Forma­si sosial dan ekonomi.

Bureaucracy (birokrasi) adalah Sebagai salah satu kategori utama dari ilmu sosial modern, is­tilah ini mengacu pada tipe administrasi di mana kekuasan untuk membuat keputusan berada di tangan pejabat atau fungsi, bu­kan pada individu tertentu. Sepanjang se­jarahnya, birokrasi muncul dalam forma­si sosial dan ekonomi yang berbeda-beda, tetapi pada saat yang sama is menunjuk­kan beberapa ciri umum, dan yang paling penting di antaranya adalah sebagai beri­kut.

Ciri khas birokrasi.

Birokrasi memisahkan diri dari ma­syarakat, baik dari kelas penguasa mau­pun massa. Birokrasi ditata dalam sistem institusional khusus yang mengembang­kan ideologi, etos dan bermacam-macam prosedur formal. Semua ini tampak seba­gai semacam subkultur. Sumber kekuasa­annya berada dalam fakta bahwa adanya fungsi pemandu dan kontrol yang tidak bisa dilakukan oleh golongan masyarakat. Tetapi, biasanya, birokrasi menambahkan tugas baru pada fungsi pokok (misalnya, irigasi di masyarakat lama) yang mem­perkuat kekuasaannya atas masyarakat. Ciri khas birokrasi lainnya adalah ad­ministrasi tidak dijalankan oleh orang bi­asa tetapi oleh spesialis (ahli) yang men­ganggap pekerjaannya sebagai karier hidup mereka ketimbang sebagai aktivitas tempo­rer untuk periode tertentu. Dalam sistem institusional birokratis, muncul seperangkat persyaratan standar, seperti tes masuk pegawai negeri seperti di Cina lama, dan sekarang dipakai di hampir semua negara, yang berfungsi memantapkan basis kekua­saan birokratis dan pada saat yang sama menegaskan eksklusivitasnya. ­

Administra­si birokratis.

Birokrasi yang didefinisikan dalam ilmu sosial adalah berbeda dengan birokra­si dalam istilah sehari-hari. Dalam banyak bahasa, birokrasi dalam arti sehari-hari memuat makna dari apa yang dinamakan birokratisme pejabat yang tak kompeten, yang kerjanya tidak efektif, tidak berse­mangat, lamban, dan sering menekankan pada formalisme yang tidak rasional. Se­baliknya, administrasi birokratis, seper­ti dikatakan Max Weber (1921-2, Bagian 3, Bab 6), adalah lebih efektif, cepat, dan kompeten ketimbang bentuk administra­si sehari-hari. Ini menjelaskan mengapa dalam masyarakat modern administra­si birokratis meluas bukan hanya dalam organisasi negara, tetapi juga ke hampir semua bidang kehidupan sosial. Fenome­na ini terutama tampak mencolok di arena ekonomi di mana manajemen perusahaan menengah dan besar telah terbirokratisasi­kan secara total (lihat ulasan Schumpeter, 1942, h. 205-7). Menghadapi kecenderu­ngan ini, banyak ilmuwan sosial (seper­ti W. Mommsen, 1974) menyebutnya bi­rokratisasi kehidupan. Aliran-aliran ilmu sosial yang ber­beda memiliki pendekatan yang berbeda pula dalam membahas problem birokrasi. Pendekatan teoretis Marxis klasik bersifat tidak koheren dalam banyak hal. Dalam karya awal Marx tampak jelas ada pandan­gan anti-birokrasi. Pengalamannya selama masa kelaparan di distrik Moselle mem­buatnya paham bahwa selain kelas pengua­sa dan kelompok sosial bawahannya, ada pula birokrasi negara dengan kepentingan tersendiri yang oleh aparatur kepentingan tersebut diklaim sebagai kepentingan neg­ara atau kepentingan umum. Ciri khusus dari birokrasi adalah kerahasiaan dan mis­teri yang melindungi kepentingan tertentu kelompok ini dari pengawasan masyarakat dan kelompok ini menginterpretasikan se­tiap persoalan internal sebagai rahasia ne­gara. Tetapi dalam karya Marx dan Engels yang belakangan, problem birokrasi tidak ditonjolkan, dengan pembahasan utaman­ya beralih ke perjuangan antara buruh dan kapitalis. Mereka tidak memperkirakan dua situasi. Yang pertama adalah ekspansi birokrasi ke wilayah ekonomi dan sos­ial lainnya. Mereka tidak memperkirakan bahwa kepemimpinan industri dan ekono­mi pada umumnya akan jatuh ke tangan lembaga tertentu selain pemilik industri, di mana lembaga ini berkuasa langsung atas pekerja walaupun eksistensinya masih ter­gantung kepada pemilik, seperti pemegang saham atau keluarga pemilik perusahaan; yang mengharapkan agar lembaga itu bekerja secara efisien dan menaikkan laba. Dalam kasus ini sistem institusi birokratis juga berusaha memperluas kekuasaannya, dan karenanya profit menjadi pertimban­gan kedua dalam keputusan mereka.

Sikap anti-birokratis. Bureaucracy (birokrasi) adalah

Pada masa kapitalisme klasik, biro­kratisasi ekonomi masih in statu nascen­di. Manajemen perusahaan sebagian besar masih dijalankan oleh pemilik perusahaan itu sendiri. dalam hal ini perubahan besar baru terjadi pada pergantian abad, seper­ti dianalisis dengan jelas oleh beberapa pe­mikir, terutama Max Weber, yang berusaha menunjukkan sikap anti-birokratis terten­tu dan pendekatan ilmiah spesifiknya­yang disebut belakangan dilakukan dalam semangat sosiologi verstehende (interpre­tif). Sejak awal abad ke-20 kehidupan eko­nomi dan area masyarakat lainnya sema­kin birokratis, dan yang paling penting di sini adalah birokratisasi partai politik, den­gan pengaruh yang makin kuat atas selu­ruh masyarakat karena munculnya parle­menterianisme demokratis modern, sebuah proses yang dianalisis oleh Roberto Mi­chels (1911). Serikat buruh, yang formasinya dido­minasi oleh tendensi anti-kapitalis, meng­hadapi “musuh” baru—birokrasi indus­tri—dan pada saat yang sama mereka memproduksi organ birokrasi sendiri. Kon­flik kepentingan antara buruh dan kapi­talis muncul sebagai konfrontasi dan kon­sensus antara birokrasi industrial dengan birokrasi serikat buruh, sebuah perkem­bangan yang dideskripsikan oleh Sidney dan Beatrice Webb. Dalam masyarakat Barat, proses biro­kratisasi berlanjut hingga ke periode pas­cakapitalis dan pasca-industri, dengan be­berapa perubahan dalam karakteristiknya. Dalam perekonomian, aparatur negara makin berperan penting tetapi mereka ti­dak mengontrol kehidupan perekonomian secara independen, seperti pada masa feo­dalisme dan kapitalisme awal, namun me­ngontrol lewat kerja sama dengan birokra­si industri, keuangan dan serikat buruh. Ini melahirkan tekstur kekuasaan ekonomi yang rumit, yang disebut techno-structure oleh J. K. Galbraith (lihat juga TECHNOC­RACY). Terutama dalam ekonomi, dan juga dalam bidang lainnya, birokrasi di negara­negara Barat melampaui batas-batas nega­ra dan mulai menunjukkan karakter inter­nasional, dan dalam hal tertentu hal ini membuat perjuangan demi kemerdekaan yang menjadi ciri negara bangsa menjadi seperti ilusi. Mungkin dapat dikatakan bahwa signifikansi anti-kapitalisme dile­bih-lebihkan oleh Marx dan Engels se­hingga mereka melupakan signifikansi anti-birokrasi. Dalam praktik dewasa ini tampak bahwa emansipasi kemanusiaan dalam dunia modern membutuhkan anti­birokratisme ketimbang anti-kapitalisme.

Jalinan institusi birokratis. Bureaucracy (birokrasi) adalah

Reformasi sosialisme (atau Soci Al. DE­MOCRACY), yang berbeda dengan sistem manajemen-negara, adalah formasi sosio­ekonomi di mana, meski masih ada bebe­rapa institusi birokratis yang bertahan, dorninasi monolitik mereka tidak ada lagi dan mereka heroperasi di bawah kontrol efektif oleh masyarakat sipil. JAL gerak­an anti-birokrasi jugs dapat dilihat di ma­syarakat liana, yang imingk in diistilah kan sebagai gerakan alternatif. Yang terutama signifikan di antaranya adalah usaha menjalankan dari apa yang disebut struktur perusahaan alternatif yang tidak didominasi oleh birokrasi tetapi oleh kerja sama antara berbagai asosiasi pekerja

Filed under : Bikers Pintar,