PENANGANAN DEPRESI MASA KANAK-KANAK DAN REMAJA – Terapi bagi anak-anak dan remaja yang mengalami depresi sangat sedikit diteliti dibanding terapi bagi orang dewasa. Salah satu kemungkinan penyebab pengabaian relatif tersebut adalah anak-anak yang mengalami depresi kurang menarik perhatian orang dewasa dibanding mereka bertindak berlebihan, misalnya anak-anak yang mengalami gangguan tingkah laku. Penelitian mengenai keamanan dan efektivitas farmakoterapi untuk depresi pada masa kanak-kanak dan remaja jauh tertinggal dibanding penelitian untuk orang dewasa. Suatu studi double-blind baru-baru ini menemukan bahwa fluoksetin mengurangi simtom-simtom lebih besar dibanding suatu plasebo, namun hilangnya simtom-simtom secara penuh merupakan hal yang jarang terjadi. Secara umum, bukti menunjukkan bahwa penghambat pengembalian serotonin selektif lebih baik dibanding antidepresan trisiklik. Meskipun demikian, berbagai studi lain menunjukkan bahwa obat-obat antidepresan tidak lebih baik daripada plasebo pada anak-anak dan remaja.

Sebagian besar intervensi psikososial didasari penelitian klinis terhadap orang dewasa. Contohnya, terapi interpersonal telah dimodifikasi untuk digunakan bag) para remaja yang mengalami depresi, dengan memfokuskan pada berbagai isu-yang penting bagi remaja, seperti tekanan dari teman-teman sebaya, stres yang menyertal transisi dari masa kanak-kanak ke remaja, dan konflik antara ketergantungan pada orang tua (dan figur orang tua, misalnya guru) dan keinginan untuk mandiri. Berbagai intervensi kognitif-behavioral yang diberikan di sekolah ternyata efektif dan dikaitkan dengan berkurangnya simtomsimtom secara lebih cepat dibanding terapi keluarga atau suportif.  Sekitar 63 persen remaja yang mengalami depresi yang ditangani dengan CBT menunjukkan perbaikan signifikan di akhir terapi. Meskipun demikian, suatu studi baru-baru ini mengindikasikan bahwa hasil positlf tersebut tidak bertahan selama pemantauan pascapenanganan.

Suatu intervensi kelompok kognitif-behavioral yang mencakup instruksi daLiaa melakukan coping terhadap depresi diketahui efektif bagi para remaja yang mengalami depresi, terutama bila orang tua terlibat dalam penanganan. Anak-anak usia sekolah kelas lima dan enam menunjukka perbaikan kondisi depresi setelah menjalani intervensi permainan peran dalam kelompok kecil yang berkonsentrasi pada instruksi dalam keterampilan sosial dan penyelesaian masalah sosial dalam berbagai situasi penuh stres. Pelatihan keterampilan sosial dapat diharapkan untuk rnembantu anak-anak dan remaja yang mengalami depresi dengan mengajarkan kepada mereka berbase cara behavioral dan verbal agar dapat terlibat dalam lingkungan yang menyenangkan dan menguatkan, seperti menambah teman dan bergaul bersama teman-teman sebaya. Berbagai temuan Stark dkk. (1996) mengindikasikan bahwa beberapa anak yang mengalami depresi mengetahui bagaimana berhubungan dengan orang lain secara pantas namun tampaknya tidak dapat mempraktikkannya karena adanya berbagai pikiran negatif dan ketegangan fisiologis. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai intervensi kognitif dan, bagi beberapa anak, prosedur seperti pelatihan relaksasi juga dapat bermanfaat. Secara keseluruhan, berbagai penanganan yang mencakup pelatihan keterampilan sosial, penyelesaian masalah, dan teknik-teknik kognitif seperti yang digunakan secara berhasil pada orang dewasa terbukti efektif.

Penanganan bagi anak-anak dan remaja yang mengalami depresi dapat memberikan hasil terbaik dengan menggunakan suatu pendekatan berspektrum luas yang tidak hanya melibatkan si anak atau remaja terkait, namun juga keluarga dan sekolah. Terapi juga harus memfokuskan pada orang tua yang mengalami depresi selain si anak itu sendiri. Orang tua yang mengalami depresi kemungkinan mengomunikasikan kepada anak-anak mereka pandangan mereka yang pesimistis terhadap diri sendiri dan dunia, dan anak-anak sangat dipertgaruhi oleh pemikiran orang tuanya.

Saran untuk melibatkan keluarga dan lingkungan sekolah didasari hipotesis bahwa bagi anak-anak dan remaja, stresor lingkungan dapat lebih penting dibanding berbagai penyimpangan kognitif, ekspektasi, dan atribusi. Pendekatan ini juga menunjukkan pentingnya mengajarkan kepada anak-anak dan remaja berbagai cara untuk menghadapi stres interpersonal dengan perilaku terbuka yang lebih efektif—contohnya, berinteraksi secara lebih efektif dengan orang lain dan menghadapi teman-teman sebaya yang dominan dengan tindakan asertif yang tepat—sehingga anak atau remaja yang bersangkutan memiliki berbagai alternatif selain melakukan tindakan ekstrem antara dua kutub berupa kemarahan atau penarikan diri. Keterlibatan keluarga hanya belum lama berselang diakui sebagai hal penting dalam penanganan anak-anak dan remaja yang mengalami depresi.

Filed under : Bikers Pintar,