Advertisement

Sapi dan kuda pada umumnya diternak oleh masyarakat yang mata pencarian pokoknya beternak dan juga bersawah. Sapi yang dipelihara oleh masyarakat petani sawah, pada umumnya dikandangkan dengan sekali-sekali dilepas di padang rumput yang ditunggui oleh pemilik sapi atau seseorang yang disewa oleh pemilik sapi. Sementara itu, sapi-sapi yang dipelihara oleh masyarakat peternak dilepaskan di padang rumput dalam jumlah yang besar dan digembalai oleh seseorang dengan menunggang kuda. Biasanya dalam sistem beternak sapi dengan cara mengandangkan hewan ternak merupakan mata pencarian tambahan di samping bercocok tanam. Pada umumnya sapi diambil susunya sebanyak dua kali dalam satu hari. Hasil susu yang diperoleh dari peternakan akan dijual oleh pemiliknya kepada pengumpul susu dengan cara memasukkannya ke dalam kaleng susu. Pada pagi hari seekor sapi menghasilkan 8 liter susu, dan pada sore hari 4 liter susu.

Alat yang digunakan pada dasarnya sangat sederhana. Tangan si pemilik hewan ternak memerah puting susu sapi dengan cara memencet puting tersebut berulang-ulang ke atas dan ke bawah sampai air susunya keluar dan ditampung di sebuah kaleng susu. Proses ini kemudian dijalankan dengan teknologi yang lebih maju yaitu menggunakan alat pemerah susu secara mekanik. Alat itu diletakkan pada seluruh puting susu sapi untuk menyedotnya secara mekanis.

Advertisement

Pada peternakan sapi yang bersifat sederhana yang umum dilakukan oleh penduduk pedesaan, usaha untuk memperbanyak produksi susu dari sapi peliharaannya adalah dengan memberikan makanan khusus tertentu untuk sapi peliharaan. Jika peternak mendapat kesulitan dalam hal keuangan, makanan khusus ini biasanya dicampur dengan rumput biasa untuk menambah produksi susunya. Sapi-sapi peliharaan ini pada dasarnya tidak digembalakan di padang rumput, akan tetapi cukup ditempatkan di kandang. Setiap hari peternak akan membersihkan kotoran-kotoran sapinya yang ada di kandang dengan cara menyiramkan air ember demi ember dan menyapu kotorannya. Sisa-sisa kotoran sapi ini kemudian dipakai sebagai pupuk untuk tanaman kebun.

Teknik menggembalakan kuda di padang rumput yang luas itu merupakan ciri yang utama dalam masyarakat peternak, dan bahkan hewan ternak miliknya ini dilepas begitu saja di padang rumput seakan-akan tanpa pengawasan. Pada masa sekarang sistem melepas hewan ternak ini hanya dilakukan pada pagi hari sampai sore hari, sedangkan pada malam hari hewan ternak akan dibawa oleh pemiliknya ke kandangnya di dusun.

Hewan-hewan ternak tersebut diberi tanda pada tubuhnya untuk membedakan siapa yang memiliki ternak itu. Pemberian tanda itu dilakukan dengan sebuah alat dari besi (ujungnya berbentuk lingkaran) yang dipanaskan untuk kemudian dicapkan pada tubuh bagian belakang hewan. Inilah salah satu cara orang memberi tanda kepemilikan hewan ternak seseorang untuk membedakannya. dari kepemilikan orang lain. Akan tetapi, cara ini jarang digunakan karena pada umumnya para peternak mampu mengenali hewan ternak mereka masing-masing meskipun digembalakan bersama-sama dalam jumlah besar pada suatu lahan yang sama. Untuk menggiring ternak-ternak, biasanya dipakai kuda yang ditunggangi ora’ng untuk mengarahkan jalannya sekumpulan ternak yang digembalakan.

Hewan ternak semacam ini pada umumnya dimanfaatkan daging serta susunya (kuda dan sapi), kecuali satu dua ternak digunakan sebagai alat transportasi bagi pemiliknya. Bahkan susu kuda Sumbawa misalnya, diperdagangkan ke provinsi lain karena dipercaya dapat meningkatkan stamina bagi para peminumnya. Dengan kepopuleran susu kuda, para peternak kuda di Sumbawa berusaha untuk tetap melakukan sistem ternak dengan beberapa penambahan mata pencarian berkebun, sehingga tergambar adanya pola-pola penggunaan lahan bagi perkebunan ladang sebagai pendamping dalam beternak.

Advertisement