Perekonomian industrial.

Business cycle (siklus bisnis) adalah Sebagai fluk­tuasi yang terus berulang di dalam aktivi­tas ekonomi dari perekonomian industrial, siklus bisnis dapat diamati secara statistik ketika seseorang mengkaji catatan sejarah dari kinerja ekonomi negara—misalnya statistik pendapatan nasional kotor yang dikoreksi (GNP rill). Biasanya yang tam­pak adalah pub pertumhuhan jangka pan­jang yang ditandai oleh ekspansi dan kontraksi (naik-turun) secara bergantian. Tren fluktuasi naik-turun dalam jangka pan­jang ini adalah siklus bisnis. Kata “siklus” menunjukkan pola timing yang menetap (fixed) dan mungkin simetris tetapi para ekonom telah lama menolak gagasan ini. Walaupun beberapa ekonom kini memi­lih mendeskripsikan fenomena ini sebagai “fluktuasi ekonomi”, istilah siklus bisnis masih kerap dipakai.

Bahasa siklus bisnis. Business cycle (siklus bisnis) adalah

Gerakan siklis dalam perekonomi­an amat mencolok. Ketika GNP rill naik (atau turun), demikian pula halnya den­gan lapangan kerja, pendapatan riil, profit, dan aspek aktivitas lainnya. Hanya ada se­dikit industri yang bebas dari pola ini, wa­laupun industri yang memproduksi barang tahan lama mudah terkena fluktuasi yang lebih besar. Gerakan ini, pertama ke satu arah, dan kemudian ke arah lain, cender­ung bertahan selama kurun waktu terten­tu—berbeda dengan fluktuasi musiman, misalnya, yang terjadi dalam hitungan ta­hun. Dalam bahasa siklus bisnis, aktivitas yang menaik atau ekspansi akan menca­pai satu titik puncak, dan kemudian tu­run ke resesi (juga disebut penurunan atau kontraksi), yang titik terendahnya dise­but digambarkan palung/lembah. Ini ke­mudian diikuti dengan pemulihan, atau kenaikan, yang mengawali fase ekspansi. Di AS, sejak 1949 telah mengalami 8 kali ekspansi dari yang panjangnya satu tahun sampai sembilan tahun, dengan durasi me­dian sekitar 3,5 tahun. Kontraksi rata-rata panjangnya kurang dari setahun. Baik eks­pansi maupun kontraksi menunjukkan in­tensitas yang bervariasi. Depresi Besar pada 1930-an sangat memengaruhi kebi­jakan ekonomi pemerintah, tetapi tingkat keparahan dan lamanya depresi itu meru­pakan sesuatu yang unik di dalam catatan siklus bisnis. Teori siklus bisnis banyak bermuncu­lan walaupun perhatian terhadap aspek ekonominya juga mengalami pasang-su­rut. Minat pada 1920-an, yang dipicu oleh problem ekonomi di Inggris, semakin ber­tambah besar setelah kemudian terjadi 1)epresi Besar. General Theory of Employ­ment, Interest and Money karya Keynes (1936) terutama bukan membahas inti teo­ri siklus bisnis tradisional—yang menjelas­kan fluktuasi dalam keseluruhan aktivitas perekonomian—namun tak lama setelah General Theory terbit merebak keyakinan bahwa kebijakan stabilisasi pemerintah akan dapat menghilangkan siklus bisnis. Para ekonom mengalihkan perhatiannya pada bidang makroekonomi, yang men­jadi bidang dominan bagi mereka yang mengkaji aktivitas keseluruhan. Kemak­muran yang terjadi satu atau dua dekade pasca Perang Dunia II melahirkan pandan­gan bahwa siklus bisnis sudah usang. Kon­ferensi internasional tentang siklus bisnis pada akhir 1960-an menghasilkan sebuah buku berjudul Is the Business Cycle Ob­solete? (Bronfenbrenner, 1969). Keban­yakan ekonom tidak berpikir bahwa sik­lus itu sudah usai, tetapi semua keraguan tentang kemungkinan tiadanya lagi sik­lus itu menjadi hilang pada 1970-an dan 1980-an setelah terjadi penurunan bisnis yang parah dan tingkat pengangguran dan inflasi yang tinggi. Era 1970-an juga me­nyaksikan munculnya perkembangan teo­retis barn dan perhatian barn para ekonom terhadap siklus bisnis yang bertahan sela­ma era 1980-an.

Kebijakan fiskal dan moneter.

Dalam rangka mencari tahu sebab-se­bab siklus bisnis ini para ekonom membe­dakan antara faktor di luar sistem ekonomi dan di dalam sistem tersebut. Perang, pe­nemuan besar, atau perubahan kebijakan fiskal dan moneter pemerintah adalah con­toh sebab dari luar dan biasanya dinama­kan “gangguan,” “kejutan”, “desakan”, atau faktor “eksogen”. Faktor ini Berbe­da dengan faktor internal dari perekono­mian itu sendiri dan kecenderungannya untuk berflukturasi selama periode terten­tu. Ini adalah faktor “endogen” atau “me­kanisme perkembangbiakan” yang Ber­beda dari faktor kejutan, gangguan, atau desakan. Para penulis mengakni perbe­daan ini sebelum Perang Dunia Ii, natnun inereka biasanya menekankan pada cara kerja sistem perekonomian itu sen­diri, yakni kecenderungan perekonomian ke arah ketakstabilan bahkan ketika tidak ada gangguan dari luar sekalipun. Dalam studi Liga Bangsa-Bangsa ta­hun 1937, Prosperity and Depression, Gottfried Haberler, berdasarkan analisis teori siklus bisnis modernnya, mengelom­pokkan teori menjadi beberapa golongan besar, walaupun dia men.catat bahwa per­bedaan itu terutama adalah demi penekan­an. Dia menunjukkan bahwa kebanyakan teori modern memandang siklus bisnis se­bagai akibat dari beberapa faktor, dan ke­banyakan darinya ada dalam teori yang berbeda-beda, dan bahwa faktor yang me­nimbulkan siklus dalam satu periode itu ti­dak selalu sama dengan faktor yang me­nimbulkan siklus dalam periode yang lain. Penilaian ini masih tetap valid sampai se­karang. Akan tetapi, teori-teori awal ini, Berbeda dengan teori pasca Perang Dunia II, cenderung menekankan pada faktor en­dogen ketimbang pengaruh dari luar seba­gai penyebab siklus bisnis. Di antara ka­tegori penting dalam klasifikasi Haberler adalah: kategori yang dideskripsikannya sebagai moneter murni; overinvestment; underconsumption; psikologis; dan faktor yang mengaitkan siklus dengan kesalahan penyesuaian yang berbiaya mahal.

Per­timbangan ekonomi rasional. Business cycle (siklus bisnis) adalah

Sejumlah teori diklasifikasikan seba­gai teori psikologis. Girl utama dari teo­ri ini, dalam istilah Haberler, adalah bah­wa respons investasi total terhadap faktor objektif adalah lebih kuat ketimbang per­timbangan ekonomi rasional (Haberler, 1937, h. 147). Selama masa boom, peng­usaha biasanya melakukan “kesalahan op­timisme”, yang menimbulkan kesalahan dalam arah yang sebaliknya ketika peng­usaha menyadari bahwa perkiraan mere­ka meleset. Teori siklus bisnis Keynes (satu bab dalam General Theory, h. 313-32) me­nekankan perkiraan atau. antisipasi peng­usaha dan peran penting yang mereka mainkan dalam pengambilan keputusan untu.k berinvestasi (lihat KEYNESIANISM). Menurunnya minat terhadap teori sik­lus dalam dua dekade setelah Perang Dunia II bukan hanya karena Keynes dan terciptanya kemakmuran umum. Beber­apa faktor menimbulkan perhatian pada riset empiric: perkembangan pendapatan nasional dan statistik produksi, kemajuan dalam model ekonometrik, dan munculnya komputer elektronik untuk solusi model yang kompleks. Pernbuatan model. Makin banyak, dan beberapa model ekonomi itu tampak “bekerja”, yakni dengan menggu­nakan asumsi tertentu tentang kebijakan, model tersebut mampu melacak perilaku perekonomian secara lebih cermat. Jadi, model itu tampaknya memvalidasi prinsip ekonomi yang menjadi landasannya. Sejak terbitnya General Theory dari Keynes, pandangan makroekonomi yang dominan menyatakan bahwa harga dan upah adalah rigid (kaku) atau sangat lam-bat dalani merespons perubahan dalam seluruh permintaan dan karenanya ga­gal menjalankan fungsi pasarnya. Menu-rut pandan.gan Keynesian, kenaikan atau penurunan permintaan keseluruhan dalam jangka penciek., seperti yang terjadi d..11:tm ekspansi dan kontraksi di dalam sikias bis­nis:. direfleksikan terutama dalam pertihair­an dalam perekonomian rill, yakni (ialarn produksi dan lapangan kerja. Namun, pen­dukung teori ekspektasi rasional-ekuilibri­urn menyatakan bahwa suplai (penawaran) dan permintaan bahkan pada level pereko­nomian secara keseluruhan akan terus­menerus diseimbangkan oleh penyesuaian dalam harga dan upah. Menurut pan­dangan baru ini, yang berhubungan den­gan para ekonom pra-Keynesian, pereko­nomian riil pada dasarnya bukannya tak stabil. Lalu bagaimana menjelaskan fluk­tuasi dalam aktivitas perekonomian yang begitu kasat mata itu? Salah satu jawaban (di samping beberapa jawaban lain yang telah diuji) adalah bahwa pekerja dan pengusaha, walaupun bertindak rasional dalam menghadapi pasar tempat mereka beroperasi, tidak mengetahui semua pasar lain dan konsekuensinya mudah melaku­kan kekeliruan—misalnya tentang perki­raan berapa banyak yang akan diproduksi atau berapa besar tenaga kerja yang dibu­tuhkan untuk merespons perubahan per­mintaan. Kesalahan dan pembetulannya ini akan menimbulkan gerakan siklis. Teo­ri yang lebih baru dalam genre ekuilibrium adalah teoiri siklus bisnis riil, yang men­gaitkan fluktuasi dengan “kejutan produk­tivitas”, di mana respons bisnis dan tena­ga kerja terhadap kejutan itu terlambat. Karena teori ini tak sepenuhnya meyakin­kan (Okun, 1980; Gordon, 1986, h. 8-9), persistensinya dalam berbagai bentuk se­jauh ini pasti disebabkan runtuhnya model makroekonomi Keynesian pada 1970-an, ketika hubungan berkebalikan antara in­flasi-pengangguran dalam jangka pendek menghilang dan tingkat inflasi tinggi mun­cul beriringan dengan tingkat penganggu­ran yang tinggi. Selain itu, teori ekspektasi rasional menekankan pada prinsip penting dalam analisis ekonomi, yakni bahwa agen ekonomi adalah individu yang optimis dan rasional. Di mana posisi kita saat ini dalam me­mandang siklus bisnis, yang merupak­an bagian utama dari kehidupan ekono­mi modern? Sangat mungkin bahwa para ekonom dan pemerintah telah banyak be­lajar untuk mencegah terulangnya Depre­si Besar tetapi di batik ini semua tidak ada teori dominan tunggal yang diikuti ban-yak ekonom, seperti dijelaskan oleh Victor Zarnowitz dalam artikelnya tahun 1985. Mungkin sebagian besar setuju bahwa sik­lus bisnis diakibatkan oleh banyak sebab, beberapa di antaranya dari luar sistem ekonomi dan sebagian lagi dari dalam 1«•r­ja sistem itu sendiri. Dari mana pun sum­bernya, penyebab itu bisa dari fak tor riil atau moneter. Mungkin karena siklus bis­nis itu sendiri sangat kompleks dalam per­ekonomian modern, maka si fat esensial­nya tak pernah bisa ditangkap olch model ekonometrik yang baru atau canggih seka­lipun. Mungkin model peramalan empiris yang ada dewasa ini tidak bisa menjelas­kan secara meinuaskan keadaaii ini.

Filed under : Bikers Pintar,