Advertisement

Di Indonesia, jauh sebelum ada surat kabar, Gubernur Jenderal Jan Pie- terszoon Coen (1587-1629) pada tahun 1615 memprakarsai penerbitan Memorie der Nouvelles. Ini adalah prasurat-kabar tulisan tangan yang berisi berita-berita dari Nederland untuk kalangan pejabat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, Perserikatan Dagang Hindia Timur) yang dikirimkan sampai sejauh Ambon.

Percetakan pertama di Indonesia tiba pada tahun 1659, dan yang kedua pada tahun 1712. Percetakan itu umumnya digunakan oleh VOC untuk keperluannya sendiri, umpamanya untuk membuat surat edaran kematian.

Advertisement

Surat kabar pertama di Indonesia baru terbit hampir seabad setelah kedatangan percetakan pertama. VOC sangat alergi terhadap koran karena takut kegiatan perdagangannya diketahui pesaingnya sehingga kepentingannya terganggu. Ketika Gustaaf Willem Baron van Imhoff yang bersikap liberal diangkat sebagai gubernur jenderal pada tahun 1743, Jan Erdmans Jordens, pegawai Kantor Sekretariat Negara, mengajukan permohonan untuk menerbitkan surat kabar untuk masa kontrak tiga tahun. Izin pun diberikan, dan terbitlah pada tanggal 7 Agustus 1744 koran berukuran folio bernama Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen (Berita dan Penalaran Politik Bata-via). Namun, koran mingguan ini tidak sampai berumur dua tahun karena pada tanggal 20 Juni 1746 berhenti terbit atas perintah Dewan Tujuh Belas (De Heeren Zeventien) yang merupakan direksi VOC di Negeri Belanda. Alasannya, koran tersebut “menunjukkan gejala-gejala merugikan (kepentingan VOC) ” Surat perintah larangan terbit itu sudah dikirim dari Negeri Belanda pada bulan November 1745, tetapi baru sampai di Batavia tujuh bulan kemudian karena lambannya angkutan laut pada masa itu.

Setelah tenggang waktu cukup lama, barulah ada yang mencoba-coba kembali mengajukan permohonan izin menerbitkan surat kabar, itu pun setelah pergantian pucuk pimpinan VOC. Pada tahun 1775 Van Riemslijk, yang dikenal sebagai seorang moderat, diangkat sebagai gubernur jenderal VOC. Pada tahun itu juga, L. Dominicus, juru cetak yang berumur 33 tahun di Batavia, memperoleh izin menerbitkan mingguan berita lelang Het Vendu-Nieuws yang berukuran folio. Penerbitan ini dapat bertahan lama,

34 tahun. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1762-1818), penerbitan tersebut diambil alih oleh pemerintah. Sejak tanggal 5 Januari 1810, mingguan tersebut diganti namanya menjadi Bataviasche Koloniale Courant dan dijadikan penerbitan resmi pemerintah Hindia Belanda.

Pada waktu pendudukan Inggris di Indonesia, Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1812 mengubah Bataviasche Koloniale Courant menjadi Java Government Gazette. (Gazette berasal dari bahasa Italia gazetta. Gazetta semula adalah nama koran yang terbit di Venezia, Italia, sekitar tahun 1600-an yang harganya 1 gazetta. Gazetta atau gazette kemudian bergeser arti menjadi surat kabar).

Java Government Gazette, yang terbit sejak tanggal 29 Februari 1812, isinya berbeda dengan koran Belanda yang terbit sebelumnya. Dalam surat kabar berbahasa Inggris itu tidak hanya dimuat berita-berita tentang perdagangan dan kejadian di luar negeri tetapi ada pula lelucon yang bahkan kadang-kadang menyindir pemerintah. Penerbitan ini berakhir pada tanggal 13 Agustus 1816 karena pemerintah Inggris harus meninggalkan Indonesia. Java Government Gazette kembali berganti menjadi berbahasa Belanda ketika pemerintahan dikembalikan kepada Hindia Belanda. Nama mingguan itu menjadi De Bataviasche Courant, dan 12 tahun kemudian menjadi Javasche Courant.

Javasche Courant tidak terbit sendirian. Pada masa itu, jumlah koran mulai banyak dan bervariasi. Ada pula yang mulai terbit harian. Soerabaija Courant yang terbit mingguan pada tahun 1837, berubah menjadi harian sejak tahun 1861. Ada berkala yang berisi hasil riset berbagai aspek kehidupan di Indonesia, tentang hukum, kesehatan, kekristenan, dan lain-lain. Selain di Jakarta dan Surabaya, terbit pula koran di Bandung, Semarang, Padang, Palembang, bahkan juga di Cirebon.

Sampai akhir abad ke-19, semua surat kabar menganut garis resmi politik pemerintah. Suatu surat kabar harus disensor dulu sebelum diterbitkan. Kebebasan pers yang longgar sebentar setelah kemenangan kaum liberal di Negeri Belanda pada tahun 1854 berpengaruh di Indonesia. Namun, ketika kaum berserakan yang mencita-citakan kemerdekaan Indonesia kian berkembang, pemerintah Hindia Belanda lebih memperketat lagi pengekangan kebebasan pers.

Salah satu ranjau hukum yang menelan banyak korban adalah pasal-pasal haatzaai artikelen yang mengancam hukuman terhadap yang menyebarkan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap pemerintah. Dalam tempo satu tahun saja (1919-1920) belasan wartawan Indonesia dijatuhi hukuman. Tiga belas tahun setelah haatzaai artikelen ditetapkan, diberlakukan pula Persbreidel Ordonnan- t e (Ordonansi Pembredelan Pers). Kedua peraturan i u sangat merugikan pihak yang didakwa, antara lain karena tidak diberi kesempatan membela diri. Pengekangan terhadap kebebasan pers tersebut dimaksudkan untuk mengendalikan keadaan pada jaman yang tengah bergulir berubah.

Pada mulanya pers merupakan budaya Belanda: dimiliki, dikelola dan dibaca oleh orang Belanda atau orang yang berbahasa Belanda. Minat baca untuk itu tergolong tinggi. Pada tahun 1920 misalnya, terdapat sekitar 20 surat kabar dengan tiras berkisar sekitar 60.000 eksemplar dan jumlah orang Belanda di Indonesia diperkirakan 170.000 orang. Dengan demikian, koran dibaca oleh lebih dari 35 persen orang Belanda.

Pada masa-masa itu telah bermunculan orang- orang pribumi yang terpelajar, dan demikian pula di kalangan masyarakat keturunan Cina. Karena itu, bertumbuhan pula koran berbahasa daerah, bahasa Melayu (prabahasa Indonesia), dan koran Melayu-Tiong- hoa (Cina). Pada awalnya, koran berbahasa Melayu dikelola oleh orang Belanda, misalnya Bintang Soerabtja (1861) dan Pewarta Soerabaja yang menjadi bacaan orang Cina.

Kemudian bermunculan pers nasional, di antaranya Medan Prijaji yang semula mingguan (1907) dan kemudian menjadi harian (1910), dipimpin oleh Raden Mas Tirtoadhisoerjo, salah seorang perintis pers Indonesia. Oleh sebab itulah kebebasan pers semakin dikekang karena yang dikemukakan dalam koran swasta sering bertentangan dengan kebijakan pemerintah.

Antara tahun 1861 dan 1907, di Indonesia beredar 33 surat kabar di 12 kota yang dipimpin oleh 14 orang pribumi, 8 Belanda dan 10 Cina, sedangkan satu orang tidak jelas rasnya. Pada waktu itu beredar pula berkala dari Turki, Mesir dan penerbitan berbahasa Perancis dan Inggris untuk kalangan muslim. Pada masa akhir pemerintahan Belanda di Indonesia tercatat 33 koran dengan tiras sekitar 47.000 eksemplar.

Pada jaman pendudukan Jepang (1942-1945), semua media massa d’kuasai oleh pemerintah militer Jepang. Ketika iij terbit lima koran berbahasa Jepang, masing-masing di Jawa, Kalimantan. Sulawesi. Sumatra, dan Seram. Delapan koran berbahasa Indonesia tersebar 3 di Jakarta, 2 di Surabaya, dan di Bandung, Yogyakarta dan Semarang masing-masing sebuah.

Masa Merdeka. Berita Indonesia adalah surat kabar nasional pertama yang diterbitkan setelah Indonesia merdeka. Harian itu mulai terbit pada tanggal 6 September 1945 di Jakarta. Hampir sebulan kemudian, tanggal 1 Oktober 1945, terbit harian Merdeka pimpinan B.M. Diah. Koran tersebut masih terbit sampai sekarang walaupun B.M. Diah telah mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi. Menyusul kemudian Pedoman pimpinan Rosihan Anwar pada tanggal 29 November 1948 dan Indonesia Raya pimpinan Moch- tar Lubis pada tanggal 29 Desember 1949. Kedua koran yang disebutkan terakhir tidak terbit lagi karena dibredel setelah peristiwa Malari (“Malapetaka 15 Januari” 1974), demonstrasi besar oleh mahasiswa di Jakarta yang mengritik tajam kebijaksanaan ekonomi pemerintah.

Keadaan negara yang sering terguncang, seperti pada peristiwa Malari atau dalam masa SOB (,Staat van Oorlog en Beleg, negara dalam keadaan perang dan darurat), mengakibatkan penerbitan pers sering dibredel dalam jaman merdeka. Namun demikian, kemajuan di bidang industri pers terasa pesat sekali terutama setelah tahun 1970-an.

Pada tahun-tahun itu, surat kabar dan majalah mulai dicetak offset sehingga penampilannya lebih bagus, jelas dan rapi. Malah kemudian beberapa halaman dicetak dengan tata warna penuh. Sebelum itu, biasanya hanya dapat dicetak dua warna, umpamanya pada logo (nama) surat kabar.

Kemajuan di bidang percetakan membawa konsekuensi bahwa industri surat kabar itu mahal, namun hasilnya lebih efisien dan lebih cepat. Pada masa dulu, banyak persuratkabaran dimiliki oleh perorangan. Ketika percetakan semakin maju dan kian mahal, pemilikan surat kabar dan percetakan menjadi terpisah atau kedua pemilik melakukan usaha gabungan. Adakalanya beberapa orang pemilik modal bergabung untuk menerbitkan surat kabar dengan atau tanpa percetakan.

Sejak tahun 1980-an, beberapa penerbit pers masing-masing sekaligus menerbitkan beberapa media massa. Umpamanya, kelompok harian Kompas menerbitkan juga majalah Intisari, Bobo, Kawanku, dan Jakarta Jakarta, serta tabloid Bola, Nova, dan Monitor. Selain itu, penerbit yang sama mengelola koran- koran daerah Surya di Surabaya (bersama kelompok harian Pos Kota dari Jakarta), Serambi Indonesia di Banda Aceh, Sriwijaya Post di Palembang, Mandala di Bandung, dan Berita Nasional di Yogyakarta. Di samping Kompas^ ada beberapa penerbit lain yang mempunyai kesatuan pengelolaan antara koran Jakarta dan koran di suatu atau berbagai daerah. Kemajuan teknologi mendukung upaya ini.

Pengiriman berita ^dan foto dari suatu tempat ke tempat lain yang berjauhan kini tidak hanya dilakukan melalui telegram, surat dan telepon, melainkan juga dengan faksimili, telefoto (pengiriman foto melalui pesawat telepon), atau radiofoto. Penggunaan komputer pun sangat meringankan, lebih efisien dan lebih cepat. Namun, teknologi canggih menciutkan jumlah tenaga kerja dan menuntut orang berkeahlian.

Keuntungan lain, misalnya, dalam penerimaan iklan. Penggunaan sistem pagefax, yakni fasilitas transmisi elektronik, memungkinkan koran atau majalah masih bisa menerima pesanan iklan empat halaman warna dalam tempo tiga jam sebelum batas akhir waktu yang ditentukan dan serempak dicetak di beberapa negara tempat koran itu beredar. Ini adalah bentuk pelayanan mutakhir dari media massa tercetak bagi pemasang iklan yang senantiasa mendapat keistimewaan.

Iklan adalah sumber penghasilan bagi penerbit, dan dengan iklan penerbit juga dapat menekan harga lang-ganan. Penerimaan iklan adakalanya langsung dari produsen, tetapi sering pula melalui biro iklan. Koran yang berpengaruh dan bertiras banyak menjadi tumpuan pemasang iklan. Untuk pemerataan agar koran kecil pun mendapat iklan, pemerintah Indonesia membatasi jumlah halaman iklan sampai 35 persen dari jumlah seluruh halaman surat kabar. Dalam hal iklan, media massa tercetak bersaing dengan media massa elektronik, baik radio maupun televisi.

Media massa tercetak juga bersaing dengan sesa-manya dalam merebut jumlah pembaca. Kenaikan jumlah pembaca dari tahun ke tahun relatif kecil; menurut suatu penelitian hanya sekitar empat persen. Sedangkan jumlah penerbitan pers di Indonesia lebih dari 150 (60 persen koran dan 40 persen majalah). Untuk meningkatkan jumlah pembaca, pemerintah menyelenggarakan program koran masuk desa, yang sekaligus juga untuk mengurangi ketimpangan informasi antara kota dan desa. Penduduk kota hanya sekitar 20 persen dan desa 80 persen, namun arus informasi terjadi sebaliknya: dari kota 80 persen dan sisanya dari desa.

Bentuk persaingan yang lain adalah pada segi memperoleh dan mengolah berita. Masing-masing berusaha mendapatkan berita yang eksklusif dan cepat dari sumber yang tepat dan diolah selengkap-lengkapnya. Suatu berita yang menarik dikembangkan pada edisi-edisi berikutnya, baik dengan cara menyajikan kelanjutan peristiwa yang diberitakan ataupun dikomentari oleh orang yang tepat memberikan pendapat. Koran juga berlomba menuliskan berita yang menarik secara lengkap, misalnya dengan ditambah latar belakang, perbandingan dan komentar.

Perkembangan koran selama dasawarsa-dasawarsa terakhir dalam berbagai segi sangat cepat. Hal ini sangat kontras dengan masa awal pertumbuhannya pada masa silam yang jauh, yang perkembangannya lamban dan bersahaja.

Incoming search terms:

  • nama koran sesudah tahun 1945
  • nama surat kabar terbit sebelum tahun 1945
  • nama surat kabar sebelum tahun 1945
  • surat kabar setelah tahun 1945
  • surat kabar indonesia sebelum kemerdekaan
  • nama nama koran sebelum tahun 1945
  • surat kabar sebelum tahun 1945
  • nama koran sebelum kemerdekaan
  • nama koran majalah sebelum tahun 1945
  • nama koran atau majalah sebelum tahun 1945

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • nama koran sesudah tahun 1945
  • nama surat kabar terbit sebelum tahun 1945
  • nama surat kabar sebelum tahun 1945
  • surat kabar setelah tahun 1945
  • surat kabar indonesia sebelum kemerdekaan
  • nama nama koran sebelum tahun 1945
  • surat kabar sebelum tahun 1945
  • nama koran sebelum kemerdekaan
  • nama koran majalah sebelum tahun 1945
  • nama koran atau majalah sebelum tahun 1945