Advertisement

Menurut H. Hamrat Hamid dan Harun M. Husein dikenal bentuk surat dakwaan tunggal, surat dakwaan alternatif, surat dakwaan subsider, surat dakwaan kumulatif,
surat dakwaan kombinasi (H. Hamrat Hamid dan Harus M Husein, 1992).
Dikatakan surat dakwaan tunggal karena hanya satu dakwaan saja yang didakwakan kepada terdakwa. Bentuk ini dipergunakan apabila tirrdak pidana yang dilakukan bersifat tunggal, tidak terdapat alternatif lain maupun kemungkinan membuat dakwaan pengganti. Umpamanya terdakwa telah melakukan tindak pidana menyebabkan matinya orang lain. Kepada terdakwa cukup didakwakan satu perbuatan (tunggal) saja, yakni tindak pidana pasal 359 KUHP.
Bentuk dakwaan alternatif di-pergunakan dalam hal terdapat kemungkinan untuk mendakwakan beberapa tindak pidana, di mana tindak pidana yang satu dengan yang lain saling mengecualikan. bentuk ini dipergunakan dalam hal penuntut umum belum yakin benar tentang kualifikasi dan pasal pidana yang dapat dibuktikan. Untuk mencegah agar terdakwa tidak lolos, maka didakwakan beberapa tindak pidana sebagai alternatif. Biasanya dakwaan ini dipergunakan bila dakwaan yang satu dengan yang lain menunjukkan corak kualitas yang hampir sama. Umpamanya pencurian (pasal 362 KUHP) dengan penadahan (pasal 480 KUHP); penipuan (pasal 378 KUHP) dengan penggelapan (pasal 372KUHP); pembunuhan (pasal 338 KUHP) dengan penganiayaan berakibat mati (pasal -351 ayat 3 KUHP). Dalam keadaan demikian, akan didakwakan beberapa tindak pidana, tetapi hanya satu yang akan dibuktikan.
Bentuk dakwaan subsider hampir sama dengan bentuk dakwaan alternatif, yakni terdapat beberapa tindak pidana yang didakwakan, tetapi hanya satu tindak pidana saja yang akan dibuktikan. Bedanya terletak pada cara penyusunan lapisan dakwaan dan sitem pembuktian.
Dalam bentuk dakwaan subsider, tindak pidana yang diancam dengan pidana tertinggi di tempatkan pada lapisan teratas, baru kemudian tindak pidana yang diancam dengan pidana yang lebih ringan. Pembuktiannya dilakukan secara berurut, mulai dari lapisan teratas sampai lapisan yang dipandang terbukti. Dalam dakwaan alternatif penyusunan lapisannya tidak terikat pada berat ringannya ancaman pidananya. Pembuktiannya tidak harus dilakukan secara berurut seperti pada dakwaan subsider, tetapi dapat langsung kepada dakwaan yang dipandang terbukti sesuai fakta di persidangan. Contoh dari dakwaan subsider adalah sebagai berikut:
Primer : Melanggar pasal 340 KUHP; Subsider : Melanggar pasal 338 KUHP;
Lebih subsider: Melanggar pasal 355 KUHP;
Dakwaan kumulatif dipergunakan dalam hal terdakwa melakukan beberapa tindak pidana, atau satu tindak pidana dilakukan oleh beberapa orang. Dalam hal ini semua dakwaan harus dibuktikan. Umpamanya, A telah melakukan pencurian dengan kekerasan (pasal 365 KUHP). Di sampihg itu me-lakukan perk6saan (pasal 285 KUHP) serta pe’nganiayaan (pasal 351 KUHP). Semua tindak pidana Htu didakwakan dan semuanya harus dibuktikan oleh penuntut umum. Dalam hal beberapa orang terdakwa melakukan satu tindak pidana, maka semua pelaku didak-wakan melakukan perbuatan itu.
Bentuk dakwaan kombinasi terdiri atas gabungan dari dakwaan kumulatif dengan dakwaan alternatif/subsider. Umpamanya tersusun sebagai berikut:
Kesatu : Primer rpelancfgar pasal 338 KUHP;
Subsider mel&nggar pasal 353 KUHP;.
Lebih subsider melanggar pasal 351 ayat 3 KUHP;
Kedua : Primer melanggar pasal 363 KUHP; atau Subsider melanggar pasal 362 KUHP;
Ketiga : Melanggar pasal 333 KUHP
Menurut Andi Hamzah, surat dakwaan dapat disusun secara tunggal, kumulatif, alternatif ataupun subsider (Andi Hamzah, 1990). Terhadap seorang atau lebih yang hanya melakukan satu macam perbuatan saja, misalkan pencurian biasa (pasal 362 KUHP), tepat sekali kalau surat dakwaan disusun secara tunggal, yaitu dakwaan pencurian biasa.
Mungkin pula seseorang atau lebih terdakwa melakukan lebih dari satu perbuatan (delik). Misalnya di samping ia (mereka) melakukan pencurian (biasa), membawa pula senjata api tanpa izin yang berwajib. Dalam hal ini dakwaan disusun secara kumulatif, artinya terdakwa (terdakwa-terdakwa) didakwa dua macam perbuatan (delik) sekaligus, yaitu pencurian (biasa) dan membawa senjata api tanpa izin yang berwajib. Dengan demikian dakwaan akan disusun sebagai dakwaan I, II, III dan seterusnya.
Jika suatu dakwaan disusun secara kumulatif, maka tiap perbuatan (delik) itu harus dibuktikan sendiri-sendiri, walaupun pidananya disesuaikan dengan peraturan tentang delik gabungan (Samonloop) dalam pasal 63 sampai 71 KUHP. Dakwaan alternatif akan dibuat dalam dua hal berikut: (1) Jika penuniut umum tidak mengetahui perbuatan mana yang akan terbukti di persidangan.
(2) Jika penuntut umum ragu akan peraturan hukum pidana yang akan diterapkan oleh hakim.
Lain halnya dengan dakwaan subsider. Dakwaan ini mengharuskan hakim memeriksa terlebih dahulu dakwaan primair, dan jika tidak terbukti, barulah diperiksa dakwaan subsider.
Menurut M. Yahya Harahap, surat dakwaan mengenal empat macam bentuk, yaitu surat dakwaan biasa, surat dakwaan alternatif, surat dakwaan subsider, dan surat dakwaan kumulasi (M. Yahya Harahap, 1988). Surat dakwaan biasa menurut Yahya Harahap, merupakan surat dakwaan yang disusun dalam rumusan “tunggal”, yang hanya berisi satu macam dakwaan. Bentuk ini umumnya digunakan untuk mendakwa tindak pidana tindak pidana yang jelas dan bersifat sederhana, serta tidak mengandung unsur penyertaan (Mededaderschap) maupun unsur perbarengan (Concursus). Sedangkan surat dakwaan alternatif berisi lebih dari satu rumusan dakwaan, yang satu dengan yang lain saling mengecualikan, serta memberikan pilihan kepada hakim menentukan dakwaan mana yang tepat yang akan dipertanggung jawabkan ke-pada terdakwa. Misalnya, salah satu dakwaan berisi rumusan bahwa terdakwa melakukan pencurian sesuai pasal 362 KUHP. Kemudian pada dakwaan berikutnya Jaksa penuntut umum merumuskan : “Atau melakukan tindak pidana penadahan sesuai pasal 480 KUHP”. Jadi antara satu dakwaan dengan lainnyax dihubungkan dengan kata “ATAU”.
Bentuk dakwaan Subsider disusun dengan dijejerkan secara berurutan mulai dari dakwaan tindak pidana yang terberat sampai dengan dakwaan tindak pidana yang teringan. DaKwaan ini sering disebut dengan dakwaan pengganti, artinya dakwaan Subsider (dakwaan urutan ke dua) menggantikan dakwaan primair (dakwaan urutan pertama). Demikian seterusnya, yang paling bawah menggantikan urutan diatasnya. Misalnya berbunyi : Primair, melanggar pasal 340 KUHP; Subsider, melanggar pasal 338 KUHP; lebih Subsider, melanggar pasal 355 KUHP; lebih Subsider lagi, melanggar pasal 353 KUHP.
Bentuk surat dakwaan kumulasi disebut juga bentuk multiple, yaitu surat dakwaan yang disusun berupa rangkaian dari beberapa dakwaan atau gabungan beberapa dakwaan sekaligus. Menurut pasal 141 KUHAP, dakwaan yang berbentuk kumulasi dipergunakan apabila dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan, Penuntut Umum menerima bebe-rapa berkas perkara dalam hal :
1. Beberapa tindak pidana dilakukan satu orang yang sama;
2. Beberapa tindak pidana berhubungan satu dengan yang lain;
3. Beberapa tindak pidana tidak bersangkut paut, tetapi kepentingan pemeriksaan memerlukannya.

Incoming search terms:

  • bentuk surat dakwaan
  • bentuk bentuk surat dakwaan
  • dakwaan kumulatif
  • dakwaan
  • bentuk dakwaan
  • dakwaan alternatif
  • pengertian dakwaan
  • bentuk-bentuk surat dakwaan
  • surat dakwaan alternatif
  • pengertian dakwaan alternatif

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • bentuk surat dakwaan
  • bentuk bentuk surat dakwaan
  • dakwaan kumulatif
  • dakwaan
  • bentuk dakwaan
  • dakwaan alternatif
  • pengertian dakwaan
  • bentuk-bentuk surat dakwaan
  • surat dakwaan alternatif
  • pengertian dakwaan alternatif