BAGAIMANA CARA MENGEVALUASI PARADIGMA BELAJAR

26 views

BAGAIMANA CARA MENGEVALUASI PARADIGMA BELAJAR – Paradigma belajar dalam perilaku abnormal berada pada posisi yang sama dengan paradigma biologis. Seperti halnya banyak malfungsi biologis penting yang belum terungkap, abnormalitas jarang dapat dipastikan penyebabnya berawal pada pengalaman pembelajaran tertentu. Pertimbangkan betapa sulitnya, sebagai contoh, menunjukkan bahwa depresi merupakan hasil suatu riwayat penguatan tertentu. Seseorang harus diamati secara terus-menerus selama bertahun-tahun, sementara perilakunya dicatat demikian juga berbagai penguatan yang muncul. Jika sepasang kembar identik yang dibesarkan oleh orang tua kandung mereka kemudian menderita skizofrenia, ahli klinis yang memiliki pandangan belajar dapat mengatakan bahwa mereka mengalami riwayat penguatan yang sama; sementara jika sepasang kembar fraternal (dua telur) dibesarkan bersama dan hanya satu yang kemudian menderita skizofrenia, pandangan belajar akan menjelaskan bahwa mereka memiliki riwayat penguatan yang berbeda. Penjelasan semacam itu sama berputar-putarnya dan sama tidak memuaskannya dengan beberapa kesimpulan psikoanalisis mengenai proses-proses ketidaksadaran, suatu penjelasan yang ditolak oleh para behavioris. –

Walaupun penggunaan penjelasan pembelajaran dalam perilaku abnormal meng-hasilkan banyak inovasi dalam penanganan, fakta bahwa penanganan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran efektif untuk mengubah perilaku tidak menunjukkan bahwa perilaku itu sendiri dipelajari dengan cara yang sama. Sebagai contoh, jika kondisi perasaan seseorang yang menderita depresi terangkat karena pemberian penghargaan terhadap peningkatan aktivitas, hal tersebut tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa depresi dan apati pada awalnya disebabkan oleh ketiadaan penghargaan (Rimland, 1964).

Bagaimana pengamatan terhadap model diterjemahkan dalam perubahan perilaku yang terlihat? Dalam tulisan pertama mereka tentang modeling, Bandura dan Walters (1963) menyatakan bahwa seorang pengamat walau bagaimanapun dapat mempelajari perilaku baru dengan mengamati orang lain. Mengingat bahwa titik berat sebagian besar psikologi eksperimental adalah pembelajaran melalui tindakan, pandangan terhadap pembelajaran tanpa melakukan tindakan tersebut menjadi penting. Namun, pandangan tersebut mengabaikan proses_-pros-es yang mungkin memiliki peranan. Sebuah renungan singkat atas eksperimen modeling tipikal menunjukkan arah yang telah menjadi tujuan teori dan riset dalam tahuntahun terakhir. Si pengamat, yaitu seorang anak, duduk di kursi dan menonton film yang menampilkan seorang anak yang melakukan sejumlah gerakan, seperti memukul boneka plastik besar yang menggelembung dengan gerakan yang sangat stereotip, dan mendengar si anak dalam film tersebut mengeluarkan suara-suara aneh. Satu jam kemudian, si anak diberi kesempatan untuk meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Anak tersebut mampu melakukan hal yang sama, sebagaimana diprediksikan oleh akal sehat dan kearifan.

Bagaimana kita dapat memahami apa yang terjadi? Karena si anak tidak melakukan gerakan motorik apa pun ketika menonton film tersebut, kecuali mungkin gelisah di kursinya, maka tidak ada gunanya mencari petunjuk dalam perilaku yang terlihat. Jelaslah bahwa proses kognitif si anak bekerja, termasuk kemampuan untuk mengingat apa yang telah terjadi. Data semacam itu membuat beberapa peneliti behavioral dan ahli klinis memasukkan beberapa variabel kognitif dalam analisis mereka terhadap psikopatologi dan terapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *