Advertisement

Berburu di hutan termasuk jenis perburuan yang umumnya dilakukan oleh orang Mentawai dalam usaha untuk memenuhi mata pencarian mereka. Kebanyakan hutan yang ada di daerah Mentawai berbentuk hutan rawa-rawa yang belum dijamah dan lumpur-lumpur yang akan menghambat perjalanan berburu. Jadi ketika berburu bilou (monyet) misalnya, yang sangat cepat larinya akan sulit terkejar karena kondisi alam tersebut di atas.

Adapun alat-alat yang digunakan untuk berburu di hutan antara lain sebagai berikut.

Advertisement
  1. Busur (douro) yang terbuat dari kayu sepanjang 1,5 m dengan tebal busur pada bagian tengah berdiameter sekitar 5 cm dan bagian kedua ujung se-kitar 2 cm. Pada kedua ujungnya biasanya dibuat ukiran yang menandakan asal dari klen si empunya busur . Tali busur dibuat dari akar pohon yang dipilin menjadi tali yang apabila tidak dipergunakan tali tersebut dilepaskan dari kedua ujung busur; anak panah (borusu) terbuat dari rotan dan ujungnya dari kayu yang dapat dilepaskan antara ujung panah dan batang panahnya dan tempat panah (bukbuk) yang terbuat dari kulit pohon sagu yang dibuat melingkar seperti bambu sepanjang 1 m dan diberi tutup. Tempat anak panah ini berdiameter sekitar 10 cm. Dalam membuat anak panah, biasanya orang tua akan membuatkan juga untuk anaknya anak panah yang ujungnya tidak runcing, biasanya ujungnya tersebut dibuat bundar. Dan anak-anak dapat menggunakannya untuk dicobakan ke buah kelapa yang masih ada di pohonnya, biasanya anak-anak ini berusia sekitar 10-15 tahun. Hal ini disebabkan karena untuk menarik busur diperlukan tenaga yang cukup besar, sehingga busur untuk anak-anak akan dibuat lebih kecil akan tetapi tetap saja untuk menariknya membutuhkan tenaga.
  1. Racun panah (anam)yang terbuat dari (semacam tumbuh-tumbuhan), cabe rawit, tuba, dan jahe (baklai).Bahan-bahan ini lalu ditumbuk dan dihaluskan, kemudian diperas untuk diambil airnya dengan menggunakan tempat letsudan kayu penjepit. Air perasan inilah yang kemudian dioleskan di setiap ujung panah.
  2. Keranjang kecil (opadan sitokbak),yang digunakan sebagai alat untuk membawa sagu sebagai bahan makanan di perjalanan. Alat ini terbuat dari rajutan rotan yang berlubang agak besar dan cara membawanya adalah diletakkan di punggung yang diikatkan di kiri kanan bahu. Alat ini juga dipakai sebagai tempat meletakkan parang (tele)dan benda-benda keperluan lainnya, dan terkadang juga digunakan untuk mengangkut hasil buruan.
  3. Parang (tele),yang digunakan untuk memotong kayu yang dianggap akan menghambat perjalanan dalam perburuan.

Anak panah biasa, mata panahnya terbuat dari kayu yang dibentuk meruncing sebesar jari telunjuk orang dewasa. Pada sisi luarnya dibuat guratan berbentuk memanjang dari ujung hingga pangkalnya agar anak panah tersebut tidak terlalu mulus, ujung panah tersebut sepanjang 10 cm. Kemudian disambung dengan sebuah rotan sepanjang 40 cm dan pada sambungannya diikatkan rotan. Sambungan ini gunanya adalah bila anak panah mengenai sasaran, maka ujung panahnya akan menempel terus ditubuh korban dan batang anak panahnya akan terlepas. Karena kalau tidak demikian korban jenis kera akan dapat mencabut anak panah tersebut.

Anak panah untuk anak-anak dibuat khusus dengan ujungnya yang tumpul. Kayu yang dipakai untuk membuat ujung anak panah ini biasanya memakai kayu jenis gabus yang ringan dan tidak keras.

Saat ini, ujung panah terbuat dari logam yang berbentuk segi tiga dengan aneka besaran yang berfungsi untuk korban-korban tertentu. Jenis kera atau babi hutan akan berbeda bentuk ujung panahnya. Untuk mendapatkannya biasanya orang akan membuat sendiri dari logam yang tipis yang kemudian diasah untuk diruncingkan sesuai dengan kehendak si pembuat.

Alat pembawa bahan makanan untuk bekal dinamakan dengan opa, yang mempunyai berbagai jenis antara besar sampai kecil. Bahan untuk pembuatnya adalah rotan yang dianyam dan kemudian pada sisi dalamnya diikatkan pelepah sagu untuk melindungi kulit punggung dari goresan anyaman rotan.

Berburu merupakan suatu aktivitas yang umumnya bersifat sakral. Artinya pada akhir ritual selalu diadakan berburu, akan tetapi berburu juga merupakan aktivitas yang dilakukan sehari-hari oleh kaum laki-laki dalam pemenuhan kebutuhan akan makanan. Pada saat berburu akan dimulai, terutama pada akhir ritual, diadakan dulu peramalan melalui jantung babi untuk meramalkan bagaimana hasilnya kelak dalam perburuan. Berburu dalam bentuk ini selalu dilakukan oleh orang-orang yang satu klen.

Ritual untuk berburu dilakukan untuk mengundang roh-roh binatang buruan agar mendekat kepada pemburu. Untuk itu sarana untuk memanggil binatang buruan adalah tengkorak-tengkorak yang tergantung di Uma penduduk, roh dari tengkorak tersebut diharapkan dapat memberi kabar kepada roh-roh binatang yang masih hidup agar jangan pergi jauh-jauh. Pergi berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, baik laki-laki yang sudah menikah maupun laki-laki dewasa yang belum menikah. Dalam berburu masyarakat akan mengikutkan anjing untuk mencari jejak binatang buruan.

Pada hari pertama ritual berburu, kaum perempuan mengumpulkan keladi dari ladang-ladang dan membawanya ke dalam rumah-rumah mereka sendiri (lalep). Sikerey kemudian memanggil roh-roh yang hidup dalam hutan untuk bersamasama pesta (punen) setelah ia memukul tuddukat. Lalu ukkui (kepala keluarga) dan ibu-ibu, keluarga luas laki-laki dan perempuan yang menjadi anggota klen masuk ke dalam Uma sambil membawa keladi yang dikumpulkannya. Anak-anak muda yang belum menikah diharuskan ke luar dari Uma.

Sikerey kemudian memukul tuddukat lagi dan ritual dimulai. Sikerey memanggil roh-roh yang melindungi binatang untuk mengajak dan membujuk binatang-binatang dalam hutan dengan bacaan-bacaan suci, dalam membaca mantera tersebut, sikerey menggunakan ayam jantan yang dibawa ke dalam Uma. Dengan menggunakan kepala ayam jantan tersebut sikerey menyentuhkan kepala ayam tersebut kepada masing-masing anggota klen.

Senjata yang berupa anak panah dan busurnya serta alat perlengkapan lainnya seperti keranjang (bakulu) yang akan digunakan, dikumpulkan bersama-sama dalam ritual tersebut kemudian diberikan doa-doa, termasuk juga anjing yang akan diajak untuk berburu. Semuanya disentuhkan kepala ayam jantan oleh sikerey. Setelah itu semua anggota klen makan bersama dalam Uma yang berupa keladi yang dibawa dari rumah masing-masing. Setelah itu kemudian kepala suku memukul tuddukat lagi dan setiap anggota klen pulang dengan membawa makanan yang sudah bersifat sakral tadi.

Hari berikutnya ritual dilanjutkan kembali. Pada waktu ini tidak hanya kepala suku yang menyediakan ayam, akan tetapi semua partisipan juga menyediakan ayam yang kemudian dipatahkan lehernya untuk dibakar dan dimakan. Di samping itu babi juga disediakan untuk dimakan. Masing-masing kepala keluarga membawa ayam untuk persembahan, sedangkan babi hanya beberapa ekor saja tergantung dari kepala keluarga siapa yang membawa babi. Membawa babi selain sebagai makanan untuk ritual, juga aigunakan untuk menaikkan prestise dari si kepala keluarga yang membawanya. Daging ayam dan babi akan dimakan bersamasama seluruh anggota klen secara sama rata, untuk si pembawa babi akan mendapat bagian kepala.

Kaum perempuan diperbolehkan untuk membersihkan dan menyiapkan daging ayam juga diikuti oleh kaum perempuan yang belum menikah. Bagi kaum perempuan yang belum menikah tidak boleh menerima apa pun dari daging yang dipotong sebab di Uma ayam diperuntukkan bagi keluarga ayah dan dibagi dalam piring khusus (lulak). Daging yang sudah bersifat sakral ini disebut dengan Silimen yang terdiri dari hati dan keladi yang dibagi sama rata bagi setiap kepala keluarga dalam lulak.

Sesudah sikerey memukul tuddukat, setiap kepala keluarga masuk ke dalam Uma dan sikerey mengambil dua silimen untuk dibacakan dengan mantera-mantera dan memberikan dua silimen tersebut kepada roh-roh binatang. Silimen yang lain diberikan kepada para undangan. Seluruh undangan makan bersama setelah sikerey memukul tuddukat. Meskipun makanan belum habis, para undangan diperbolehkan istirahat dan tidur di Uma.

Ketika orang-orang terjaga pada esok harinya, kaum perempuan menangkap udang, kemudian udang tersebut dibawa ke daiam Uma. Istri kepala suku akan memasak udang tersebut dan mencampurnya dengan pisang rebus. Makanan ini juga disajikan sebagai silimen, makanan sakral. Silimen jenis ini akan dibagikan kepada setiap keluarga ayah dan dibawa pulang serta dimakan di lalep. Pada malam harinya sikerey menari (turu) dan mempersembahkan tarian tersebut untuk roh penjaga binatang, kemudian diikuti oleh anak-anak muda untuk menari. Anakanak kecil biasanya menonton dan sesekali ikut menabuh kayu-kayu yang ada di sekitarnya mengikuti irama tarian.

Keesokan harinya, keluarga ayah membuat racun panah. Masing-masing panah mempunyai fungsi secara sendiri-sendiri, maksudnya adalah ada anak panah khusus untuk kera, babi dan kijang. Racun panah tersebut terbuat dari tumbuhtumbuhan antara lain terbuat dari daun ipuh (Antiaris Toxicaria) dan dicampur dengan akar tuba (Denis Elliptica) dan cabai. Kesemuanya dihancurkan dan dicampur dengan alat penghalus (momomot raggi). Sesudah formula tersebut selesai dibuat, kemudian diletakkan di alat penekan terbuat dari dua buah kayu yang pada ujungnya diikat dengan rotan (pepetselet raggi).

Ramuan racun tersebut diletakkan di dalam gelang rotan dan kemudian ditaruh di antara dua kayu untuk kemudian dijepit dan diambil airnya. Kemudian ujung anak panah dilekatkan dengan formula tersebut lalu masing-masing dipanaskan agar melekat erat di ujung anak panah.

Alat pembuat racun panah untuk mengambil cairan atau perasan dari campuran cabe rawit dan sebagainya yang telah ditumbuk kemudian diletakkan di sebuah anyaman kecil, lalu ditekan sampai keluar cairannya. Gambar di bawah ini adalah alat untuk membuat racun bagi anak panah.

Pada perkembangan masa sekarang, karena adanya percampuran budaya dengan masyarakat lain, seperti masyarakat industri jasa, perlengkapan berburu ini sudah banyak mengalami perubahan. Para pemburu biasanya ada juga yang menggunakan senapan untuk menembak binatang buruan. Penggunaan senapan laras panjang tentunya memerlukan bahan lainnya seperti peluru yang harus dibeli, sehingga kondisi ini akan mengubah pranata sosial lainnya. Perubahan yang terjadi adalah dengan munculnya penggunaan uang dan usaha untuk memperoleh uang guna membeli perlengkapan berburu. Usaha ini adalah dengan menjual rotan atau minyak nilam yang diolah dari bentuk daun menjadi minyak dengan menggunakan teknologi yang sederhana yaitu dengan cara membakar daun nilam secara besar-besaran dalam sebuah tong besar kemudian menyulingnya.

Anggota klen yang pergi berburu membawa keladi atau sagu yang telah dibakar sebagai bekal mereka. Biasanya pergi berburu memakan waktu satu minggu. Anak laki-laki umumnya juga ikut serta mengikuti kelompok perburuan sambil membawa bekal makanan bagi seluruh anggota. Setelah mereka mendapatkan hasil buruan, seluruh anggota klen mengadakan pesta dan makan bersama lagi. Anakanak biasanya mendapat daging yang melekat di tengkor?k binatang buruan, dan setelah direbus si anak akan memakannya dengan cara memegang kepala binatang tersebut sambil mulutnya menggigit daging yang melekat di tulang tersebut. Tengkorak hasil buruan akan digantungkan di dinding Uma dan dapat digunakan untuk memanggil roh-roh binatang.

Tengkorak hasil buruan ini terdiri atas serangkaian tengkorak kera, babi hutan dan tengkorak rusa di tengahnya. Susunan ini disebut dengan Orat Simagre atau jalan menuju ke alam supra natural. Tengkorak-tengkorak ini dipakai juga untuk sarana memanggil roh binatang di hutan agar jangan pergi bila diburu.

Ketika para pemburu datang dari hutan, mereka akan menggunakan alangalang di kepalanya dan diikat dengan tali. Atribut ini mempunyai arti sebagai kesuksesan dalam berburu. Kepala suku kemudian memukul tuddukat untuk memberikan informasi kepada yang lainnya dan suku lain bahwa seseorang dari pemburu telah mendapatkan hasil buruan.

Mengadakan pesta untuk ritual berburu biasanya mengajak seluruh anggota kampung, baik yang termasuk satu suku maupun lain suku. Seluruh suku yang ada di kampung tersebut pada umumnya diundang untuk pesta hasil buruan. Pada masa lalu undangan kepada lain suku tidak dilakukan, hal ini disebabkan karena masing-masing suku saling bersaing dan bahkan bisa terjadi konflik. Kadang hasil buruan dipakai untuk mengejek suku lain yang pada saat itu sedang berseteru dengan klen yang berburu tersebut. Persaingan ini sampai sekarang masih sering dilakukan. Biasanya klen yang ditujukan ejekannya melalui tudukkat akan melakukan perburuan untuk membalas klen yang mengejek. Ejek mengejek secara tradisional disebut juga dengan pako, yang pada dasarnya adalah ajang persaingan antarklen atau satu klen antarkeluarga.

Persaingan tersebut dilakukan dengan cara melakukan perburuan bina-tang, dan yang paling bergengsi binatang yang diburu adalah simakobu sejenis siamang. Jika seorang anggota klen mendapatkan simakobu maka ia akan me-ngejek lawannya dengan memakai tudukkat sehingga klen lawannya itu merasa panas hati. Pada keesokan harinya mereka akan pergi berburu untuk membalas ejekannya tersebut. Binatang yang akan diburu harus simakobu, karena binatang tersebut bergengsi tinggi. Penyebab persaingan itu pada umumnya adalah tanaman ladang atau sagu yang tumbuh di areal milik musuhnya atau penguasaan salah satu tanaman ladang atau kebun. Alat sejenis kentongan tudukkat.

Kembali pada binatang hasil buruan, hewan tersebut kemudian dibakar untuk melepaskan bulu-bulunya, lalu dipotong-potong untuk selanjutnya direbus. Setelah itu kemudian dibagi sama rata dengan para undangan yang datang seluruhnya untuk makan bersama dengan daging yang telah matang (Sirubei Simara). Ada juga daging-daging yang dipotong-potong dan dibagikan dalam bentuk mentah (Sirubei Simata). Masalah pembagian daging hasil buruan, baik secara mentah maupun matang adalah urusan kaum laki-laki. Pembagian hasil tersebut haruslah adil dan tidak memandang jumlah masing-masing keluarga, tetapi hanya menghitung anggota klen yang terdiri dari berapa lalep atau keluarga batih saja. Pembagiannya akan sama jumlahnya antara satu keluarga dengan keluarga lain walaupun jumlah anggota keluarganya berbeda.

Beberapa syarat mengikuti aturan-aturan dalam berburu binatang. Jika syarat tersebut dilanggar, maka beberapa akibat akan muncul mengikutinya, seperti para roh akan menjadi marah, pemburu akan sakit demam, dan dewa hutan yang menjaga binatang tersebut akan marah.

Larangan-larangan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Anjing yang dibawa dalam perburuan tidak boleh dipukul, karena jika disakiti, rohnya akan keluar dari tubuh anjing, dan akibatnya anjing itu tidak akan mau membantu mencari hewan buruan.
  2. Dilarang membasahi rambut atau kaki sebelum berburu, kecuali kalau sudah berada dalam perburuan. Larangan ini berkaitan dengan roh penjaga hutan dan penjaga air. Para pemburu harus menghormati roh penjaga hutan dengan cara rambut penutup ubun-ubun kepala jangan kena air. Demikian pula kaki yang dipakai pemburu untuk melangkah ke dalam hutan dilarang tersentuh air.
  3. Anggota pemburu harus berburu secara individual. Kalau tidak roh kera yang didoakan akan kembali pulang ke dalam kelompoknya, dan mereka akan jauh dari sasaran perburuan.
  4. Para pemburu harus tetap terjaga dan dilarang tidur sementara mereka membuat racun panah. Kalau tidak, kera yang diburu akan pergi ke cabang pohon yang lebih tinggi dan sulit untuk dipanah pemburu.
  5. Sebelum pergi berburu dilarang membuat minuman jurut (minuman yang terbuat dari campuran sagu, pisang, dan santan kelapa).
  6. Kepala suku harus duduk di tempat terbuka, dan dilarang duduk sendiri di tempat yang terlindung. Ia harus duduk di depan pintu Uma menghadap bagian dalam Uma untuk menjaga roh-roh dari binatang-binatang hasil buruan terdahulu agar tetap di tempatnya, jangan ikut pergi ke dalam hutan karena akan menyebabkan binatang buruan semakin jauh.
  7. Sesudah orang-orang mendapatkan kijang, kera dalam masa Punen selalu diikuti oleh larangan-larangan. Mereka harus membagi hasil kepada seluruh anggota dan makan bersama. Daging buruan tidak boleh dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Kegiatan berburu ke hutan dilakukan secara beramai-ramai (berkelompok), masing-masing membawa anjing pemburunya. Ketika hewan buruan bersembunyi di atas pohon, dan berada dalam posisi yang sulit dipanah, biasanya mereka akan memanjat pohon untuk mengusirnya, sementara yang lain akan mempersiapkan panah untuk membidiknya.

Jika jenis kera yang ditemukan, mereka akan langsung memanahnya. Mata panah akan masuk ke dalam tubuh kera, dan biasanya hewan itu akan berupaya melepaskan batang anak panahnya. Batangnya akan terlepas dari mata panahnya, sedangkan mata panah tetap menancap di dalam tubuh kera. Setelah berlompatlompat, kera akan perlahan-lahan lemas karena reaksi racun yang ada pada anak panah. Setelah kera jatuh, anjing akan serentak memburunya untuk memberi tahu di mana lokasi kera itu jatuh.

Lain halnya dengan babi hutan, pada reaksi awal adalah suara anjing pemburu yang mendeteksi adanya babi hutan, barulah kemudian para pemburu mengikuti arah suara anjing tersebut. Panah yang dipergunakan lebih besar daripada yang dipakai untuk berburu kera. Setelah babi hutan dipanah atau terkena anak panah, anjing-anjing pemburu akan mengikuti ke arah larinya babi hutan sampai babi tersebut menjadi lelah dan lemas. Kadang-kadang perburuan babi hutan juga menggunakan tombak.

Hasil buruan utama mereka adalah babi hutan (sus barbatus) dan bilou (monyet/Hylobates klosii), simakobu (Simias Concolor), joja (Preshytis Potenziani/ binatang sejenis kera siamang). Yang biasa hidup di dua alam yaitu di tanah dan di pohon antara lain bokoi (beruk/Macaca Pagensis), tidak pernah menjadi binatang buruan. Hasil buruan yang umumnya babi hutan, biasanya dipanggui oleh anakanak secara beramai-ramai dengan memakai kayu panjang (bambu) sebagai pemikulnya.

Apabila kelompok ini telah mendapatkan hasil buruan, maka akan dibunyikanlah tuddukat sebagai alat pemberitahuan kepada anggota kelompok sukunya bahwa mereka telah mendapatkan hasil buruan, sehingga tersebarlah kabar bahwa klen tersebut telah mendapatkan binatang buruan jenis tertentu, dan tentu saja akan membuat sebagian klen lain merasa iri hati. Secara otomatis apabila klen tersebut mendapatkan binatang yang bergengsi tinggi, maka kedudukan klen tersebut akan semakin lebih terpandang di dalam kampung.

Dalam keseharian, pada waktu laki-laki pergi ke rumah di tengah hutan biasanya dia akan menyertakan keluarganya, dan dia akan membawa serta busur dan anak panah, sambil sesekali memanah hewan-hewan yang dapat dilihat olehnya dalam perjalanan. Anak laki-laki kecil digendong di punggungnya, sedangkan anak perempuan kecil akan digendong oleh ibunya. Sementara itu, anak-anak yang sudah cukup besar (7-10 tahun) akan berjalan di samping orang tuanya. Tampak dalam perjalanan tersebut anak perempuan akan membawa keranjang, sedangkan anak laki-laki membawa parang ayahnya. Sambil berjalan menuju ke rumah di dalam hutan, mereka akan memeriksa perangkap-perangkap yang telah dipasangnya pada hari kemarin atau beberapa hari yang lalu. Perangkap yang dipasang biasanya berupa perangkap tupai.

Incoming search terms:

  • cara membuat alat pemanggil kijang
  • doa berburu binatang
  • doa sebelum berburu
  • cara membuat alat pemanggil rusa
  • doa berburu
  • cara membuat pemanggil kijang dari bambu
  • cara membuat pemanggil kijang
  • doa pergi berburu
  • cara membuat perangkap tupai tradisional
  • perlengkapan berburu di hutan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • cara membuat alat pemanggil kijang
  • doa berburu binatang
  • doa sebelum berburu
  • cara membuat alat pemanggil rusa
  • doa berburu
  • cara membuat pemanggil kijang dari bambu
  • cara membuat pemanggil kijang
  • doa pergi berburu
  • cara membuat perangkap tupai tradisional
  • perlengkapan berburu di hutan