Advertisement

1. Terdapat suatu versi umum Marxisme yang tertanam dalam pikiran orang banyak, tetapi yang tesis-tesisnya tidak dianut oleh Marx maupun Engels, juga pengikut-pengikutnya. Tesis- tesis ini meliputi:

a) Materalisme dialektis Dalam semua bagiannya dan pada semua tingkat, kenyataan berlangsung melaiui proses pertentangan dialektis, dengan menggunakan pola tesis- antitesis -sintesis, yang meluhirkan kualitas-kualitas baru.

Advertisement

b) Kamunism primitif dan perjuangan kelas. Kendati pada awalnya masyarakat ditandai dengan suatu kesatuan komumal primitif, masyarakat telah berlangsung melaiui sejumlah pertentangan awal sampai dengan pertentangan puncak sekarang ini di antara kelas kapitalis di satu pihak, dan kelas buruh di pihak Iain,

c) Akhir proses ini mau tak mau akan berakhir dengan penghapusan kapitalisme dan kemenangan kelas buruh. Dengan kemenangan ini dialektika mesti/harus berakhir, karena masyarakat akan menghapuskan pertentangan di dalam dirinya sendiri.

d) Merupakan hukum sejarah bahwa revolusi akan terjadi pada tahap tertentu dari konflik kapitalis-proletariat. Maka, revolusi itu bersifat internasional, dan terjadi pada tahap tertentu masyarakat industrial,

e) Kediktatoran proletariat. Dalam perjalanan menuju zaman harmoni yang dijanjikan mesti ada suatu tahap yang timbul di mana proletariat harus memegang pimpinan. Ini merupakan tahap yang memungkinkan ideologi kapitalis terbasmi dari masyarakat lewat pendidikan.

f) Tergulingnya negara. Dengan adanya perbaikan fungsi-fungsi, kepenindasan negara makin kurang penting. Negara, sebagai suatu entitas yang teroganisir akan bisa hilang menjadi suatu hubungan komunal baru yang mirip dengan masyarakat primitif.

g) Dominasi cara produksi. Dalam semua masyarakat yang ditandai alienasi (keterasingan), cara produksi mengendalikan prestasi- prestasi bagi masyarakat. Perubahan dalam yang pertama akan membawa perubahan dalam yang belakangan. Maka, artefak-artefak budaya bersifat epifenomenal, dan harus ditafsirkan dalam kerangka ekonomi.

2. Meskipun Marx menyibukkan diri dengan isu-isu yang Iain, ia memberi komentar juga, secara singkat, tentang (b) sampai dengan (f). Topik-topik ini diangkat dalam pengertian yang sedikit lain, sebagaimana dapat dilihat dari sudut pandangannya. Marx tidak pernah menyinggung materialisme dialektis, atau dominasi cara produksi.

3. Engels menganut (a) sampai dengan (0, dengan mengembangkan masing-masing tesis secara lebih luas daripada Marx. Dialah yang menyumbangkan ide materialisme dialektis. Dia sering juga dianggap sebagai pencetus (g). Tetapi rupanya dia tidak menganut dominasi cara produksi secara ekstrem. Menurutnya, ungkapan budaya dapat memiliki kekuatan kausal dalam dirinya sendiri. Itu berarti semata-mata ungkapan cara produksi.

4. Pada mulanya Lenin mengikuti Marx secara dekat, dengan menekankan (b) sampai dengan (f). Ia membuang (a), seraya menamakan keasyikan Engels dengan dialektika sebagai sisa- sisa Hegelianisme. Dalam penekanan pentingnya individu dalam perjuangan revolusioner, dia mengurangi (g). Tahun-tahun berikutnya ia menganggap dialektika sebagai bagian yang tak terpisahkan dari materialisme. Ia juga menambahkan, atau paling tidak menjelaskan, suatu proposisi lain yang penting bagi Marxisme, yang mungkin dapat ditambahkan pada daftar diatas: (h) Realisme epistemologis. Persepsi dan konsepsi dalam kesadaran manusia merupakan salinan yang jitu dari hal-hal yang real. Lenin melihat proposisi ini penting untuk membela materialisme, dan menghalangi jalan masuk ke Idealisme. Dalam menganut pandangan ini ia juga menganut bahwa kesadaran merupakan pencerminan dunia. Dan ini pada gilirannya menuntut (g) di atas; dan bukan suatu ajaran yang menekankan pentingnya usaha perorangan. Maka, dapatlah dikemukakan bahwa Lenin pada akhirnya mesti dipandang sebagai Sang Marxis sejaci; yang menganut proposisi-proposisi (a) sampai dengan (h).

5. Pengikut Marx dan Engels yang non-revisionis dan dekat ter- masuk Kautsky dan Labriola di Italia. Kantsky menyuntLng Die Neue Zeit, organ resmi partai Sosial Demokrat Jerman, dan melanjutkan tugas penerbitan naskah-naskah Marx setelah Engels mati, dan juga menulis bagian-bagian teoretis dari Program Erfurt.

6. Di kalangan kaum eksistensialis kontemporer, Marxisme mempunyai pengaruh yang besar sekali, kendati eksistensialisme jarang menjadi bahan yang cocok untuk versi umum Marxisme yang dipaparkan pada (1) di atas. Sartre, misalnya, beranggapan bahwa eksistensialismenya merupakan “enclave” (kantong) di dalam Marxisme. Merleau-Ponty mcragukan dialektika. Dalam masyarakat, menurutnya, terdapat ketenderungan-kccenderungan yang dapac bcrkembang dalam lebih dari satu arah.

Beberapa Versi Marxisme

 

Advertisement