Kategori penduduk kota.

Bourgeoisie (borjuis) adalah Istilah ini berasal dari abad ke-13 yang (seperti istilah bur­ghers, Bfirgertum) pada mulanya menun­jukkan sebuah kategori penduduk kota di Eropa Abad Pertengahan, khususnya ped­agang dan seniman, yang menikmati status dan hak spesial dalam masyarakat feodal. Tetapi, dengan berkembangnya kapital­isme, dan khususnya sejak abad ke-18, makna istilah ini perlahan-lahan berubah dan menjadi mengacu pada khususnya ma­jikan kaya yang aktif dalam bidang ma­nufaktur, perdagangan, dan keuangan­penggunaan ini sebagian direfleksikan dalam konsep Hegel mengenai burgerli­che Gesellschaft (masyarakat sipil) seba­gai wilayah kepentingan ekonomi privat. Marx, yang paling bertanggung jawab atas pemberian makna yang amat berpengaruh dalam ilmu sosial selanjutnya, bertitik to­lak dari perbedaan yang dibuat Hegel an­tara borjuis dan warga tetapi kemudian, berdasar studi kritisnya atas filsafat Hegel dan bacaannya mengenai subjek ekonomi politik, dia segera mengembangkan kon­sep borjuis yang berbeda yakni sebagai ke­las dominan di dalam mode produksi spe­sifik (kapitalis). Engels (1847) meringkas pandangan ini, yakni borjuis adalah “ke­las kapitalis besar yang, di semua negara maju, kini hampir memiliki seluruh alat­alat konsumsi, bahan baku, dan instru­men” (mesin, pabrik) yang diperlukan untuk produksi”; dan kemudian (1888) “kelas kapitalis modern, yang memiliki alat-alat produksi sosial dan huruh.”

Masyarakat kapitalis.

Konsep Marx (dan Marxis) memiliki ciri yang khas. la membentuk sebagian dari teori umum sejarah sebagai sukse­si mode produksi dan bentuk-bentuk ma­syarakat, masing-masing dicirikan oleh level perkembangan kekuatan produksi tertentu (terutama teknologi) dan struk­tur kelas khusus (atau relasi produksi) yang di dalamnya terdapat konflik ende­mis. Dalam masyarakat kapitalis, yang menurut Marx muncul dari pertumbuhan kekuatan produksi baru dan perjuangan kelas borjuis melawan sistem feodal, per­ubahan historis akan menjadi lebih cepat: “Golongan borjuis, selama kekuasaannya selama seratus tahun, telah menciptakan kekuatan produksi yang lebih masif dan kolosal ketimbang seluruh generasi sebe­lumnya” (Marx dan Engels, 1848); namun pada saat yang sama ia melahirkan kelas baru, kelas proletar, yang berkonflik de­ngannya. Karena itu, dua proses yang berbe­da itu ada di dalam masyarakat kapitalis. Kelompok borjuis terus merevolusioner­kan sistem produksi, yang salah satu aki­batnya adalah peningkatan sentralisasi kapital dalam perusahaan besar, yang di­percepat oleh pinjaman dari bank (Hil­ferding, 1910), dan terutama di abad ke­20 terjadi internasionalisasi kapital secara masif (Mandel, 1975). Namun dominasi borjuis juga makin ditentang oleh proleta­riat industrial (lihat WORKING CLASS), yang menurut Marx perjuangannya pada ak­hirnya akan melahirkan masyarakat baru tanpa kelas. Perkiraan Marx ini sebagian didasarkan pada pandangannya bahwa masyarakat akan semakin terpolarisasi di antara dua kelas besar, borjuis kecil yang terbentuk sebagai akibat dari “pengam­bilalihan banyak kapitalis oleh segelintir kapitalis” dan proletariat besar yang me­rupakan “mayoritas populasi”; tetapi dia juga mengakui bahwa strata menengah yang signifikan, termasuk borjuis rendah­an yang terdiri dari produsen kecil, peda­gang kecil dan profesional, dan bahkan ke­las menengah pada umumnya akan makin hertambah jumlahnya (herdasarkan dua hagian dalam manuskrip Theories of Sur­plus Value).

Tingkatan kepemilik­an publik. Bourgeoisie (borjuis) adalah

Marxis abad ke-20 harus menghadapi problem yang lebih kompleks yang muncul dari perkembangan pesat “kelas menengah baru” di kalangan pekerja kantoran, tek­nis, dan profesional, serta di bidang jasa dari semua jenis (lihat MIDDLE CLASS), stan­dar hidup yang lebih tinggi, dan kemak­muran sosial yang makin luas, yang ham­pir menghilangkan intensitas konflik kelas di masa sekarang. Borjuis zaman sekarang, yang masih kaya dan menguasai perusa­haan raksasa, bagaimanapun juga makin terbatas dalam banyak hal ketimbang bor­juis di abad ke-19 yang lalu. Keterbatasan ini diakibatkan oleh tingkatan kepemilik­an publik dan perencanaan ekonomi dan juga karena redistribusi pendapatan dan kekayaan yang terbatas. Dengan demiki­an, gaga hidup dan prestise sosialnya ti­dak lagi timpang secara tajam dengan ke­las masyarakat lainnya. Banyak pemikir sosial selalu mene­kankan aspek lain dari peran sosial dari borjuis dan ciri ini menjadi menonjol dalam debat yang lebih baru. Max Weber (1904-5) menghubungkan semangat kapi­talis dengan etika Protestan, dan meman­dang borjuis sebagai kelas yang dihidup­kan oleh ide rasionalitas dan wiraswasta, kebebasan individual, dan tanggung ja­wab, yang membuat mereka mampu me­megang kepemimpinan yang diperlukan untuk mempertahankan masyarakat yang dinamis dan demokratis. J. A. Schumpeter (1942) juga menekankan arti penting en­trepreneurship dan menghubungkan per­kembangan demokrasi modern dengan kebangkitan kapitalisme. Tetapi, berbeda dengan Weber, dia memandang ada kelan­jutan pandangan borjuis dalam sosialisme: “Ideologi sosialisme klasik adalah ketu­runan dari ideologi borjuis. Secara khusus ia memiliki dasar rasionalis dan utilitar­ian yang sama, dan juga sama-sama me­miliki banyak ide dan cita-cita yang kelak masuk dalam doktrin demokrasi klasik” (h. 298-9). Seorang ahli sejarah, Henri Pirenne, juga memandang borjuis (atau kelas menengah) di kota abad pertengahan seb­agai “penyebar ide kebebasan” (1925, h. 154) meski banyak kota abad pertengahan dalam kenyataannya didominasi oleh se­jumlah kecil keluarga bangsawan (Holton, 1986, h. 79-83). Yang paling baru, dalam tulisan Hayek (1973-9) dan beberapa pe­mikir dari aliran NEW RIGHT, eksistensi masyarakat yang bebas dan demokra­tis terkait erat dengan kepemilikan privat atas sumber-sumber produksi (meski kon­sep borjuis umumnya tidak dipakai di sini) dan dengan pasar bebas, yang secara ber­sama-sama juga menyebabkan tercapai­nya tingkat efisiensi yang tinggi dalam per­ekonomian. ­

Filed under : Bikers Pintar,