Bedanya dengan Deisme dan Panteisme

1. “Deisme” dan “deis” juga muncul pada abad ke-17 di Inggris, tetapi lebih dulu dibandingkan dengan istilah-istilah yang berakar kata tbeos. Adakalanya dua pasang istilah itu digunakan sebagai sinonim. Namun sebenarnya ditarik perbedaan bahwa dalam deisme Allah memang pencipta, tetapi tidak berhubungan dengan ciptaan-Nya. Sebaliknya, dalam teisme Allah terus memelihara hubungan dengan ciptaan-Nya. Berbeda dengan deisme, teisme mempertahankan adanya pemeliharaan Allah terhadap semua makhluk dan kerja sama-Nya yang tetap dengan mereka maupun penyelenggaraan Allah dan kemungkinan campur tangan-Nya yang luar biasa di dunia dengan wahyu dan mukjizat-mukjizat.

2. Teisme berbeda dari Panteisme, karena bagi Panteisme Allah, yang diidentikan dengan dunia, sama sekali imanen. Dalam teisme, Allah baik transenden maupun imanen. Teisme sangat menekankan perbedaan substansial antara Allah dan dunia.

3. Hartshorne mengetengahkan bahwa dalam teisme klasik, yaitu konsepsi Allah Abad Pertengahan sebagai absolut, unsur atau segi transendensi ilahi mendapat penekanan jauh lebih besar dibandingkan unsur imanensi-Nya. Malah menurut pandangan ini hanya ada hubungan satu-arah antara Allah dan dunia. Artinya, dunia berhubungan dengan Allah tetapi Allah tidak berhubungan dengan dunia. Hartshorne dengan demikian membedakan antara teisme klasik dan teisme dwi-kutub. Yang terdahulu menandaskan kemutlakan ilahi, sedang yang kemudian memelihara keseimbangan antara imanensi dan transendensi, kemutlakan dan kenisbian dalam konsepsi Allah.