Advertisement

CARA MEMBUAT PAKAIAN KULIT KAYU – Suatu unsur pakaian de­ngan bahan sederhana dari kulit kayu. Pakaian seperti ini dikenal oleh berbagai masyarakat di dunia, misal­nya masyarakat Mesir Kuno, masyarakat Polinesia dan berbagai masyarakat suku bangsa di Indonesia. JCulit kayu itu biasa digunakan sebelum masyarakat ‘ mengenal kepandaian bertenun, atau sebelum mereka mengenal kontak dagang atau barter dengan masyara­kat lain yang menghasilkan kain. Pada mulanya, pa­kaian kulit kayu berfungsi untuk menutup aurat atau melindungi tubuh dari cuaca alam sekitar. Namun ke­mudian pakaian itu diperlukan dalam upacara, dan di­gunakan pula sebagai pengisi kebutuhan akan kein­dahan. Hal itu ditandai dengan motif hiasan dan tata warna tertentu.

Sumber referensi tertentu mencatat sejumlah suku bangsa di Indonesia yang pernah mengenal, mem­buat, dan memakai jenis pakaian kulit kayu. Pada ma­sa yang belum lama berselang, beberapa suku bangsa seperti orang Biak Numfor, orang Waropen, pendu­duk pedalaman Sarmi, orang Mimika di Irian Jaya, dan subkelompok orang Dayak tertentu di Kaliman­tan masih memakai kulit kayu sebagai unsur pakaian mereka. Kulit kayu itu digunakan sebagai cawat atau baju. Beberapa suku bangsa lain, seperti suku bangsa Bengkulu, Gayo, dan Kulawi, pernah juga meng­gunakan pakaian kulit kayu. Orang Bengkulu menye­but pakaian kulit kayu itu terok, dan, hampir menye­rupai nama itu, orang Gayo menyebutnya tarok. Orang Bengkulu dan orang Gayo sudah lama tidak memakai bahan itu. Kedua suku bangsa ini mempu­nyai pengalaman yang hampir sama pada masa pen­dudukan Jepang di Indonesia. Karena keadaan ekono­mi yang sangat sulit pada waktu itu, mereka kembali membuat dan memakai kulit kayu, bahkan ada pula yang memakai karung goni. Pada masa itu, memang sebagian orang Gayo mengaktifkan kembali kepan­daian bertenun yang berkembang di masa lalu, tetapi tidak s>.mua orang sempat dan pandai bertenun.

Advertisement

Proses pembuatan bahan pakaian kulit kayu pada berbagai suku bangsa di Indonesia memiliki persama­an. Proses pembuatan bahan pakaian itu dapat dilihat, misalnya, pada orang Lore dan orang Kulawi di Pro­pinsi Sulawesi Tengah. Kulit kayu yang disebut fuya ini terbuat dari kulit pohon ambo (Broussonetispapy- fers), pohon umayo (Trem amboinensis), pohon tea (Artocarpus blumei), dll.

Pembuatan bahan kulit kayu ini dikerjakan dalam beberapa tahap. Pertama-tama kulit dipisahkan dan pohon kayu, lalu direbus sampai masak dan dibung- , kus selama tiga hari, kemudian dicuci dan kadang-ka­dang digosok dengan abu dapur untuk menghilangkan getahnya. Selanjutnya kulit yang sudah bersih dipu- jcul-pukul dengan pola, suatu alat yang terbuat dari batang enau. Pukulan-pukulan itu menyebabkan kulit penjadi semakin lebar. Kemudian alat pemukul di­ganti dengan batu kasar yang disebut tinahi. Alat ini juga digunakan untuk menyambung dua potongan ku­lit sehingga menjadi panjang atau lebar. Akhirnya ku­lit itu dipukul-pukul lagi dengan alat pemukul yang lebih halus (ike), sehingga bahan itu tampak menye­rupai kain. Bahan ini kemudian digantung untuk di­anginkan (nilave). Sesudah kering, kulit itu dilipat dan diratakan ltfgi dengan niparondo, alat yang fung­sinya menyerupai seterika.

Mereka juga mempunyai sistem pengetahuan un­tuk memberi warna pada kulit kayu itu, yang bisa menghasilkan beberapa macam warna, seperti hitam, cokelat kemerahan, cokelat kehitaman, kuning, hijau, dll. Bahan pewarna itu, antara lain, tanah, kulit kayu, daun-daunan, atau buah-buahan tertentu. Warna hi­tam diperoleh dengan cara merendam kulit ke dalam lumpur selama beberapa hari.

Warna cokelat kemerahan didapat dengan mence­lupkan bahan itu ke dalam air hasil rebusan kulit kayu Lekuto. Warna cokelat kehitaman didapat dengan menggunakan campuran air dengan kayu ula. Akhir­nya kulit kayu yang telah diberi warna ini bisa dibuat menjadi licin, dengan cara mengosok-gosoknya de­ngan kulit kerang (buluhu). Seluruh proses pembuat­an fuya pada masyarakat Sulawesi Tengah dikerjakan kaum wanita.

Kain kulit kayu atau fuya ada yang agak kasar dan ada pula yang halus seperti kertas. Fuya yang kasar digunakan untuk pakaian sehari-hari, sedangkan fuya yang halus dan tipis, dan biasanya diberi ragam hias dan warna-warni, digunakan untuk pakaian upacara. Hiasan yang tampak pada fuya, antara lain katak, la- bah-iabah, cicak, dan berbagai motif geometrik.

Incoming search terms:

  • cara membuat baju dari kulit kayu
  • cara membuat baju dayak
  • ###########################################
  • baju dayak dari kulit kayu
  • cara mengolah kulit kayu
  • cara membuat pakaian dayak
  • cara membuat busana dari bahan kulit
  • bahan membuat baju dayak
  • suku yang membuat pakaian dari kulit kayu
  • baju terbuat dari kulit kayu

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • cara membuat baju dari kulit kayu
  • cara membuat baju dayak
  • ###########################################
  • baju dayak dari kulit kayu
  • cara mengolah kulit kayu
  • cara membuat pakaian dayak
  • cara membuat busana dari bahan kulit
  • bahan membuat baju dayak
  • suku yang membuat pakaian dari kulit kayu
  • baju terbuat dari kulit kayu