Advertisement

Mengingat hal tersebut di atas, mudah dipahami bahwa ada berbagai cara menjatuhkan keputusan. Di dalam mo-narki para hakim memilih cara arbitrasi; mereka bermusyawarah bersama, mereka bertukar pikiran demi mencapai suara bulat; mereka membuat pendapat mereka tidak terlalu keras juga tidak terlalu lunak supaya dapat disesuaikan dengan pendapat orang lain; dan jumlah yang lebih kecil diharuskan mengalah pada mayoritas. Tetapi ini tidak sesuai dengan hakikat suatu republik. Di Roma dan kota-kota Yunani, para hakim tidak pernah berkonsultasi, tiap orang memberikan pendapat dengan salah satu cara ini: saya membebaskan, saya menyatakan bersalah, atau hal ini belum jelas bagi saya; ini karena rakyat mengadili, atau diandaikan untuk mengadili. Tetapi rakyat bukanlah orangorang sipil; semua pembatasan dan cara arbitrasi ini di luar jangkauan mereka; mereka hanya harus punya satu obyek dan satu kenyataan tunggal saja di hadapan mereka; dan kemudian mereka hanya harus melihat apakah mereka ha-rus menyatakan bersalah, memutuskan bahwa seseorang tidak bersalah, atau menangguhkan keputusan.
Bangsa Romawi memperkenalkan seperangkat bentuk tindakan dengan meniru bangsa Yunani, dan menetapkan aturan bahwa tiap perkara harus ditangani dengan tin-dakan yang tepat. Hal ini perlu dalam cara mereka memutuskan perkara; adalah perlu untuk menetapkan persoalannya, sehingga rakyat dapat selalu melihatnya. Jika tidak demikian, dalam proses yang lama, persoalannya dapat berubah, dan tidak lagi dapat dibedakan.
Sejak waktu itu para hakim Romawi hanya mengabulkan tuntutan yang sederhana, tanpa membuat tambahan, kesimpulan atau pun pembatasan. Tetapi para Praetor, yaitu petugas yang terpilih setahun sekali untuk bertindak sebagai hakim, merancang bentuk-bentuk tindakan lainnya yang dinamakan ex bona fide yang menetapkan bahwa cara penjatuhan keputusan diserahkan sepenuhnya pada pertimbangan hakim. Ini lebih cocok dengan jiwa monarki. Sejak itu ada pepatah di kalangan pengacara Perancis, bunyinya “di Perancis semua tindakan adalah ex bona fide.”

Advertisement
Advertisement