BERBAGAI DIATHESIS UNTUK PENYAKIT JANTUNG KORONER – Faktorfaktor risiko tradisional yang dibahas di atas hanya menjelaskan paling tidak separuh dari kasus-kasus penyakit jantung koroner (Jenkins, 1976). Memang, sebelumnya orang-orang kurang memberikan perha tian pada berbagai faktor yang berkontribusi, seperti obesitas, kurang berolahraga, konsumsi berbagai makanan berlemak, dan merokok, dibanding sekarang ini, meskipun demikian pada beberapa dekade sebelumnya insiden PJK dan penyakit kardiovaskular terkait jauh lebih rendah. Terlebih lagi, di daerah Midwest, di mana pola makan masyarakatnya tinggi lemak jenuh dan jumlah penduduk yang merokok sangat tinggi, insiden penyakit jantung koroner termasuk rendah dibanding daerah lain di Amerika Serikat yang lebih padat industri. Di sisi lain, semua orang yang pernah berkunjung ke Paris mengetahui tentang kebiasaan merokok yang berat dan pola makan tinggi lemak pada masyarakat Prancis, namun tingkat PJK di sana relatif rendah. Mengapa?
Diathesis Psihologis. Upaya menemukan predisposisi bagi penyakit jantung koroner telah mulai terfokus pada faktor-faktor psikologis. Bukti-bukti kontemporer yang mengaitkan PJK dengan berbagai variabel psikologis berasal dari berbagai penelitian yang bertahun-tahun lalu dipelopori oleh dua orang kardiolog, Meyer Friedman dan Ray Rosenman (Friedman, 1969; Rosenman dkk., 1975). Pada tahun 1958 mereka mengidentifikasi pola perilaku yang disebut pola perilahu Tipe A. Dengan diukur menggunakan wawancara terstruktur, individu Tipe A memiliki dorongan kuat dan kompetitif untuk meraih prestasi dan kemajuan, perasaan urgensi yang berlebihan tentang berjalannya waktu dan harus bergegas, dan sangat agresif serta hostilitas terhadap orang lain. Bukti-bukti awal yang mendukung pemikiran bahwa pola Tipe A memprediksi timbulnya penyakit jantung koroner berasal dari literatur klasik Western Collaborative Group Study (WCGS).

Para individu yang diidentifikasi sebagai Tipe A berdasarkan wawancara memiliki kemungkinan dua kali lebih besar menderita PJK dibanding para individu Tipe B, yang memiliki gaya hidup yang kurang ambisius dan kurang hostile. Faktorfaktor risiko tradisional, seperti level kolesterol yang tinggi, juga ditemukan memiliki kaitan dengan PJK, namun walaupun faktor-faktor tersebut dikendalikan dalam penelitian tersebut, para individu Tipe A masih tetap memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk menderita PJK.
Meskipun demikian, penelitian yang lebih mutakhir tidak mendukung manfaat prediktif perilaku Tipe A. Contohnya, dalam beberapa studi Tipe A gagal memprediksi angka kematian maupun infarksi miokardial (Eaker dkk., 1992; Orth-Gomer & Unden, 1990; Shekelle dkk., 1983). Penelitian lain tidak menemukan hubungan antara Tipe A dan penyakit arteri koroner (Williams, 1987).

Ada beberapa alasan untuk hasil yang bertentangan tersebut. Salah satunya adalah para peneliti berikutnya menggunakan metode yang berbeda untuk mengukur Tipe A (a.l. kuesioner) yang kemungkinan tidak mengukurnya secara akurat. Kedua, diketahui kemudian bahwa tidak semua aspek konsep Tipe A benar-benar terkait dengan PJK. Contohnya, dalam analisis terhadap data wawancara dari WCGS yang dilakukan Matthews dan para koleganya (1977), hanya tujuh dari seluruh rangkaian item yang membedakan para individu Tipe A yang menderita PJK dari yang tidak. Dalam analisis lebih dalam terhadap data WCGS, kemarahan dan hostilitas muncul sebagai prediktor utama PJK (Hecker dkk., 1988). Dalam studi longitudinal yang lebih mutakhir juga ditemukan bahwa ketidakmampuan mengendalikan kemarahan berhubungan dengan angka PJK yang lebih tinggi (Kawachi dkk., 1996). Dan kemarahan serta hostilitas berhubungan dengan beberapa variabel lain yang berperan dalam PJK. Contohnya, kemarahan dan hostilitas yang tinggi berhubungan dengan reaktivitas tekanan darah yang lebih tinggi terhadap stres, level kolesterol yang lebih tinggi, timbunan kalsium yang abnormal di dinding arteri koroner, merokok dan konsumsi alkohol, dan aktivasi platelet yang lebih besar, yang berperan penting dalam terbentuknya sumbatan arteri koroner (Fredrickson dkk., 2000; Iribarren dkk., 2000; Weidner dkk., 1989). Meskipun demikian, perbedaan kecil dalam perwujudan kemarahan secara diferensial dapat berhubungan dengan risiko PJK pada laki-laki dan perempuan. Contohnya, Siegman dan para koleganya menemukan bahwa ekspresi antagonisme yang tidak langsung berhubungan dengan risiko PJK pada perempuan, sedangkan ekspresi kemarahan secara terbuka berhubungan dengan risiko PJK pada laki-laki.

Berbagai temuan lain (a.1., Almada, 1991; Williams dkk., 1986) menunjukkan bahwa sinisme (pendekatan terhadap kehidupan yang melibatkan hostilitas) merupakan faktor utama dalam kompleks Tipe A. Angka tersumbatnya arteri koroner dan kematian koroner sangat tinggi pada para peserta Tipe A yang sebelumnya memilih item-item MMPI yang mencerminkan sikap sinis atau hostile (contohnya, (“Sebagian besar manusia akan menggunakan cara-cara yang cukup tidak adil untuk memperoleh keuntungan atau manfaat, agar tidak kehilangan keuntungan tersebut”)). Studi sebelumnya yang memantau para mahasiwa kedokteran yang berada dalam kondisi sehat ketika mereka mengikuti MMPI 25 tahun sebelumnya menemukan tingkat PJK dan kematian yang lebih tinggi pada mereka yang jawabannya mengindikasikan sinisme terhadap orang lain (Barefoot, Dahlstrom, & Williams, 1983). Belum lama ini, ditemukan bahwa sinisme dapat memprediksi atherosklerosis, infarksi miokardial, dan kematian karena PJK dalam studi berskala besar terhadap orang-orang Finlandia yang disebutkan sebelumnya. Temuan lain tentang sinisme mendukung kemungkinan perannya dalam PJK. Sinisme lebih banyak terdapat pada laki-laki dibanding perempuan dan lebih banyak pada etnis Afrika Amerika dibanding kulit putih (Barefoot dkk., 1991); juga terkait dengan penolakan untuk mencari dukungan sosial, angka perpisahan dalam perkawinan yang tinggi, tingkat kemarahan yang ditekan yang tinggi, konsumsi alkohol lebih banyak, dan obesitas (Houston & Vavak, 1991; Miller dkk., 1995)—semuanya diketahui merupakan faktor risiko PJK.
Hal yang belum jelas adalah bagaimana cara terbaik untuk mengonseptualisasi hasil-hasil tersebut. Satu masalah signifikan adalah digunakannya terminologi yang membingungkan (kemarahan, hostilitas, sinisme) dan kurangnya keseragaman di antara beragam alat ukur yang digunakan untuk mengukur konsep-konsep tersebut. Contohnya, sebuah studi memantau sampel laki-laki dalam jumlah besar selama menggunakan ultrasound untuk mengukur perkembangan atherosklerosis (Julkunen dkk., 1994). Dilakukan pengukuran terhadap tiga komponen kemarahan dan agresivitas:
• hognitif—keyakinan-keyakinan negatif tentang orang lain;
• afehtif—ketidaksabaran dan iritabilitas;
• pengalaman—apakah kemarahan diekspresikan atau tidak.

Ketiga pengukuran tersebut tidak berkorelasi dengan baik, mengindikasikan bahwa meskipun istilah yang digunakan tampaknya sama, namun tidak dapat saling menggantikan. Komponen afektif tidak memprediksi perkembangan atherosklerosis, namun dua komponen lain dapat memprediksinya. Terlebih lagi, komponen yang disebut dengan istilah pengalaman sebenarnya berkaitan dengan ekspresi kemarahan, bukan pengalaman kemarahan sehingga istilah tersebut tidak sesuai dengan komponen ini. Dengan demikian, ekspresi kemarahan yang dituturkan diri sendiri, dan bukan pengalaman kemarahan, bersifat prediktif terhadap atherosklerosis. Studi lain menemukan bahwa para laki-laki yang mengalami iskemia miokardial lebih banyak mengekspresikan kemarahannya di wajahnya, namun tidak dilaporkan melakukan lebih banyak hostilitas, dibanding para laki-laki yang tidak mengalami iskemia :Rosenberg dkk., 2001). Berbagai studi tersebut menggambarkan kompleksitas upaya untuk mengetahui apakah kemarahan berhubungan dengan penyakit jantung koroner. Isu penting lain adalah mengidentifikasi asal-usul kemarahan dan hostilitas yang berlebihan. Penelitian terhadap topik ini baru mulai dilakukan, namun diindikasikan bahwa hal itu dapat disebabkan oleh tingkat konflik yang tinggi dalam keluarga.

Suatu peringatan penting juga patut dicatat. Tidak semua studi menemukan bahwa kecemasan dan depresi memprediksi mortalitas setelah timbulnya PJK (a.1., Lane dkk., 2001; Matthews dkk., 1998). Meskipun sangat banyak penyebab atas tidak konsistennya hasil-hasil penelitian, berbagai masalah yang sama terkait dengan pengukuran kemarahan yang diungkapkan di atas relevan dengan pengukuran depresi dan kecemasan. Tersedia sejumlah pengukuran kecemasan dan depresi yang berbeda-beda, dan kegagalan untuk mendapatkan hasil yang sama yang mengaitkan depresi dan kecemasan dengan kesehatan kardiak dapat mencerminkan perbedaan dalam pengukuran. Secara lebih umum, sejumlah pertanyaan tetap perlu diupayakan jawabannya dalam penelitian lain. Contohnya, haruskah seseorang didiagnosis menderita gangguan mood atau kecemasan untuk berisiko mengalami PJK, atau cukup hanya dengan mengalami simtom-simtom mood atau kecemasan? Harus seberapa parah simtom-simtom tersebut? Sejumlah pertanyaan lain terkait dengan perilaku. Contohnya, apakah para individu depresi yang mengalami serangan jantung memiliki pola makan yang buruk, kurang berolahraga, merokok lebih banyak, atau memiliki berbagai perilaku tidak sehat lain sehingga meningkatkan risiko mereka mengalami PJK? Penggabungan minat terhadap PJK dan berbagai emosi negatif—kemarahan, kecemasan, dan depresi—terwujud dalam diajukannya kepribadian Tipe D baru-baru ini (Denollet, 2000; Denollet & Brutsaert, 1997). Tipe D ditentukan dengan skor afektivitas negatif yang tinggi (yaitu suatu kecenderungan untuk mengalami tingkat kecemasan, kemarahan, dan depresi yang tinggi) ditambah hambatan dalam msngekspresikan berbagai emosi tersebut. Dalam suatu pemantauan selama enam hingga sepuluh tahun terhadap para pasien yang pernah mengalami infarksi miokardial, 52 persen pasien Tipe D mengalami masalah jantung lain, dibandingkan dengan hanya 12 persen pada pasien non Tipe D. Para peneliti lain mulai melakukan penelitian sejenis dan memperoleh hasil yang sama, bahkan lebih luas. Contohnya, suatu studi di Norwegia menemukan bahwa afektivitas negatif memprediksi mortalitas karena penyakit jantung (Murberg, Bru, & Aarsland, 2001). Studi lain menemukan bahwa hambatan dalam mengekspresikan berbagai emosi negatif merupakan prediktor yang lebih baik untuk reaktivitas tekanan darah pada laki-laki dibanding hostilitas atau terbatasnya dukungan sosial (Habra, Linden, & Anderson, 2001). Namun, masih harus dilihat apakah Tipe D akan menggantikan Tipe A sebagai faktor risiko psikologis.

Filed under : Bikers Pintar,