mereka. Vansina tidak sependapat bahwa informasi sejarah dari generasi sebelumnya bisa disampaikan dalam bentuk teka-teki, peribahasa, nama- nama pujian, puisi kerajaan, dan sebagainya.

Tradisi lisan sudah dikenal dan dikaji jauh sebelumnya. Istilah “tradisi” berasal dari kata Latin traditio, yang berarti transmisi atau “penyerahan” (handing down), dan Francis Bacon menggunakan kata itu untuk mendefinisikan “pernyataan atau pengiriman pengetahuan” (Oxford English Dictionary, 1605). Di Eropa, koleksi dan kajian terhadap lagu rakyat dan cerita rakyat, balada, epik lisan, adat-istiadat dan tahayul populer sudah dilakukan pada abad ke-18 dan bahkan sebelumnya. Pencarian arus tradisi yang otentik, yang secara ideal bersifat pedesaan, dan tidak dirancukan oleh budaya tinggi (high culture), menjadi salah satu aspek nasionalisme budaya di Eropa, di mana budaya tinggi itu sering bisa diidentifikasi sebagai penolakan kerajaan (imperial overrule), dan karena itu “tradisi” diletakkan di bawah hak masyarakat untuk memperoleh kebangsaan (nationhood)  dalam pengenian bahasa, sejarah panjang dan norma kebijaksanaan. Sebagaimana kata sifat “tradisional”, frasa itu memberikan jaminan, tetapi jaminan yang tidak dapat digugat.

Penyelidikan terhadap tradisi lisan bersifat komplementer atau merupakan alternatif terhadap sejarah dokumenter, dan kurangnya perhatian pada tradisi-tradisi lisan India mungkin disebabkan oleh lebih besarnya perhatian terhadap peradaban tulis. Survai besar yang pertama terhadap bahan lisan terdapat di The Growth of Literature (Chadwick dan Chadwick 1932; 1936; 1940). Kedua peneliti tersebut membahas sumber- sumber mereka sebagai bukti pra sejarah (pre literate) dari moralitas dan hukum dan juga seni verbal. Kajian terhadap para penyanyi Balkan oleh Parry (1930; 1932) dan Lord (1960)dilakukan untuk lebih memahami seni Homer, dengan premis bahwa epik itu merupakan jenis sastra universal yang pada mulanya bersifat lisan. Lord menunjukkan bagaimana para penyanyi menyusun bahan baru melalui tema-tema yang sudah ada dan formula tetap, dalam suatu model transmisi lisan yang penting. Namun tidak semua bahanlisan dipolakan dengan cara ini. Studi kasus yang dilakukan Lord itu juga menunjukkan bagaimana penyampaian secara lisan bisa berkoeksistensi dengan tulisan selama ribuan tahun. Informasi dari sumber-sumber tertulis bisa muncul dalam bentuk tradisional dan demikian pula sebaliknya, sehingga tradisi-tradisi itu tidak kebal terhadap perubahan.

Pendekatan Lord terhadap tradisi berbeda dengan banyak pertimbangan tekstual murni karena pendekatan ini bersumber dari observasi terhadap para penyanyi dan membahas berbagai praktek bersama mereka. Para peneliti pada gilirannya memusatkan perhatian pada kinerja dan dinamika berbagai situasi sosial di tempat para penutur cerita mengkomunikasikan bahan mereka pada khalayak tertentu. Pandangan awal Vansina bahwa penutur cerita tradisi itu sekadar merupakan saluran khalayak pada dasarnya bersumber pada antropologi struktural-fungsional dan menganggap masa lampau sebagai pemisah yang bersifat statis, di mana kondisi-kondisi transmisi sosial serupa terjadi berulang kali. Para sejarawan lisan di Afrika tidak selalu menemukan tradisi-tradisi yang tercatat dengan baik, sehingga jadi jelas akhirnya bahwa tradisi-tradisi ini bersifat konservatif berdasarkan definisinya. Seharusnya kita lebih memperhatikan konteks sosial untuk menangkap ideologi yang terkandung dalam suatu cerita. Bagaimana tradisi itu diotorisasi? “Para penganut tradisi” boleh jadi mendukung para pemimpin resmi, sementara dalam komunitas yang tidak tersentralisasi para penutur mungkin menampilkan kembali bagian dari masa lampau yang menjelaskan atau menjustifikasi unit sosial yang kecil dari mereka. Perubahan-perubahan di masa lampau bisa dilukiskan dengan cara-cara yang tidak langsung dan simbolis.

Di banyak benua, para pengkaji seni-seni verbal bisa menemukan para pelaku seni pertunjukan yang bekerja berdasarkan tradisi yang telah lama dikembangkan. Namun sejumlah analis menekankan bahwa semua tuturan adalah perbuatan juga, dengan demikian tidak dapat dianalisis seakan-akan sebagai teks-teks tertulis (dan lihat Vansina 1985). Para sejarawan sosial dan ekonomi, sebagaimana para ilmuwan politik, lebih sering mencatat kenangan pribadi ketimbang tradisi. Tetapi keduanya tidak selalu merupakan bentuk-bentuk yang berlainan, dan adanya spontanitas dari si penulis atau kenisbian waktu bisa saja menyesatkan (lihat misalnya Tonkin 1992). Finnegan juga mengulas banyak pendekatan akademis terhadap tradisi.

Incoming search terms:

  • pengertian tradisi lisan menurut para ahli
  • pengertian tradisi lisan
  • menurut jan vansina bahwa tradisi lisan merupakan

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian tradisi lisan menurut para ahli
  • pengertian tradisi lisan
  • menurut jan vansina bahwa tradisi lisan merupakan