Advertisement

CIRI-CIRI AKAR MONOKOTIL, Susunan dasar jaringan-jaringan dalam akar primer (yaitu silinder pembuluh pusat, xilem, dan floem yang berselang-seling pada bidang radial, protoxilem yang eksark, endodermis dengan pita Caspary-nya, dan sebagainya) pada dasarnya sama bagi semua angiosperma. Tetapi akar monokotil dapat dibedakan dari akar dikotil sebagai berikut ( 4.8):
1. Akar dikotil umumnya mempunyai dua sampai lima kelompok protoxilem (yaitu diark sampai pentark), sedangkan akar monokotil umumnya mempunyai sekitar sepuluh atau lebih kelompok protoxilem (poliark) Akar dengan lima sampai sepuluh kelompok protoxilem sangat jarang dijumpai.
2. Dalam akar dikotil, baji-baji xilem primer bertemu di tengah silinder pembuluh dan membentuk tiang-tiang bergalur xilem dewasa, sedangkan dalam akar monokotil, diferensiasi xilem primer berhenti sebelum bagian tengah yang padat terbentuk. Oleh karena itu, xilem primer dewasa pada monokotil terdiri atas jalur-jalur yang terpisah dan di tengah silinder pembuluh terdapat empulur yang bersel parenkima.
3. Dalam akar monokotil, endodermis sering membentuk dinding sekunder tebal ( 4.8b). Dalam irisan melintang yang diwarnai dengan baik, endodermis mudah dilihat sebagai lapisan batas yang jelas, sedangkan dalam akar dikotil mungkin sukar dikenal. Dalam endodermis akar dikotil, suberin terdapat pada dinding radial dan dinding melintang dalam bentuk pita Caspary, sementara daya hidup sel-sel tersebut tidak terganggu. Tetapi dalam endodermis akar monokotil, lapisan suberin yang menerus terdapat di sebelah dalam seluruh dinding primer, termasuk pita Caspary. Lapisan suberin ini kemudian tertutup beberapa lapis selulosa berkayu yang dapat menjadi tebal sekali. Penebalan ini dapat rata atau tidak, sehingga mengakibatkan terbentuknya endodermis tipe “U” dan tipe “0”. Pada tipe “U” (yang lebih sering terdapat), dinding sekunder yang berkayu itu tipis pada sisi luar dekat lingkaran tepi, tetapi tebal pada sisi-sisi lainnya, sehingga dalam irisan melintang terlihat bentuk “U” yang khas ( 4.8c). Pada tipe “0”, penebalan dinding merata pada semua sisi sehingga dalam irisan melintang akan tampak bentuk “0” ( 4.8d). Tidak seperti endodermis akar dikotil yang berdinding tipis, endodermis berbentuk “U” dan “0” akan mati karena dindingdinding sel sama sekali tidak dapat ditembus. Terjepit di antara sel-sel endodermis yang menebal ini terdapat beberapa sel yang dindingnya tetap tipis dan protoplasnya hidup. Sel-sel tersebut terletak berhadapan dengan jaringan xilem dan dinamakan sel pelalu. Melalui sel-sel inilah air dan zat-zat terlarut dialirkan antara korteks dan silinder pembuluh.

Beberapa monokotil, terutama anggrek dan talas-talasan yang hidup sebagai epifit pada cabang-cabang pohon, mempunyai akar gantung yang tumbuh di udara. Akar seperti itu, selain mempunyai ciri-ciri anatomi khas monokotil, juga mempunyai modifikasi struktur yang sejalan dengan fungsinya untuk menyerap air dari udara, bukan dari tanah. Dalam akar gantung ini, protodermis membelah sepanjang lingkaran tepi dan membentuk epidermis yang terdiri atas beberapa sel; iaringan ini disebut velamen ( 4.8c). Sel-sel velamen yang secara fungsional mati bila sudah dewasa, mempunyai dinding berlubang-lubang dan dengan gerakan kapiler menyerap air yang jatuh atau mengembun pada permukaan akar. Eksodermis yang menebal, yang sepintas menyerupai endodermis tipe “0”, memisahkan velamen dari lkorteks. Bila udara kering, sel-sel velamen diisi udara, tetapi bila akar gantung dibasahi, air segera diserap ke dalam velamen dan secara berangsur-angsur mengalir ke dalam korteks melalui sel pelalu dalam eksodermis. Dari sini kemudian air mengalir ke silinder pembuluh melalui sel pelalu dalam endodermis. Meskipun velamen ini biasanya dianggap sebagai suatu organ adaptasi tumbuhan epifit, velamen terdapat pula pada anggrek darat, misalnya Eulophia.

Advertisement

Advertisement