problem solving (pemecahan masalah)

Pemecahan masalah adalah fungsi utama dari pikiran dan telah lama diteliti dalam psikologi kognitif. Sejak pendekatan pengolahan-informasi untuk psikologi kognitif menjadi dominan secara teoretis di awal 1960-an, secara umum pikiran kemudian dianggap sebagai rangkaian proses manipulasi simbol yang menggunakan ingatan yang bekerja sangat terbatas, dan didukung oleh ingatan jangka panjang yang ekstensif. Pendekatan ini membuahkan hasil dan, dengan menekankan pada analisis dan organisasi, terhindar dari bahaya elementarisme dan ketidak-jelasan yang telah menyelimuti pendekatan peri-laku dan pendekatan dari Gestalt. Meskipun pendekatan ” conectionist,” yang menyatakan bahwa pengolahan di antara sejumlah besar elemen dasar adalah sejajar, telah ditempatkan sebagai versi generasi baru dari teori Gestalt, yang mungkin dapat menjelaskan masalah strukturisai dan restrukturisasi (Holyoak dan Spellman, 1993), tetapi penelitian yang seksama terhadap proyek ini belum banyak dilakukan. Sebagian besar penelitian tentang pemecahan masalah masih dalam tradisi klasik pengolahan simbol. Banyak dari penelitian tentang pemecahan masalah difokuskan pada mofe problems.

Masalah-masalah langkah

Dalam kelompok tugas yang sudah dirumuskan dengan baik ini, obyek atau kuantitas harus dimanipulasi (dalam realitas atau secara simbolis) untuk mengubah konfigurasi awal tertentu menjadi konfigurasi akhir. Secara normal, gerakan atau tindakan yang tersedia dispesifikasikan untuk calon pemecah masalah di titik awal. Move problems mungkin melibatkan lawan atau mungkin juga tidak. Gerakan yang tidak melibatkan lawan telah diteliti secara luas. Segi penting dari pengalaman sebelumnya dengan daerah permasalahan muncul dengan jelas di dalam studi dari de Groot (1965) yang menemukan bahwa baik itu para pecatur amatir maupun grandmaster ketika diminta untuk memilih langkah terbaik selanjutnya dalam posisi tertentu di atas papan catur, secara mental mereka mencari langkah yang mirip tetapi pemain grandmaster selalu menang dengan langkah yang lebih baik. Serangkaian studi keterlibatan ingatan dengan papan catur yang diatur secara acak dan realistis menunjukkan bahwa grandmaster telah mengembangkan suatu jaringan kerja yang ekstensif dari pola-pola yang familiar sehingga mereka dapat secara efisien melangkah pada posisi baru (Chase and Simon 1973; de Groot 1965). Penelitian terbaru, yang menggunakan jumlah subyek yang lebih besar dan jumlah keahlian yang banyak, juga menunjukkan bahwa ternyata pemain yang lebih ahli akan meneliti lebih dalam ketimbang pemain yang kurang ahli dan lebih baik dalam mengevaluasi potensi posisi lanjutan (intermediate) (Charness 1991; Holding 1985).

Masalah-masalah penalaran

Penalaran masalah secara deduktif dan induktif telah lama menjadi fokus perhatian utama. Pada bidang deduktif, silogisme adalah tugas eksperimental favorit. “Atmosfir” hipotesa yang agak terhormat, yang menurut hipotesa itu adanya kekhususan atau negatif dalam premis akan mewarnai kesimpulan yang diperoleh (Wooworth and Selis 1935), masih berguna untuk mengetahui pola-pola kesalahan secara deskriptif (Begg and Denny 1969), meskipun penjelasan dari pola-pola ini tetap kontroversial, karena alasan-alasan di bawah ini.

Argumen Henle (1962) mengenai rasionalitas menusia, yang menekankan ketidakcocokan antara “yang mengalami dengan “subyek interpretasi dari tugas silogistik, telah sangat berpengaruh. Fenomena yang tak terjangkau oleh hipotesa kini telah tercakup, misalnya, penemuan Jonhson-Laird bahwa gambaran premis berakibat pada sifat dari kesimpulan yang ditarik. Jonhson dan Laird (1983) telah dapat menjelaskan efek “figural bias” dan menjelaskan hasil-hasil lainnya dengan suatu simulasi komputer yang memperkuat teori penalarannya yang sangat berpengaruh sebagai suatu proses kerja dengan model mental dari situasi yang digambarkan oleh premis-premis. Kinerja yang buruk dijelaskan dengan kegagalan subyek dalam mempertimbangkan seluruh model mental yang mungkin ada, yang konsisten dengan premis. Semakin sulit permasalahan cenderung mempunyai lebih banyak model alternatif yang mesti dipertimbangkan. Wetherik (1989) mengusulkan penjelasan yang lebih sederhana yang berkenaan dengan penyesuaian bias di mana subyek mempertemukan kesimpulannya dengan bentuk logis dari premis terakhir yang mungkin ada dalam argumen.

Penalaran induktif telah dipelajari secara intensif terutama dalam konteks konsep pembelajaran dan tugas “empat kartu” dari Wason. Dalam konsep pembelajaran, Brunner (1956) mencatat keengganan subyek untuk mengusahakan falsifikasi dari hipotesa terbaru, dan “perangkat” verifikasi ini adalah titik awal bagi penelitian panjang yang dilakukan oleh Wason dan yang lainnya dengan menggunakan ‘tugas empat kartu.’ Dalam tugas ini, subyek harus mengatakan kartu mana yang perlu dibalik untuk menguji aturan kondisional yang berhubungan terbuka dan tertutupnya wajah dari kartu. Contoh aturan, “jika ada ‘A’ di satu sisi ada ‘4’ di sisi yang lain.” Kartu yang diberikan menunjukkan A, B, 4,7, lalu mana yang dibalik. (Jawab A dan 7). Kebanyakan subyek tidak memilih kartu 7 yang berpotensi menyesatkan. Jonhson Laird dan Watson (1970) mengartikan bahwa hasil ini menunjukkan adanya “bias verifikasi”. Sejumlah penelitian yang sama menemukan peningkatan kinerja jika materinya lebih tematik ketimbang abstrak (Watson dan Saviro 1971; lihat Man dan Evans 1979 untuk catatan penting). Kemudahan juga ditemukan jika aturannya adalah nilai-kebenaran yang meragukan (Polar dan Evans 1981) atau jika ambiguitas dalam tugas standar diklarifikasi (Smolley 1974). Sementara banyak orang yang mengartikan pola-pola hasil di atas sama dengan analisa dari Henley tentang faktor interprestasi penalaran silogis, Evans (1980) mengatakan bahwa sebagian besar respon terhadap bentuk abstrak standar dari tugas muncul dari suatu ketidaksadaran, tidak rasional dan matching bias. Bukti yang mendukung berasal dari rata-rata keberhasilan yang tinggi yang dijumpai dalam aturan negatif “jika, maka”, dirangkai dengan transfer zero kepada aturan positif. Dalam kasus versi tematik dari aturan, kinerja yang lebih baik tampaknya berkat pendapatan dari suatu “skema penalaran familiar” untuk “izin,” yang berkaitan dengan aturan kondisional.

 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, hasil penelitian pemecahan masalah adalah konsisten dengan asumsi proses informasi standar dari serangkaian proses memori kerja yang terbatas dan memori jangka panjang. Mungkin tidak mengejutkan, data dari penelitian pikiran semu dan kreatif mengatakan bahwa, bagaimanapun juga, model yang lebih kompleks akan dibutuhkan untuk menjelaskan pikiran secara umum (Gilhooly) ketimbang untuk kasus khusus dari pemecahan masalah.