VEDANTA

Dari Sanskerta veda (pengetahuan) dan an t a (akhir). Satu dari enam sistem filsafat India. Istilah ini mengacu pada filsafat upanisad yang muncul sesudah periode Veda, dan bertanggung jawab atas sistem-sistem yang heterodoks. Sebagai aliran pemikiran, Vedanta menyibukkan diri dengan bagian terakhir kitab-kitab Veda. Vedanta Sutra, yang disusun oleh Badarayana (antara 500 dan 200 SM), juga dikenal dengan nama Uttara Mtmamsa, dan merupakan bagian pelengkap Putra Mimamsa. Uttara Mimamsa mengulas atau menelaah tema-tema keagamaan dan filsafati bagian-bagian terakhir Veda, sedangkan Puma Mimamsa bagian-bagian awal. Sutra-sutra Vedanta Sutra berjumlah 555- Sutra-sutra ini dikenal pula dengan nama Brahma Sutra dan Sariraka Sutra, yang menguraikan doktrin- doktrin tentang Brahman dan diri yang mutlak. Interpretasi-interpretasi utama Vedanta ialah:

1. Pandangan yang paling luas dikagumi dan diterima adalah pandangan Shankara, yakni Advaita Vedanta yang berisi interpretasi non-dualistis di mana Brahman merupakan satu-satunya realitas Dunia adalah tampakan (maya, semu). Brahman identik dengan Atman.

2. Interpretasi Ramanuja mengakui realitas Allah, diri-diri, dan dunia, kendati dua yang terakhir berada sebagai tubuh atau wujud Allah, yang mempunyai dua bentuk.

3. Interpretasi Madhva memungkinkan individualitas permanen Allah, diri-diri, dan materi, dan menyediakan suatu interpretasi organik atas hakikat hal-hal yang ada.

Beberapa Pikiran Pokok

Vedanta pertama-tama menunjukkan akhir dari Veda yang merupakan literatur suci India. Tetapi, kemudian Vedanta juga berarti ajaran yang melihat puncak tertinggi dari pengetahuan sejati diakhir Veda. Bertumpu pada tradisi-tradisi yang bertentangan yang terkandung dalam literatur Upanishad, filsafat Vedanta mencoba menciptakan sistem menyeluruh.

Ada bermacam aliran dalam filsafat Vedanta. Akan tetapi dari semua aliran ini, aliran Sankara (788 sampai sekitar 820) mendapat tempat tertinggi. Sehingga biasanya Vedanta dianggap sebagai sistem Sankara. Sankara membedakan pengetahuan yang lebih tinggi dan pengetahuan yang lebih rendah. Kebenaran tertinggi adalah “bukan-kedwian” (advaita atau monisme ketat). Kedwian atau perbedaan hanya merupakan penampakan (maya). Prinsip pertama, mutlak, rohani dari dunia ialah atman. Karena adanya maya, kesatuan ini mampu memproyeksikan dirinya sebagai keanekaan tanpa ia sendiri dipengaruhi maya.

Atman universal dan atman partikular berhubungan laksana seluruh ruang dan waktu dalam tong-tong individual. Perbedaan di antara keduanya terjadi hanya karena keterbatasannya. Bertentangan dengan pengetahuan tertinggi mengenai Yang Mutlak ini ialah pengetahuan terendah mengenai yang nisbi. Yang nisbi ini setara dengan dunia yang berubah. Dari sudut pandangan ini, Brahman adalah sumber dunia. Ia adalah ada tertinggi yang menciptakan, mengatur dan menghancurkan dunia. Dalam pada itu Brahman merupakan “bahan” dunia material. “Bahan” dunia material ini berkali-kali muncul dari Brahman dan kembali kepada Brahman.

Menurut Sankara, dunia sebagaimana kita amati bukan hanya konstruksi pikiran atau tiada, melainkan juga real, setidak-tidaknya dari sudut pandangan kita yang relatif. Sudut pandangan ini sama bagi kita semua dan menentukan tindakan-tindakan kita. Akan tetapi sudut pandangan mutlak dapat dicapai oleh individu.

Maya bukan eksistensi dan bukan pula non-eksistensi. Maya dikatakan bukan eksistensi dalam arti tidak menjadi realitas yang sungguh-sungguh, dan disebut bukan non-eksistensi karena maya sungguh-sungguh dialami.

Menurut esensinya yang sejati jiwa merupakan kerohanian murni dan Brahman. Pemisahan Yang Maha Esa ke dalam keanekaan jiwa-jiwa individual disebabkan ketidaktahuan. Ketidaktahuan membuat jiwa tunduk kepada bermacam-macam kondisi. Yang termasuk dalam kondisi-kondisi ini ialah tubuh kasar dan tubuh halus. Tubuh kasar dan halus berguna sebagai pendukung jiwa dalam peralihannya dari satu kehidupan kepada kehidupan lain. Tubuh kasar dan tubuh halus merupakan pembawa karma dan bermacam-macam organ maupun kekuatan internal.

Karma merupakan akibat dari perbuatan dan menentukan reinkarnasi. Perbuatan yang baik membantu menuju suatu kelahiran kembali yang baik. Perbuatan yang baik itu menghilangkan rintangan bagi pembebasan.

Pembebasan sejati hanya menjadi milik dari pribadi yang mempunyai pengetahuan tertinggi. Pembebasan sejati di sini bukan dari dosa dan kesalahan, melainkan pembebasan dari penderitaan yang terkandung dalam kelahiran kembali yang tiada putusnya. Dengan pengetahuan tersebut pribadi itu mengetahui dirinya sendiri melampaui batas-batas kebaikan dan kejahatan. Ia mengetahui dirinya sebagai ada yang mutlak, roh dan ekstase.

Yang paling penting di antara filsuf-filsuf yang menciptakan filsafat Vedanta dalam arti teistis  ialah Ramanuja (abad ke- 12). Ia mendirikan aliran Visistadvaita. Menurut ajarannya terdapat tiga realitas: materi, jiwa dan Tuhan. Ketiga realitas ini saling bergantung: jiwa individual mengatur badan jasmani dan Tuhan mengatur keduanya. Tanpa Tuhan, jiwa dan materi hanya merupakan konsep abstrak belaka dan bukan realitas. Tujuan usaha individual ialah membebaskan diri dari eksistensi jasmani. Dan ini dapat dicapai melalui kegiatan rohani, pengetahuan dan cinta akan Allah.

Aliran Sankara (advaita) berhubungan erat dengan penghormatan kepada dewa Siwa dan Visistadvaita dengan dewa Wisnu.

Incoming search terms:

  • pengertian vedanta
  • filsafat vedanta
  • arti advaita

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian vedanta
  • filsafat vedanta
  • arti advaita