Objek studi psikologi.

Behaviourism (behaviorisme) adalah Ini adalah aliran pemikiran dominan dalam PSYCHOL­OGY akademis sejak diterhitkannya karya klasik J. B. Watson, Behaviourism, pada 1924. Tidak banyak yang menerima teor­inya tanpa keberatan. Namun sebagian be­sar setuju dengan ciri-ciri umum dari pan­dangannya. Dia mengklaim:

Mengubah perilaku.

  1. Kejadian mental tidak bisa menjadi data sains, dan karenanya objek studi psikologi yang tepat adalah perilaku, bukan pikiran atau perasaan;
  2. Semua perilaku adalah efek dari pen­guatan (reinforcement), yakni respons terhadap stimulus adalah konsekuensi dari berulangnya koinsidensi respons dengan imbalan (atau hukuman); dan
  3. Teknik eksperimental dalam psikolo­gi memungkinkan untuk memanipulasi atau mengubah perilaku ke arah yang dapat diterima secara sosial. Karena semua perilaku itu dikondisikan, ti­dak banyak muncul keberatan terha­dap pengkondisian yang dianggap ber­beda dari persuasi rasional.

Cara introspeksi.

Mazhab behaviorisme pertama-tama muncul dari protes terhadap keadaan ilmu psikologi yang tidak memuaskan di masa peralihan abad. Wilhelm Wundt, Edward Titchener, dan William James mengusulkan agar psikologi mempelajari kejadian men­tal dengan cara introspeksi. Proses ini tidak reliabel, karena sulit mereplikasi temuan­nya. Ini adalah anatema bagi generasi yang dipengaruhi oleh konsep sains yang diam­bil dari Ernst Mach dan ilmuwan yang suk­ses dalam memprediksi kejadian di dunia fisik. Gerakan tubuh, sebaliknya, tampak­nya cukup memenuhi permintaan data ilmiah yang reliabel. Asumsinya adalah pe­rilaku selalu merupakan respons terhadap stimuli penguat dan asumsi ini menyedia­kan peluang untuk eksperimen yang ter­kontrol. Jadi, behaviorisme adalah sudut pandang dari psikologi eksperimental itu sendiri. Tetapi, Watson melangkah lebih jauh. Di Chicago dia adalah murid dari Jacques Loeb, yang mengklaim telah menciptakan kehidupan dalam tabung percobaan, dan yang menganggap sains sebagai cara un­tuk mengontrol dan mengubah alam. Wat­son menganut pandangan ini, dan bersa­ma muridnya, B. F. Skinner (1938; 1959; 1971), ia memopulerkan citra behavior­isme sebagai resep untuk rnemecahkan kecemasan individu dan penyakit-penya­kit dunia. Para psikolog seperti Clark L. Hull dan E. C. Tolman memandang stim­ulus-response (S-R) sebagai teknik untuk memperbaiki konsep kita tentang aparatus mental dan psikologis yang mereka anggap memperantarai stimulus dengan respons, sedangkan Skinner menengok pada peng­uatan sebagai alat yang dipakai eksperi­menter untuk memunculkan perilaku. Pandangan ini bisa disehut behavior­isme ideologis, karena ia menggunakan konsep bahwa perilaku dibentuk oleh tu­juan dari tindakan. Ia memerlukan penje­lasan tentang keberhasilan dan kegagalan kinerja, bukan sekadar deskripsi netral atas gerak tubuh, yang biasanya dianggap sebagai dasar ilmiah dari teori psikologi. Mendefinisikan perilaku agar memenuhi kebutuhan data merupakan problem ter­sendiri bagi behaviorisme pada umurnnya. Eksperimen pemecahan teka-teki klasik di­dasarkan pada asumsi bahwa subjek akan mengharapkan imbalan dan akan ber­usaha memecahkan teka-teki lebih cepat ketimbang pesaingnya. Perlaku subjek ini tidak dideskripsikan dengan mengana­lisisnya menjadi unit-unit. Desain ekspe­rimental ini telah mengasumsikan bahwa subjek rnencari imbalan. Tetapi, kemudi -an tidak jelas mengapa kita tidak dapat mctigat langsting ()alma subjek robin imbalan dan tabu cara mendapatkannya.

Deskripsi gerakan tubuh.

Behaviourism (behaviorisme) adalah Banyak upaya yang dicurahkan pada eksperimen ini memunculkan usaha untuk melakukan pencatatan, misalnya, tingkat pembelajaran. Tetapi masih bisa dipertan­yakan apakah hasil-hasil eksperimen ini punya implikasi penting bagi pemahaman kita tentang perilaku dan struktur organ­isme itu sendiri. Upaya pencatatan tingkat eksperimen pembelajaran tidak melibatkan dimensi batin tapi juga tidak mengesam­pingkannya. Dan, juga tidak membutuh­kan deskripsi gerakan tubuh. Pembelaja­ran adalah sebentuk pencapaian; ia adalah data eksperimental. Makna perilaku dalam konteks ini adalah apa yang dilakukan or­ganisme, bukan sekadar bagaimana organ­isme bergerak. Klaim Skinner tentang ke­ampuhan penggunaan metode non-mental untuk mengubah perilaku tampaknya ber­tentangan dengan klaim lainnya bahwa, dengan adanya kontrol yang cukup atas organisme, kita bisa memaksanya untuk melakukan apa yang kita inginkan. Ke­mungkinan untuk melakukan kontrol ini diperlihatkan oleh misalnya memerintah anjing herdiri dengan dua kaki belakang­nya, lumba-lumba melompati lingkaran api, memerintah tentara maju perang. Tempi deskripsi metode pengkondisian ini tampaknya membutuhkan beberapa penjelasan tentang tujuan, niat dan motif, setidaknya dari pihak eksperimenter. Jika demikian, maka diperlukan pula deskrip­si tentang organisme sebagai entitas yang bertindak dengan tujuan, bukan sekadar memperlihatkan gerakan fisik. Banyak kritik terhadap pandangan Skinner didasarkan pada alasan politik dan moral. Pengkritik itu mengatakan dia telah mereduksi motivasi manusia hingga ke bentuk hedonisme yang paling seder­hana. Dia mendukung penguatan positif (yakni imbalan ketimbang hukuman), bu­kan karena hal itu lebih baik tetapi karena penguatan itu merupakan metode mani­pulasi yang lebih ampuh. Klaimnya ten-tang keampuhan metode ini juga dianggap berkbihan. Respous akan term nn (lenyap) seiring dengan berjalannya waktu, dan karenanya harus sering-sering dilaku­kan retraining (training-ulang). Kebiasaan yang memudar mungkin bisa dijelaskan se­cara teoretis, tetapi sebagai metode kebi­jakan sosial, pengkondisian akan membe­bani masyarakat dengan biaya yang amat besar.

Bahasa pur­posif psikologis. Behaviourism (behaviorisme) adalah

Kritik jenis ini adalah penting, meski mereka difokuskan, mungkin dengan ber­lebihan, pada karya polemik Skinner. Mes­ki demikian kritik itu melahirkan ekspe­rimen psikologi yang berorientasi tujuan, yang melemahkan klaim bahwa perilaku dapat dideskripsikan tanpa menggunakan penjelasan tentang motif, tujuan dan tin­dakan. Penghindaran penggunaan bahasa pur­posif psikologis dan bahasa mentalistik adalah reaksi terhadap klaim introspeksi­onis yang tidak dapat diverifikasi. Reak­si ini muncul dalam dua bentuk. Behavi­ouris radikal seperti Watson dan Skinner menyangkal eksistensi, atau setidaknya, signifikansi, dari peristiwa yang ditemu­kan melalui introspeksi. Dengan asum­si bahwa setiap penggunaan pembicara­an purposif atau mental mengimplikasikan bahwa pembicara berada dalam proses in­trospeksi, maka mereka menyangkal bah­wa ada sesuatu yang mengintervensi di antara stimulus dan respons. Semua refe­rensi pada dorongan, motif, atau kesadar­an dapat direduksi menjadi bahasa S-R. Skinner, karenanya, meninggalkan penjela­san psikologis yang, sejak masa Pavlov (1927), memunculkan dorongan pent­ing bagi perkembangan metode behavior-is. Karya Hebb (1949) adalah salah satu contoh. Psikolog diminta untuk memper­baiki cara mendeskripsikan gerakan tubuh agar dapat rnengambil kesimpulan tentang struktur dan fungsi dari sistem syaraf. Psikolog lain seperti Hull (1943) dan Thlman (1958) menganggap bahwa diper­lukan identifikasi yang tepat atas stimulus din respons untuk mengetahui proses inte­rior yang diamati secara tak seinpurna oieh kubu introspeksionis. Pandangan mereka mendapat dukungan dari pandangan bah­wa dalam sains orang akan mengajukan “konstruk hipotetis” atau “variabel inter­vensi,” yang darinya bukti eksperimental muncul secara logis dan kejadian lanjut­an dapat diprediksi. Bagi beberapa pihak, model tersebut tidak merujuk pada kejadi­an atau struktur riil, tetapi hanya alat heu­ristis untuk membuat prediksi; bagi pihak lain deskripsi yang tepat atas proses pem­belajaran mesti dilakukan dengan alasan bahwa deskripsi itu dapat memberi kita peta pikiran yang akurat (misalnya, Tol­man). Konsep dorongan (drive) memain­kan peran sentral dalam semua teori dari jenis ini. Kekuatan dorongan diduga dapat membantu prediksi (Skinner, tentu mja, akan berargumen bahwa tidak ada perbe­daan antara dorongan dengan ringkasan re­spons). Konsep ini juga mendukung klaim tentang proses interior, yang bagaimana­pun juga masih problematik.

Behaviorisme psiologis. Behaviourism (behaviorisme) adalah

Kini tak lagi jelas seperti di tahun 1950-an apakah behaviorisme psiologis memberi banyak kontribusi bagi pemahaman kita tentang perilaku organisme. Ada beberapa alasan dari munculnya kesangsian ini. Kri­tik paling lengkap adalah yang didasarkan pada karya Wittgenstein (1953) dan Ryle (1949), yang mereka sendiri dideskripsikan sebagai behavioris, karena mereka setu­ju bahwa introspeksi bukan cara yang te­pat untuk mengakses pikiran. Wittgenstein beragumen bahwa kita tidak dapat yakin bahwa kita bisa mengaplikasikan suatu is­tiiah secara tepat pada pengalaman privat. Jadi, pembicaraan kita tentang pikiran dan perasaan tidak dapat secara logis dilapor­kan sebagai data privat. Ryle mengecam konsep tentang pemikiran sebagai tempat berlangsungnya peristiwa-peristiwa men­tal. Kita tidak mengamati pemikiran kita lalu melaporkannya; pikiran kita adalah ucapan kit-a. Kita tidak mendeski ipsikan perasaan kita sebagaimana kita mengek­spresikannya. Aktivitas mental, atau seba­gian besar dari aktivitas itu, adalah apa­apa yang kita lakukan. Penelitian mereka adalah pada kehidupan sehari-hari dan bahasa sehari-hari yang kita pakai. Dalam setting ini, adalah tidak tepat un­tuk berbicara tentang gerakan organisme sebagai basis untuk menarik kesimpulan tentang pikiran, niat, perasaan dan tujuan. Deskripsi dasar kita tentang perilaku ter­diri dari pembicaraan tentang tindakan yang gagal dan sukses, bukan dari gerak­an-gerakan.

Stimulus atau dorongan. Behaviourism (behaviorisme) adalah

Behaviourism (behaviorisme) adalah Implikasi dari “behaviorisme” filosofis bagi psikologi empiris adalah penting. Jika argumen-argumennya benar, pandangan introspeksionis akan runtuh tanpa menin­ggalkan ruang untuk diisi oleh riser ilmi­ah. Kita telah melihat seberapa jauh desain eksperimental dalam psikologi terkait den­gan sudut pandang kehidupan sehari-hari. Teka-teki dibuat dengan tujuan untuk men­getahui seberapa cepat orang memecah­kannya. Makanan disebut imbalan, dan tidak memberi makanan selama berjam­jam disebut stimulus atau dorongan. Ini adalah bahasa yang sulit dibedakan secara konseptual dari pembicaraan tentang rasa lapar dari subjek, preferensinya, strategin­ya dan penemuannya. Ini adalah bahasa di mana di dalamnya tersirat adanya pema­haman perilaku. “Dalam psikologi,” kata Wittgenstein, “ada metode eksperimental dan kebingungan konseptual” (Philosoph­ical Investigations, II, h. ix). Upaya be­havioris untuk mereduksi tindakan men­jadi gerakan semata akan berguna jika ia difokuskan pada perhatian pada problem psikologis; jika tidak, ia harus mencari jus­tifikasinya bukan dalam pertanyaan ten-tang apa yang akan kita lakukan, namun dalam kaidah metode ilmiah. Belakangan ini ada tanda-tanda penu­runan minat terhadap teori behavioris, meskipun juga ada pembelaan terhadap model S-R oleh kubu ahali epistemologi dan filsuf LANGUAGE. Karya Quine, Word anti Object (1960), adalah contoh yang bagus. Tetapi, dalani psikologi yang diang­gap sebagai disiplin ilmiah yang otonom, sejak Spence (1956) berusaha mengka­ji lebih jauh karya Hull, tidak banyak lagi ada upaya dilakukan untuk pengembang­an. Selama 15 tahun terakhir ini ide bah­wa studi eksperimental terhadap respons organisme dalam kondisi terkontrol sema­kin banyak dikecam dari pihak yang per­caya bahwa tidak ada penjelasan perilaku yang sah kecuali dalam konteks pemaha­man biologis dan evolusi organisme. Be­havioris klasik melihat pada apa yang di­lakukan organisme berdasar perspektif imbalan atau stimuli hukuman. Jadi, me­reka tidak mampu mengenali signifikansi perilaku altruistis. Ini adalah respons, kata ahli sosiobiologi, hanya dapat dijelaskan berdasar asumsi bahwa altruisme memak­simalkan peluang pemindahan materi ge­netik ke generasi berikutnya. Perkembang­an SOCIOBIOLOGY menunjukkan kemiripan dengan behaviorisme psikologis, dan juga dikritik dengan cara yang serupa. Sosiobi­ologi menarik dalam konteks ini karena ia memberi perhatian pada dasar-dasar ser­ta kekurangan dari strategi behavioris. Be­haviorisme lebih baik dilihat sebagai usaha menjadikan psikologi sebagai ilmu yang berbeda dengan ilmu lainnya.

Filed under : Bikers Pintar,