UTOPIA/UTOPI

Inggris utopia, dari Yunani ott (tidak) dan topos (tempat). Tetapi

kata ini sendiri dapat dicari akar kata lain:

1. ou (tidak) dan topos (tempat, atau dalam bahasa Inggris place karena itu secara harfiah dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan a land of no place; a never-neper land).

2. dari eu {well, good) dan topos {place; karena itu secara harfiah a good or perfect place).

Istilah ini diciptakan oleh Thomas More pada tahun 1516 sebagai nama untuk masyarakat idealnya, dan digunakan oleh Rabelais sesudah 1534 sebagai nama untuk sebuah pulau ideal. Istilah ini dipakai oleh para filsuf, pemikir sosial, dan novelis untuk menunjuk pada struktur sosial mana pun yang ideal dan tak terealisirkan.

Beberapa Pengertian

1. Suatu masyarakat ideal atau sempurna. Dalam Republic dan Laws dari Plato, terdapat utopi-utopi. Hal ini dapat dibaca dalam penjelasan mengenai negara yang sempurna dan ideal. Kata itu pertama kali dipakai oleh Sir Thomas More dalam bukunya yang melukiskan suatu pulau imajiner yang memiliki suatu struktur ideal politik, ekonomi, agama, hukum dan sosial. Orang-orang lain sejak More yang menulis utopi adalah: Tommaso Campanella, The City of the Sun (1612), Francis Bacon, New At/anus (1627), Morelly, Code de la Nature (1755), Etienne ( .il>ct, Voyage en haria (1888), Edward Bellamy, Looking Backward (1888), William Morris, News from Nowhere (1890), H.C; Wells, A Modem Utopia (1905).

tiga sikap ke arah utopia: a) gagasan utopis dapat dikira- kira kalau pun tidak sepenuhnya dicapai dalam realitas; b) gagasan utopis dapat dikira-kira dalam realitas dan berfungsi sebagai standar-standar untuk evaluasi masyarakat yang ada; dan c) gagasan utopis itu sama sekali merupakan khayalan yang tidak realistik dan skema-skema idealistik tanpa nilai apa pun.

2. Arti peyoratif dari utopia: suatu deskripsi naif tentang negara ideal yang udak dapat direalisir dan tidak praktis, karena tidak mempunyai dasar dalam kerangka ilmiah. Dilihat dari segi sejarah, ide utopis menyangkut pandangan mengenai masyarakat, mulai dari konsepsi tentang “zaman keemasan” Hesio- dos Yunani Kuno abad ke-8 sampai ke-7 SM. Beberapa unsur dapat dilihat pada Plato dan Agustinus. Utopi sebenarnya merupakan sekaligus refleksi dan kritik atas masyarakat yang ada, baik langsung maupun tidak langsung.

Penggunaan Istilah

Istilah ini dipakai oleh para filsuf untuk mengacu kepada struktur sosial ideal mereka.

1. Istilah ini acap kali diterapkan pada visi Plato, baik pada legenda Atlantis dalam Timaeus maupun masyarakat yang teratur dalam Republic, bahwa aristokrasi menggunakan sistem pendidikan untuk menentukan tempat manusia dalam masyarakat, termasuk penentuan berkat prestasi mereka yang menjadi pemimpin.

2. Utopia Thomas More menggabungkan penekanan-penekanan utama Republic Plato dengan Epikureanisme dan pandangan Kristen mengenai penyelengaraan ilahi.

3. Francis Bacon memproyeksikan ideal-ideal sebuah masyarakat ilmiah dalam The New Atlantis. Dengan memandang ilmu sebagai kunci kebahagiaan universal, masyarakt ideal itu memerlukan suatu perguruan tinggi ilmu eksperimental, tempat akan berlangsungnya studi-studi di bawah pimpinan dan pengendalian negara.

4. Dalam karyanya City of the Sun, Campanella mengikuti jejak Plato dalam Republic. Skemanya dimodifikasi dalam sejumlah cara. Misalnya, Raja-Filsuf menurut Campanella adalah para imam juga.

5. Mandeville dalam The Fable of the Bees menentang masyarakat yang diatur menurut prinsip “menyangkut yang lain” atau “menghargai yang lain”. Sebuah masyarakat kaum altruis sebetulnya tidak mempunyai atau tidak membutuhkan kekuatan pendorong. Masyarakat hipotetisnya dengan begitu ternyata tidak Utopian, dengan membuktikan bahwa keja¬hatan-kejahatan pribadi merupakan keuntungan umum.

6. Terdapat motif normatif, bahkan Utopian, dalam semua tulisan Rousseau, mulai dari The Discourse on Inequality sampai dengan Emile (filsafat pendidikan). Seluruh tujuannya ialah visi baru atas masyarakat.

Meskipun semua karya utopis bersifat sosial, barangkali dapat dibedakan antara karya-karya yang maksud pengarangnya lebih bersifat sosial dan praktis dan bukan filosofis.

1. Dalam kategori ini kita masukkan deskripsi Plutarch dari Chaeronia tentang Sparta dalam Lives (yakni bagian tentang Lycurgus); karya James Harrington Oceana (1656), yang menganggapharta milik sebagai basis kekuasaan dan me¬nuntut suatu eksekutif yang terbatas masa jabatannya; kar-ya Etienne Cabet Voyage in learia (1840), yang menampilkan pandangan-pandangan Robert Owen; William Moris dalam News From Nowhere (1891), yang memaparkan pandangan sosialisnya; dan B.F. Skinner yang mendekati kemungkinan suatu utopi dari sudut pandang ilmuwan sosial dalam Wal- den Two (1948).

2. Pandangan-pandangan pemikir seperti Proudhon, Saint Simon, Charles Fourier, dan Robert Owen dijuluki “Sosialisme Utopian” oleh Marx dan Engels, yang menganggap pandangan mereka sendiri sebagai “Sosialisme Ilmiah”.

3. Di antara utopi-utopi sastra kiranya dapat dimasukkan bagian dari karya Rabelais, Gargantua and Pantagruel (1534-52); di situ Pantagruel berlayar ke pulau Utopia. Dalam buku keempat Swift, Gulliver’s Travels (1726) dibeberkan kerajaan ideal Houyhnhnms; karya Johnson, Rasselas, Prince of Abyssinia (1754); karya Bulwer Lytton, The Coming Race (1871); karya Samuel Butler, Erewhon (1872) dan Erewhon Revisited (1901); karya Edward Bellamy, Looking Backward (1887); karya-karya H.G. Wells Anticipations (1901), A Modern Utopia (1904), dan Neto Worlds for Old (1908).

Incoming search terms:

  • Arti utopiA
  • apa itu utopia
  • pengertian utopia
  • utopia adalah
  • arti kata utopia
  • pengertian idealistik
  • maksud utopia
  • definisi utopia
  • pengertian utopis
  • apa arti utopia

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Arti utopiA
  • apa itu utopia
  • pengertian utopia
  • utopia adalah
  • arti kata utopia
  • pengertian idealistik
  • maksud utopia
  • definisi utopia
  • pengertian utopis
  • apa arti utopia