BAGAIMANA MENGEVALUASI PARADIGMA KOGNITIF – Beberapa kritik terhadap paradigma kognitif harus dicatat. Konsep-konsep yang mendasarinya (a.1., skema) cukup meragukan dan tidak selalu didefinisikan dengan baik. Lebih jauh lagi, penjelasan kognitif terhadap psikopatologi tidak selalu menjelaskan lebih banyak hal. Bahwa seorang penderita depresi memiliki skema negatif menunjukkan pada kita bahwa orang tersebut memiliki pikiran-pikiran yang membuatnya tertekan. Namun, pola pikir semacam itu sebenarnya merupakan bagian diagnosis depresi. Hal yang membedakan dalam paradigma kognitif adalah pikiran memiliki status kausal; pikiran dianggap menyebabkan fitur lainnya dari suatu gangguan, seperti kesedihan. Pertanyaan lain yang tidak terjawab adalah bagaimana skema negatif terbentuk pada awalnya. Penjelasan kognitif terhadap psikopatologi cenderung terfokus pada berbagai gejala gangguan pada saat ini dan kurang mempertimbangkan hal-hal yang memicunya di masa lalu.

Apakah sudut pandang kognitif pada dasarnya berbeda dan terpisah dari paradigma belajar? Sebagian besar dari yang telah kami sampaikan menunjukkan demikian. Namun, bidang terapi perilaku kognitif yang terus berkembang memberikan jeda kepada kami, karena orang-orang yang bergelut dalam bidang itu mempelajari keterkaitan kompleks antara keyakinan, harapan, persepsi, dan sikap di satu sisi dan perilaku yang terlihat di sisi lain. Sebagai contoh, Albert Bandura (1977), teoris kognitif-behavior yang terkemuka, berargumentasi bahwa banyak terapi lainnya menghasilkan perbaikan dengan meningkatkan rasa self-efficacy pada para klien, yaitu suatu keyakinan bahwa mereka dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Namun, pada saat yang sama, dia berargumentasi bahwa mengubah perilaku melalui teknik-teknik behavioral adalah cara yang paling berhasil untuk meningkatkan self-efficacy. Terapis seperti Ellis, secara kontras, menekankan perubahan kognisi secara langsung melalui argumen, persuasi, dialog Sokratik, dan semacamnya untuk menghasilkan perbaikan emosi dan perilaku. Hal-hal yang membingungkan masih terus berlanjut, Ellis dan para pengikutnya juga cukup menekankan pentingnya penugasan-penugasan pekerjaan rumah yang menghendaki klien untuk berperilaku dengan cara yang sebelumnya mereka tidak mampu melakukannya karena terhambat pikiran-pikiran negatif mereka sendiri. Ellis bahkan mengganti nama terapinya menjadi terapi perilahu rasional-emotif (rational emotive behavior therapy) untuk menunjukkan pentingnya perilaku yang terlihat. Para terapis yang menggunakan terapi perilaku kognitif bekerja pada tingkat kognitif dan behavioral, dan sebagian besar dari mereka yang menggunakan konsep-konsep kognitif dan mencoba mengilbah berbagai keyakinan secara verbal juga menggunakan prosedur behavioral utatuk mengubah perilaku secara langsung.

Filed under : Bikers Pintar,