Advertisement

Mengenai keampuhan kata-kata untuk membentuk sikap diuraikan oleh Zimbardo & Leippe (1991) spbagai berikut. Hitler adalah diktator yang pada masanya sangat berkuasa dan didukung oleh massa pengikutnya. Padahal, ia sendiri adalah seorang yang bertubuh kecil. Secara fisik ia tidak meyakinkan. Akan tetapi, ia mampu merangsang sikap positif massa terhadap dirinya melalui keterampilannya berpidato yang penuh retorika (irama yang membangkitkan semangat). Ia pun menggunakan bantuan bendera-bendera dan lambang-lambang besar yang dipasang di segala penjuru untuk membaritu terbentuknya citra pribadi yang besar dan perkasa. Berbeda dari Hitler, Martin Luther King, tokoh pembela persamaan hak kulit hitam di Amerika Serikat (antara tahun 1950-1960an) tidak menggunakan bendera-bendera megah untuk membantu tumbuhnya citra yang positif pada dirinya. Aktivitasnya yang langsung di tengah-tengah pengikutnya, langsung turun ke jalan untuk berdemonstrasi bersama pengikut-pengikutnya adalah hal-hal yang membuatnya disukai oleh pengikutnya. Namun, seperti halnya Hitler, ia menggunakan keterampilannnya untuk beretorika. Ia membuat kata-kata sederhana yang mudah serta menyentuh perasaan dan gampang untuk diulang-ulang, sehingga kalau King berpidato dan mengucapkan kata-kata itu, massa dengan mudah ikut mengucapkan kata-kata itu beramai-ramai. Kata-kata yang diulang-ulang, menimbulkan keyakinan akan kebenaran katakata itu sendiri.

Di Indonesia, Bung Karno juga menggunakan teknik serupa. Dengan kemampuan retorikanya yang didukung oleh wajah yang tampan dan gagah, ia menciptakan slogan-slogan yang mudah dihapal sehingga anak-anak di desa pun dapat mengucapkan slogan-slogan, seperti NEKOLIM (Neo Kolonialisme dan Imperialisme), MANIPOL (Manifesto Politik), dan TAVIP (tahun Vivere Pericoloso). Pada masa itu, semua berbicara seperti Bung Karno dan karena pengulangan yang terus menerus, keyakinan akan apa yang diucapkan itu makin tebal.

Advertisement

Sudah barang tentu gaya retorika lebih mengarahpada domain afeksi (perasaan) daripada kognisi untuk membangun sikap. Akan tetapi, penggunaan kata-kata untuk membentuk suatu sikap tertentu juga dapat dilakukan melalui domain kognitif. Menurut Zimbardo & Leippe (1991), Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan adalah contoh dari orang yang mampu memiiih kata-kata sederhana untukberkomunikasi dengan massa. Ia dikenal sebagai komunikator yang baik, karena ia mewakili rata-rata orang Amerika dan berbahasa seperti kebanyakan orang Amerika, logikanya juga seperti logika orang kebanyakan (mungkin karena la tar belakangnya yang juga seorang aktor) sehingga masyarakat mudah mengikuti jalan pikirannya dan menerimanya.

Advertisement