CARA MENGHADAPI KANKER

59 views

CARA MENGHADAPI KANKER – Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa intervensi yang menghilangkan kecemasan dan depresi serta membangkitkan semangat juang dapat membantu seseorang menghadapi kanker (Stolbach dkk., 1988; Smith, 2000; Telch & Telch, 1986). (Fokus Penemuan 8.3 menggambarkan upaya semacam itu pada anak-anak.) Sikap tidak pasif bahkan dapat meningkatkan kemampuan untuk sembuh dari kanker (Greer, Morris, & Pettigale, 1979). Sikap optimis dan penuh semangat penting untuk melawan penyakit, termasuk berbagai penyakit serius seperti kanker (Carver dkk., 1993) dan status positif HIV (Taylor dkk., 1992). Mekanisme sikap optimis dalam membantu orang-orang yang menderita penyakit mematikan dapat berupa kaitannya dengan coping adaptif. Grang yang optimistis—contohnya, orang yang memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi (Bandura, 1997)—lebih mungkin untuk berperilaku sehat yang mengurangi risiko penyakit seperti menghindari seks berisiko atau melakukan olahraga rutin yang disarankan dokter setelah operasi bypass koroner (Scheier & Carver, 1987).

Intervensi Psikologis untuk Membantu Menghadapi Kesulitan
Sebuah laporan mengejutkan yang disampaikan oleh para peneliti di Stanford Medical School mengindikasikan bahwa kualitas hidup dan bahkan tingkat kesembuhan para pasien kanker yang mematikan dapat ditingkatkan dengan intervensi psikososial. Para penderita kanker payudara metastatik berpartisipasi dalam terapi kelompok dukungan (supportine group therapy) secara mingguan, di mana mereka saling memberikan pengertian dan rasa nyaman, membicarakan kematian dan kondisi sekarat secara terbuka, mengekspresikan perasaan mereka, dan saling mendorong untuk menjalani hidup selengkap mungkin meskipun menghadapi kematian. Komunikasi mereka dengan keluarga juga meningkat dan mempelajari teknik-teknik hipnotis diri untuk mengontrol rasa sakit dan mengurangi rasa lelah yang berlebihan, kecemasan, dan depresi (Spiegel, Bloom, & Yalom, 1981). Pemantauan selama sepuluh tahun menemukan bahwa intervensi kelompok dukungan yang berlangsung selama setahun tersebut benar-benar memperpanjang masa hidup. Dibandingkan dengan para pasien kelompok.kontrol, para pasien terapi kelompok hidup dua kali lebih lama (Spiegel, 1990; Spiegel dkk., 1989). Berspekulasi tentang temuan mengenai kesem-buhan tersebut—yang tidak diharapkan dan bukan merupakan topik diskusi terapi kelompok—Spiegel dan para rekannya berpendapat bahwa mungkin terapi tersebut membantu para pasien lebih patuh pada perawatan medis atau nafsu makan dan pola makan mereka meningkat karena mood yang membaik. Kemampuan mengendalikan rasa sakit juga dapat membantu mereka lebih aktif secara fisik. Dan, konsisten dengan penelitian yang dibahas sebelumnya mengenai bagaimana stres memengaruhi sistem kekebalan, terapi tersebut dapat meningkatkan fungsi kekebalan melalui berkurangnya stres, di mana dukungan sosial merupakan faktor penting (House, Landis, & Umberson, 1988; Levy dkk., 1990). Sayangnya, temuan kelompok Stanford yang menjanjikan mengenai kesembuhan yang lebih lama tersebut tidak dihasilkan oleh beberapa tim peneliti independen dalam penelitian sejenis, meskipun terapi kelompok pendukung tampaknya memang membuat mood membaik (a.1., Goodwin dkk., 2001).
Terapi penyelesaian masalah (Problem-Solung Therapy-TPM) telah menunjukkan manfaatnya dalam membantu para pasien kanker menghadapi sangat banyak tantangan hidup, mulai dari gangguan kecil sehari-hari hingga isolasi diri dan depresi (Nezu dkk., 1997). Suatu komponen penting PST (dan berbagai pendekatan lain yang dapat membantu para pasien kanker) adalah meningkatkanya rasa kendali yang dipelajari para pasien untuk dipraktikkan. Tampaknya kontrol semacam itu akan sangat penting bagi orangorang yang menderita penyakit mematikan yang mengalami berbagai efek samping penanganan. TPM juga terbukti membantu para perawat, yang harus menghadapi berbagai masalah pasien yang berkaitan dengan kanker, seperti kelelahan yang amat sangat dan kerontokan rambut (Bucher dkk., 1999).
Stres besar yang ditimbulkan oleh diagnosis kanker dan penanganannya membuat jenis pendekatan ma-najemen stres yang dijelaskan sebelumnya menjadi relevan. Hal yang terbukti membantu mengurangi kecemasan sebelum dan setelah menjalani berbagai penanganan kanker adalah informasi yang jelas mengenai prosedur itu sendiri, termasuk apa yang mungkin dialami pasien selama dan setelah menjalaninya, juga memberikan pela tihan relaksasi dan hipnotis (Wallace, Priestman, Dunn, & Priestman, 1993). Salah satu informasi yang sangat penting adalah fatik (kelelahan amat sangat) merupakan kondisi alamiah yang timbul karena berbagai penanganan kanker, terutama radiasi dan kemoterapi. Mengetahui bahwa fatik merupakan efek samping normal dari penanganan dapat mencegah pasien dan keluarganya menyimpulkan adanya masalah depresi (Andersen, Golden-Kreutz, & DiLillo, 2001), meskipun, secara pasti, para pasien kanker juga dapat memiliki kecenderungan mengalami depresi singkat. Efek samping lain adalah hilangnya nafsu makan karena mengasosiasikan makanan dengan rasa mual yang ditimbulkan oleh kemoterapi dan radiasi (lihat Chambers & Bernstein, 1995; ingat pembahasan sebelumnya di hlm. 189-190). Hilangnya nafsu makan tersebut dapat menyebabkan turunnya berat badan dan juga suatu perasaan menyeluruh mengenai berkurangnya kualitas hidup (Anderson dkk., 2001).

Masalah bagi laki-laki adalah kanker prostat. Prostat adalah kelenjar kecil di sekeliling uretra, yaitu saluran yang mengalirkan urin dari kandung kemih melalui penis dan keluar dari tubuh. Kelenjar tersebut biasanya akan dibuang melalui operasi jika terdapat kanker di dalamnya. Meskipun demikian, karena jenis kanker ini pertumbuhannya lambat, beberapa laki-laki yang berusia tua memilih untuk tidak menjalani operasi karena kemungkinan mereka akan meninggal karena berbagai sebab lain sebelum kanker prostat tersebut mencapai stadium yang dapat membunuh mereka dan, lebih penting lagi, karena pembuangan prostat tersebut sering kali memberikan dua efek samping yang sangat negatif, yaitu sangat berkurangnya atau hilangnya kemampuan ereksi dan hilangnya kontrol penuh untuk berkemih. Penelitian baru-baru ini mengenai berbagai isu kualitas hidup pada laki-laki yang menjalani operasi prostatektomi menemukan bahwa para pasien pascaoperasi menilai kualitas hidup mereka cukup tinggi, terutama saat mereka diberitahu mengenai alat bantu ereksi, seperti penanaman alat penegak (Perez dkk., 19970. Dengan tersedianya Viagra baru-baru ini, suatu obat yang dapat memperbaiki fungsi ereksi, prospeknya menjadi semakin baik bagi penyesuaian psikologis yang baik setelah menjalani operasi tersebut.

Intervensi untuk Mendorong Pencegahan
Berbagai intervensi psikologis dalam model psikologi komunitas juga memfokuskan pada pencegahan kanker dengan mendorong perilaku sehat dan tidak mendorong perilaku yang tidak sehat. Berbagai intervensi lain bertujuan untuk mendorong perempuan melakukan periksa payudara sendiri (SADARI). Masalah utama dalam SADARI adalah uji tersebut secara signifikan meningkatkan kemungkinan timbulnya konsekuensi yang menakutkan, yaitu menemukan benjolan. Secara logis, adalah lebih baik mengambil risiko tersebut daripada tidak, namun faktanya ketakutan akan menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan merupakan penghambat utama untuk melakukan uji tersebut (Mahoney, 1977) dan banyak perempuan yang berisiko tinggi (mereka yang memiliki anggota keluarga tingkat pertama yang menderita kanker payudara) tidak melakukan mammografi secara rutin (Vogel dkk., 1990). Dalam upaya menciptakan cara untuk membantu perempuan melakukan SADARI secara rutin, Meyerowitz dan Chaiken (1987) membandingln—dua pamflet mengenai SADARI. Salah satu pamflet berisi argumen persuasif untuk melakukan SADARI seraya menekankan berbagai konsekuensi negatif bila tidak melakukan SADARI; pamflet lain menekankan keuntungan melakukan SADARI. Kedua pamflet tersebut berisi informasi aktual mengenai kanker payudara dan bagaimana cara melakukan SADARI. Dalam contoh berikut ini, kata dalam tanda kurung bulat berbentuk positif, sedangkan dalam tanda kurung kotak berbentuk negatif. Beberapa kelompok yang diberi pamflet yang berbeda tidak memiliki perbedaan sikap terhadap SADARI segera setelah membaca pamflet tersebut. Meskipun demikian, empat bulan kemudian, para perempuan yang menerima informasi dalam kemasan negatif lebih besar kemungkinannya untuk melakukan SADARI. Efek tersebut dapat terjadi karena mereka yang tidak melakukan SADARI secara rutin memiliki sikap “mengabaikan itu menguntungkan”, namun informasi dalam pamflet yang menunjukkan secara lebih jelas berbagai kemungkinan konsekuensi negatif bila tidak melakukan SADARI menjadikan uji payudara tersebut lebih dapat diterima. Temuan ini sangat penting karena sebagian besar pamflet yang dimaksudkan untuk membantu kaum perempuan melakukan SADARI menekankan sisi positif dibanding sisi negatif. Dalam suatu studi oleh Banks, Salovey dkk. (1995), diperoleh hasil yang sama dengan temuan Meyerowitz dan Chaiken. Para perempuan yang diberi informasi mengenai risiko yang timbul bila tidak melakukan mammografi—berarti pendekatan berbingkai kerugian—lebih mungkin melakukan mammografi dibanding para perempuan yang diberi informasi mengenai manfaat melakukan mammografi. Dalam studi lanjutan oleh Detweiler dan Salovey (1999), orang-orang yang berjemur di pantai yang diberi informasi mengenai manfaat menggunakan tabir surya—berarti komunikasi berbingkai manfaat—lebih mungkin menggunakan tabir surya setelah membaca informasi yang menekankan manfaat perilaku kesehatan preventif semacam itu dibanding mereka yang membaca informasi yang memfokuskan pada risiko bila tidak menggunakan tabir surya.

Berbagai studi tersebut memiliki implikasi penting. Jika seseorang ingin menggalakkan perilaku deteksi kesehatan, perlu ditekankan risiko yang timbul bila tidak melakukan suatu tindakan yang dapat mendeteksi adanya masalah. Di sisi lain, jika ingin menggalakkan perilaku preventif yang meningkatkan kesehatan, hal terbaik adalah menekankan manfaat yang dihasilkan dari tindakan untuk mencegah timbulnya masalah.
Kecenderungan meyakini bahwa mengabaikan itu menguntungkan, bahwa dengan tidak mengetahui akan dapat mencegah timbulnya kanker, adalah keyakinan yang jelas tidak rasional. Penelitian oleh Lerman dan para koleganya (Lerman & Glanz, 1997) menggarisbawahi pentingnya faktor-faktor yang tidak rasional tersebut dalam menentukan apakah orang-orang akan melakukan berbagai praktik yang meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit. Para perempuan yang percaya bahwa mereka berisiko tinggi menderita kanker indung telur—karena terdapat riwayat keluarga mengenai penyakit yang diketahui dapat diturunkan—sering kali memiliki respons yang kontradiktif berupa berkurangnya kesungguhan mereka untuk melakukan berbagai praktik yang meningkatkan kesehatan. Distres yang disebabkan oleh persepsi atas risiko tinggi jelas dapat menghambat coping yang rasional, dan salah satu cara untuk mengurangi distress tersebut tampaknya dengan meminimalkan bahaya yang dirasakan—suatu strategi menipu diri sendiri yang dapat menenangkan saraf untuk sementara waktu, namun mengandung konsekuensi serius dan negatif dalam jangka panjang. Penanganan psikologis dalam bentuk, contohnya, konseling mengenai risiko kanker payudara dapat mengurangi distorsi kognitif tersebut dan meningkatkan perilaku sehat dengan menyarankan, contohnya, bahwa dengan mengetahui adanya anggota keluarga tingkat pertama yang menderita kanker payudara dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk mengambil berbagai langkah untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan bukan dilihat sebagai tanda datangnya bencana dalam waktu dekat yang tidak terhindarkan (Lerman dkk., 1996).
Terakhir, kita lihat hal berikut ini. Suatu gen kerentanan terhadap kanker payudara, BRCA1, belum lama ini telah ditemukan, memungkinkan kaum perempuan mengetahui apakah mereka berisiko tinggi menderita suatu jenis kanker payudara. Meskipun demikian, Lerman dkk. (1997) menemukan bahwa 40 persen peserta studi menolak mengetahui status genetik mereka. Studi berikutnya menemukan tingkat stres yang tinggi di kalangan perempuan berisiko tinggi (mereka yang memiliki anggota keluarga yang telah dinyatakan positif memiliki gen tersebut), menguatkan bahwa uji genetik semacam itu dapat sangat menimbulkan kecemasan (Tercyak dkk., 2001). Seiring semakin banyak hal yang diketahui mengenai kerentanan genetik terhadap penyakit, orang-orang akan menghadapi pilihan yang semakin sulit dalam hal perlu atau tidaknya mendapatkan informasi tersebut. Implikasi etisnya memang sangat besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *