Peradaban Asia.

Buddhism (ajaran budha) adalah Sepanjang 25 abad ajaran Budha berkembang menjadi salah satu tradisi religius dan peradaban Asia, tetapi pada saat yang sama ajaran ini mengakomodasi variasi lokal. Ini tampak jelas dalam bentuk-bentuk kehidupan so­sial yang diterima oleh kaum Budha; ke­hidupan sosial Budha di Cina banyak ke­miripannya dengan nilai-nilai Konfusian (lihat CONFUCIANISM) ketimbang nilai-nilai yang diakui oleh Budha Asia Selatan yang banyak berbagi nilai sosial dengan ajaran Hindu (lihat HINDUISM AND HINDU SOCIAL THEORY). Sebagai akibatnya, konfigurasi sosial dan praktik tradisi Budha secara historis sangat beragam, sehingga para peng­amat awal Budhisme dari Barat kesulit­an untuk mengetahui bahwa agama yang mereka jumpai di Jepang adalah agama yang berhubungan dengan agama di Thai­land. Pada saat yang sama, para pemikir Budha pada umumnya tidak banyak ber­usaha untuk menjelaskan diversitas ini dengan mendefinisikan sifat dari masyara­kat ideal menurut Budha, terutama untuk dibandingkan dengan pandangan intelek­tual di tradisi agama lain, seperti Islam dan Hindu. Tetapi hal ini berubah pada abad ke-20, dan penganut Budha di seluruh du­nia mulai berminat untuk mengartikula­sikan pengetahuan dan nilai sosial yang khas Budha.

Kehidupan sosial.

Secara tradisional, pemikiran Budha normatif tentang kehidupan sosial bersi­fat ambivalen. Misalnya, Agganna Sutta, mitos kanonikal tentang asal usul komu­nitas, menggambarkan kemunculan unsur­unsur dasar dari kehidupan sosial, seperti keluarga, sebagai respons terhadap imoral­itas dan keserakahan. Lebih jauh, struktur sosial yang diinstitusionalisasikan digam­barkan sebagai sesuatu yang patut dicu­rigai secara moral karena struktur seperti itu sering mengakomodasi dan terkadang cenderung bersekongkol dengan kejahat­an yang ada di tengah-tengah manusia. Penjelasan otoritatif lainnya menggambar­kan kehidupan sosial sebagai sumber pen­deritaan utama karena sifatnya yang tidak kekal dan merupakan lahan kemunafikan dalam hubungan antar manusia. Kehidu­pan sosial aktual memberikan banyak buk­ti bagi pandangan muram ini. Sebaliknya, kehidupan Budha yang ideal berarti harus berusaha menghilangkan kecenderungan pada kejahatan dan mengakhiri penderita­an. Ini kerap digambarkan sebagai tindak­an yang amat individual, bebas dari tang­gung jawab sosial, dengan interaksi sosial yang dibatasi pada relasi konsensual an­tar-orang berdasarkan pencapaian spiri­t ul.1l. Kehidupan ideal ini dilembagakan d.11.im kehidupan biara Budha (sangha), di lll.lil.l polo ketergantungan dan hierarki dari semua jenis komunitas manusia dito­lak. Ringkasnya, pemikir Budha umumnya memandang kehidupan dalam masyarakat sebagai sesuatu yang sia-sia, dan menyim­pulkan bahwa hal terbaik yang dapat di­lakukan oleh seseorang adalah tidak ber­partisipasi dalam ekspektasi dan tujuan masyarakat. Sikap negatif terhadap ke­hidupan sosial ini menjadi sumber kri­tik dan cemooh yang diarahkan terhadap Budha oleh para pemikir lain di India dan Cina.

Ajaran Budha tradisional. Buddhism (ajaran budha) adalah

Walaupun pemikiran Budha tradisio­nal memandang hanya ada sedikit kemung­kinan untuk mengubah masyarakat manu­sia sepenuhnya, nilai-nilai sosial tertentu dianjurkan sebagai cara meminimalkan ke­jahatan dalam kehidupan sosial. Nilai-ni­lai itu antara lain kesalehan, kedermawan­an, syukur, kesabaran, dan kesederhanaan. Definisi pasti dari nilai-nilai ini dan spesifi­kasi nilai sosial lainnya akan bervariasi an­tara satu masyarakat dengan masyarakat lain di dalam dunia Budha. Demikian pula, ajaran Budha tradisional merekomendasi­kan kerajaan sebagai struktur politik yang dapat diterima; dalam teori politik Budha tradisional, raja bertanggung jawab un­tuk menegakkan hukum dan meningkat­kan kesejahteraan umum, tetapi sekali lagi tidak ada kesepakatan di antara beragam ajaran Budha tentang bagaimana dan se­perti apa hukum atau masyarakat yang baik yang harus didukung raja. Beberapa aspek dari pemikiran Budha sering dipakai untuk melegitimasi struk­tur sosial yang sudah ada. Salah satu ciri utama pemikiran Budha adalah doktrin karma, yang memberikan penjelasan ten-tang bagaimana aspek tertentu dari eksis­tensi sekarang adalah akibat dari tindakan di masa lalu, terutama tindakan dalam ke­hidupan sebelumnya. Dalam pemikiran Budha tradisional, efek karma dikaitkan dengan hierarki eksistensial dalam kos­mologi Budha, yang terdiri dari beberapa surga dan neraka, juga hermacam-macam manusia, hewan dan siluman; kelahiran se­seorang di masa depan di salah satu dunia ini akan ditentukan oleh kebaikan atau ke­jahatan yang dilakukannya sekarang, seba­gaimana keadaan sekarang dari seseorang adalah hasil dari perbuatan masa lalu. Hi­erarki sosial di antara manusia dalam ko­munitas tertentu diletakkan dalam hierarki kosmis dan karenanya kesenjangan sosial dijustifikasi sebagai konsekuensi yang adil dari tindakan moral atau imoral. Pandang-an dasar dari agama ini adalah konservatif; individu mungkin mampu mengubah posi­si mereka dalam hierarki kosmik dan sos­ial, tetapi hierarki itu sendiri adalah tetap.

Doktrin karma.

Di abad ke-20, kosmologi, kelahiran kembali, dan karma umumnya tidak di­anggap sebagai inti pemikiran Budha, se­bagian karena ide-ide itu sering tampak buruk di mata pengetahuan ilmiah mo­dern. Konsekuensinya, aspek lain dari pe­mikiran Budha lebih ditekankan, walau­pun penekanan ini umumnya disebut-sebut sebagai upaya mengembalikan Budha ke ajaran aslinya, seorang guru India di abad ke-5 SM yang merupakan pendiri agama Budha. Dalam pemikiran ulang ini, indi­vidu, bukan komunitas, masih mendudu­ki tempat utama, tetapi untuk mengganti penekanan pada doktrin karma, penekan­an khusus diberikan pada kemampuan ma­nusia untuk berpikir kritis, untuk melaku­kan disiplin mental dan moral, untuk berubah dan memahami hakikat manu­sia dan alam dengan lebih baik. Pemikiran ulang ini juga menunjukkan kemungkinan reformasi, atau perubahan, struktur ma­syarakat dengan meningkatkan pengeta­huan, yang berarti masyarakat tak lagi di­pandang sebagai tatanan kosmologis yang sudah pasti. Kemungkinan perubahan sosial ini telah mengilhami kaum Budha untuk mengkaji kembali sumber-sumber tradisi mereka guna mencari model masyarakat baru yang lebih baik. Beberapa penganut Budha melihat penggambaran kehidupan biara yang diidealisasikan dalam kitab suci Budha sebagai model inspirasional untuk masyarakat yang sempurna. Ma­syarakat ini didasarkan pada semangat penolakan terhadap kejahatan seperti ke­serakahan dan pemujaan diri, seperti di­tunjukkan dalam pelarangan penggunaan uang oleh rahib dan afirmasi nilai-nilai sep­erti kesederhanaan dan disiplin, yang bisa mengatasi bahaya individualisme. Struk­tur kekuasaannya lebih mengutamakan mufakat, yang dianggap oleh penganut Budha kontemporer sebagai bentuk de­mokrasi yang sempurna, sedangkan orien­tasinya perekonomiannya adalah sosialis, dengan membagi rata sumber daya sesuai dengan etika. Masyarakat ditata berdasar­kan kepentingan bersama dalam memaju­kan kapasitas spiritual, sesuai dengan ske­ma soteriologi Budha, dan semua anggota masyarakat akan mendapat keuntungan dari partisipasinya. Ada beberapa langkah pendahuluan sebelum mengimplementasi­kan model ini, seperti program Sosialisme Budha oleh U Nu di Burma, tetapi usaha ini kurang menjanjikan.

Ajaran Budha kontemporer. Buddhism (ajaran budha) adalah

Tren penting lain dalam ajaran Budha kontemporer adalah munculnya penekan­an baru pada aktivitas sosial. Ketika per­tama kali muncul di awal abad ke-20, ori­entasi baru ini umumnya tidak dimotivasi secara langsung oleh nilai sosial atau eti­ka dalam tradisi Budha, tetapi lebih meru­pakan usaha menjamin agar ajaran Budha tetap relevan dengan dunia modern sehing­ga ajaran ini tidak hilang. Penekanan pada aktivisme sosial ini mengilhami pengkajian ulang sumber etis dari tradisi Budha seba­gai pedoman aktivitas itu. Aktivitas terse-but karenanya dianggap sebagai cara efektif untuk menanamkan dan mengekspresikan nilai-nilai Budha tradisional seperti kasih sayang dan kedermawanan. Rahib-rahib Budha kini diajak untuk melengkapi, atau bahkan mengganti, bentuk praktik tradis­ional mereka dengan pelayanan sosial se­bagai cara untuk mengatasi penderitaan yang disebabkan oleh perubahan kehidu­pan modern global yang cepat. Demikian pula, orang awam penganut Budha mendu­kung pembentukan sekolah, rumah sakit, dan lembaga amal lainnya. Mengingat be­sarnya problem yang akan ditangani melalui aktivitas ini, penganut Budha sering mendapati diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang mengatasi kelompok-ke­lompok individual di mana biasanya mere­ka berpartisipasi. Dalam mencari basis sistematis untuk pemikiran Budha yang unik, banyak pe­mikir Budha berpaling pada doktrin inti “penciptaan yang saling terkait” (patic­ca samuppada) yang menunjukkan keter­kaitan fundamental dari seluruh realitas. Doktrin ini mendefinisikan dunia sebagai tempat di mana tidak ada sesuatupun yang bisa eksis secara independen sepenuh­nya; setiap eksistensi selalu terjadi dalam hubungan sebab akibat dengan eksistensi lainnya. doktrin kesalingtergantungan ini menunjukkan koneksi individu dengan se­luruh ras manusia dan menjadi dasar bagi tanggung jawab moral atas sesama manu­sia. Tanggung jawab moral ini eksis pada level personal maupun sosial dan meng­haruskan setiap individu dan golongan bekerja sama untuk mengatasi problem global, seperti perlucutan senjata nuklir dan krisis lingkungan. Tentu saja, perge­seran ke kebaikan bersama yang lebih inklusif ini tidak hanya berhenti pada ta­taran kemanusiaan tetapi juga mencakup tatanan alam, sebab manusia dan alam ti­dak dapat dipisahkan dalam doktrin kesa­lingtergantungan ini. Jadi, ironisnya, jenis ambivalensi lain tentang masyarakat telah muncul dalam pemikiran Budha abad ke­20. Bahkan setelah para pemikir Budha makin memerhatikan sifat-sifat dari ma­syarakat yang baik, dan penganut Budha kontemporer berusaha memperbaiki kon­disi sosial dan mengupayakan masyarakat yang bermoral, aspek pemikiran Budha yang menjadi landasan justifikasi pemikir­an dan tindakan mereka justru cenderung melemahkan legitimasi dari perbedaan ma­syarakat manusia, yang mempunyai struk­tur sendiri-sendiri, atau bahkan melemah­kan pemikiran tentang komunitas manusia yang terisolasi dari dunia yang saling ter­gantung yang lebih luas.

Filed under : Bikers Pintar,