Advertisement

1. Dasein (eksistensi) merupakan prinsip pokok. Bersama dengan esensi, Dasein menentukan dan karenanya mencirikan setiap realitas yang terbatas. Esensi mengatakan “keapaan” sesuatu, sementara eksistensi mengakui bahwa sesuatu ada. Kalau sesuatu ada, sesuatu itu bukan hanya pikiran atau produk imajinasi, melainkan tidak tergantung pada pikiran; sesuatu itu ada begitu saja dan hadir (vorhanden). Karena itu, kita menemukan sesuatu itu di hadapan kita.

2. Sekalipun kesadaran kita selalu tergoda untuk berpikir bahwa hanya hal-hal yang kelihatan dan dapat diraba yang real, ciri ini bukan esensi eksistensi. Kita mengalami di dalam kegiatan dan ego kita sendiri eksisten yang bukan sarna sekali sesuatu yang dapat dilihat dan dapat diraba, namun merupakan suatu realitas, realitas rohani. Kehidupan batin kita menyatakan dirinya sendiri sebagai eksisten yang bertempat dalam waktu dan karenanya dapat dialami. Namun, yang ada spasio-temporal yang dapat dialami juga bukan esensi eksistensi. Karena Allah yang secara mutlak mengatasi ruang dan waktu berada secara lebih intensif daripada eksisten terbatas mana pun.

Advertisement

3. Dari segi pandangan metafisis, terdapat dua macam eksistensi yang berbeda secara asasi. Eksistensi kita dan eksistensi semua hal duniawi terbatas. Pada kenyataannya eksistensi hanyalah ada di sana” (being there). Dengan kata lain, eksistensi ini adalah eksistensi yang terbatas pada “di sana” tertentu yang bersifat spasio-temporal. Pembatasan itu langsung timbul dari esensi kita yang terbatas. Karena kita dapat menangkap eksistensi atau mengambil bagian dalam eksistensi hanya sesuai dengan kekuatan inteiek kita. Karena itu esensi terbatas tidak mencapai kepenuhan eksistensi dan karenanya tidak sama dengan eksistensi. Oleh karena itu, terdapat pembedaan antara esensi dan eksistensi dalam yang-ada yang terbatas. Maka hal yang terbatas adalah yang-ada yang tidak-mutlak (kontmgen).

Karena esensi hal terbatas dari dirinya sendiri tidak secara nis- caya merangkumi eksistensi. Hal yang terbatas bisa ada, bisa tidak ada. Hai terbatas bisa sungguh-sungguh hadir, bisa ha- nya mungkin hadir. Yang melebihi eksisten terbatas adalah ek¬sistensi yang tidak terbatas, yang menimba secara keseluruhan kepenuhan mutlak eksistensi, yang esensinya sama dengan ek- sistensinya. Inilah eksistensi yang secara mutlak berada di da- larn dan dari dirinya sendiri dan karenanya niscaya.

4. Di dalam batas eksisten-eksisten terbatas, filsafat eksistensial juga menyatakan bahwa ada dua jenis eksistensi yang berbeda secara asasi. Segala sesuatu yang sub-insani adalah yang semata- mata data. Tanpa pengetahuan mengenai yang-ada sejauh yang-ada, data ini mencapai realisasi penuh dengan “berada di sana” dan dengan bekerja sesuai dengan hukum-hukum alam yang tidak kelihatan. Manusia, di lain pihak, “memahami” eksistensi dan karenanya mempunyai posisi untuk menentukan eksistensi. Dan manusia baru mencapai realitasnya yang penuh — yang pasti gagal dia peroleh — dengan menerima secara bebas dan memenuhi eksistensi. Karena itu manusia adalah eksisten yang juga “ada di sana” (Dasein) atau berada untuk memiliki pengalamannya sendiri. Oleh karena itu, filsafat eksistensial memberikan manusia sendiri istilah “eksistensi” (Dasein). Karena itu, Martin Heidegger menyebut manusia Dasein sejauh manusia adalah eksisten di dalam dunia, di dalam dia, seorang diri “ada di sana”. Itu berarti eksistensi terjadi. Menurut Heidegger, Dasein merupakan unsur konstitutif dalam manusia. Karena sejauh manusia ada di sana, ia berhubungan dengan yang lain. Karena itu, Heidegger menyatakan bahwa esensi dari Dasein terdapat dalam eksistensinya.

Incoming search terms:

  • arti kata spasiotemporal
  • istilah Esensi dan realitas
  • pengertian spasio-temporal
  • PENGERTIAN SPASIOTEMPORAL

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti kata spasiotemporal
  • istilah Esensi dan realitas
  • pengertian spasio-temporal
  • PENGERTIAN SPASIOTEMPORAL