Advertisement

Sebagaimana sudah diuraikan di atas, komunikasi antarpribadi adalah sarana menuju hubungan antarpribadi. Hubungan antarpribadi itu sendiri berjenjang mulai dari kenalan atau teman biasa sampai kepada teman dekat, sahabat, pacar, dan suami atau istri. Yansen dalam contoh di atas, misalnya, membutuhkan teman yang lebih akrab daripada sekadar teman sekamar. Oleh karena itu, ketika Dedet dinilainya kurang cocok untuk dijadikan teman dekat, ia beralih ke Leo dan Burhan dan kawan-kawannya.

Dorongan untuk berteman itu sendiri sebagian disebabkan oleh faktor biologis, yaitu bahwa manusia memang tergolong jenis yang membutuhkan kawan (Wright, 1989) sebagaimana juga halnya dengan jenis hewan primata lainnya seperti simpanse dan kera (De Waal, 1989).

Advertisement

Akan tetapi, berbeda dari hewan primata, dorongan berteman pada manusia disebabkan juga oleh berbagai faktor lain, sehingga terdapat perbedaan antarindividu dalam hal yang satu ini. Lakilaki yang percaya diri, misalnya, terbukti mempunyai dorongan untuk berteman daripada yang kurang percaya diri (Crouse & Mehrabian, 1977). Hal ini ada kaitannya dengan keterampilan sosial (social skill)dalam berteman, karena penelitian lain membuktikan bahwa orang yang mempunyai harga diri tinggi keterampilan sosialnya juga tinggi. Sebaliknya, orang yang mempunyai harga diri rendah, keterampilan sosialnya juga rendah (Reisman, 1984).

Kebiasaan menulis surat juga ada hubungannya dengan kebutuhan berteman (McAdams & Constantian, 1983), sedangkan kebutuhan berteman itu sendiri menurut penelitian da tang dari jenis motivasi tersendiri yang disebut motivasi berkawan (friendship motivation) (McAdams & Losoff, 1984) yang timbulnya disebabkan oleh (1) kebutuhan untuk mengurangi kecemasan atau ketidakpastian, (2) mendapat rangsangan yang positif, (3) mendapat dukungan emosional, dan (4) mendapat perhatian (Hill, 1987).

Selanjutnya, ketertarikan atau ketidaktertarikan kepada orang lain untuk dijadikan teman atau untuk berhubungan lebih akrab, dapat dipengaruhi oleh sifat-sifat yang sebetulnya tidak relevan, misalnya, anak muda dengan sendirinya akan mengabaikan bapak-bapak, atau laki-laki akan mengabaikan perempuan (yang wajahnya tidak menarik), dan sebagainya (Rodin, 1987). Gejala ini dinamakan pengabaian kognitif (cognitive disregard) gunanya adalah untuk mengambil jalan pintas mental (heuristic) demi efisiensi. Akan tetapi, kerugiannya adalah kadang-kadang kita dapat melewatkan seseorang yang sesungguhnya cukup baik untuk diajak berteman.

Si£at-sifat tidak relevan yang dapat menyebabkan pengabaian mental antara lain adalah bentuk tubuh (orang yang terlalu gendut cenderung diabaikan daripada yang bertubuh atletis) (Ryckman, dkk, 1989), cara berjalan (Montepare & Zebrowitz McArthur, 1987), ekspresi emosi (Friedman, Riggio & Cassela, 1988), dan laki-laki yang dominan (Sadalla, Kenrick & Vershure, 1987).

Akan tetapi, di pihak lain, ciri-ciri tubuh atau fisik itu sendiri memang dapat mempengaruhi perilaku sehingga orang tertarik atau tidak tertarik untuk menjadikannya teman. Miller, Turnbull & McFarland (1990) melakukan eksperimen dengan menyuruh sejumlah wanita yang gendut dan langsing untuk menelepon ke beberapa mahasiswa. Kemudian, atas dasar percakapan telepon itu saja (tanpa bertatap muka secara langsung), para mahasiswa itu diminta menilai wanita-wanita yang tadi bicara di telepon. Ternyata wanita-wanita yang gendut mendapat penilaian lebih negatif (tidak disukai, kurang mempunyai keterampilan sosial, secara fisik tidak menarik) daripada wanita-wanita yang langsing. Eksperimen lain dilakukan oleh Frank & Gilovich (1988) dengan meminta satu tim profesional football dan hockeymcngenakan seragam hitam, sedangkan lawan main mereka diminta mengenakan seragam putih. Ternyata, yang berseragam hitam lebih agresif (lebih banyak pelanggaran) daripada yang putih. Hal ini mungkin disebabkan warna hitam lebih diasosiasikan pada kekerasan, keberanian dan sebagainya dari pada warna putih yang dianggap lebih lembut, lebih ramah, dan sebagainya.

Asosiasi antara tampilan fisik dan sifat memang sudah menjadi kecenderungan atau kebiasaan manusia. Kedua jenis kelamin lebih tertarik kepada lawan jenis yang cantik atau tampan daripada yang kurang cantik atau tampan (Cash & Killculen, 1985; Hatfield & Sprecher, 1986), karena kecantikan dan ketampanan diasosiasikan dengan sifat-sifat baik hati, cerdas, pandai bergaul, sukses, mandiri, dapat menyesuaikan diri dan sebagainya, sementara yang jelek diasosiasikan dengan sifat-sifat yang sebaliknya (Dion & Dion, 1987; Moore, Graziano & Miller, 1987) seperti yang biasa kita dengar dalam dongeng-dongeng Putri Salju dan Cinderella atau Bawang Merah dan Bawang Putih: putri cantik yang baik hati dan nenek sihir jelek yang jahat. Hal ini juga berlaku terhadap bayi-bayi. Qrang dewasa lebih tertarik pada bayi-bayi yang montok (dianggap lucu, pintar, ramah dan sebagainya) dari pada bayi kurus yang jelek (Karraker, Vogel & Evans, 1987). Bahkan, bayi-bayi itu sendiri pun lebih suka kepada orang dewasa yang menarik daripada yang jelek (Langlois, Roggman & Rieser-Danner, 1990).

Pada wanita kecantikan lebih besar pengaruhnya terhadap kemenarikan dirinya ketimbang ketampanan pada pria. Pada wanita kecantikan berkorelasi dengan banyaknya kencan, sedangkan pada pria ketampanan kurang dapat dijadikan faktor untuk memperkirakan banyaknya kencan yang.dibuat (Berscheid dkk., 1971). Penyebabnya adalah bahwa wanita cenderung menyukai laki-laki karena sifatnya, sedangkan lakilaki cenderung menyukai wanita karena penampilannya (Russel, 1930). Karena itulah selalu wanita lebih repot dengan penampilannya dan 90% pasien bedah plastik adalah wanita (Dion, Pak & Dion, 1990). Dalam sebuah eksperimen di Universitas Harvard, sejumlah mahasiswa diminta menilai foto-foto wanita sebelum dan sesudah operasi plastik. Ternyata sesudah operasi plastik bukan hanya dinilai lebih cantik, melainkan juga lebih ramah, lebih baik hati, dan sebagainya (Kalick, 1977).

Dalam hubungan dengan kecantikan dan ketampanan, Hatfield dkk. (dalam Myers, 1966) melakukan eksperimen dengan 752 mahasiswa tingkat I di Universitas Minnesota. Untuk keperluan penelitian ini diadakan pesta dansa. Di dalam pesta itu masingmasing mahasiswa akan dicarikan pasangan berdasarkan hasil tes kepribadian dan tes kemampuan yang dilaksanakan sebelum pesta tersebut. Akan tetapi, yang sesungguhnya terjadi adalah penetapan pasangan itu dipilih secara acak saja, walaupun tes kepribadian dan kemampuan itu sungguh-sungguh dilaksanakan. Di dalam pesta pasangan-pasangan itu berdansa dan mengobrol selama 2,5 jam. Setelah itu, setiap mahasiswa diminta mengisi formulir penilaian untuk menilai pasangannya. Hasilnya adalah bahwa dari berbagai faktor yang ditanyakan (kepercayaan diri, harga diri, kecemasan, dan sebagainya) tidak ada yang penting untuk dijadikan alasan untuk berkencan lagi, kecuali kecantikan dan ketampanan.

Temuan Hatfield tidak membedakan pengaruh kecantikan dan ketampanan pada wanita dan pria sebagaimana yang dikemukakan oleh Berseheid. Walaupun demikian, kenyataan memang membuktikan bahwa penampilan fisik sampai batas tertentu juga dianggap penting bagi pria. Suku-suku di Irian Jaya atau Indian, misalnya, kaum pria menghiasi dirinya dengan berbagai cat atau bulu binatang, sementara wanita hampir tanpa hiasan sama sekali (walaupun dalam hal ini hiasan pada pria lebih ditujukan untuk penampilan diri sebagai perajurit perang). Akhir-akhir ini, masyarakat lapisan atas dan di kota-kota besar cukup banyak kita lihat pria yang berdandan atau pergi ke salon. Bahkan, sekarang peragaan busana untuk pria pun bukan barang yang aneh lagi.

Karena adanya kecenderungan untuk mendekati yang cantik atau tampan dan menjauhi yang kurang cantik atau kurang tampan ini (Bernstein dkk, 1983), ada kecenderungan bahwa orang akan memilih teman dekat yang kecantikan atau ketampanannya lebih kurang sama. Kecenderungan ini dinamakan hipotesis kesepadanan (matching hypothesis) (Berseheid, dkk., 1971; Kallick & Hamilton, 1986). Kecenderungan ini bukan hanya di antara teman dan pacar, melainkan juga antara mereka yang menikah (Price & Vandenburg, 1979; Zajonc, dkk., 1987).

Pertanyaan yang timbul adalah “apakah kriteria kecantikan atau ketampanan itu?” Orang bisa sepakat bahwa manusia saling tertarik karena kecantikan atau ketampanan, tetapi untuk merumuskan kecantikan dan ketampanan itu sendiri tidak mudah (Banner, 1983).

Ilustrasi tentang wanita Hawaii zaman dahulu (Mrantz, 1997) membuktikan bahwa ukuran kecantikan dapat sangat berbeda dari masa ke masa dan dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain (lihat halaman 136). Contoh lain yang dapat diberikan adalah wanita Cina zaman dahulu yang kakinya diikat sejakbayi sehingga ketika dewasa telapak kakinya hanya sebesar kepalan tangan dan membuatnya berjalan tertatih-tatih, itulah ukuran kecantikan waktu itu. Di zaman sekarang artis kondang Demi Moore menggunduli rambutnya dan tetap saja orang kagum pada kecantikannya. Di zaman batu, laki-laki lebih tertarik kepada wanita yang ukuran pinggangnya sepertiga dari ukuran panggulnya, suatu simbol kesuburan (Singh, 1993). Sebaliknya, di masa kini laki-laki tertarik pada wanita yang berwajah mirip anak kecil (baby face) (Cunningham, 1981; Keating, 1985), sedangkan wanita lebih tertarik kepada pria yang lebih matang (Sadalla, Kenrick & Vershure, 1987). Singkatnya, ukuran kontes ratu kecantikan sedunia (Miss Universe) tidak selalu berlaku untuk semua tempat di dunia (Morse & Gruzen, 1976).

 

 

SEMAKIN KARIB

Hubungan antarteman yang berlanjut akan meningkat ke tingkat yang makin dekat, makin akrab, dan makin karib. Dalam hubungan ini ada dua hal yang berpengaruh, yaitu kemiripan satu sama lain dan saling memberi penilaian yang positif.

Incoming search terms:

  • apa itu hubungan akrab
  • akrab adalah
  • pengertian akrab
  • bagaimana menjalin hubungan yang akrab
  • hubungan dekat sekali
  • definisi tentang hubungan dekat
  • ciri ciri orang yang membina hubungan akrab
  • arti hubungan dekat sekali
  • arti akrab secara pengertian
  • yang dimaksud akrab

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • apa itu hubungan akrab
  • akrab adalah
  • pengertian akrab
  • bagaimana menjalin hubungan yang akrab
  • hubungan dekat sekali
  • definisi tentang hubungan dekat
  • ciri ciri orang yang membina hubungan akrab
  • arti hubungan dekat sekali
  • arti akrab secara pengertian
  • yang dimaksud akrab