Advertisement

Kodrat ilmu sendiri merupakan problem dalam filsafat, dan ada banyak pandangan yang mesti dikaji. Dulu ilmu dipandang sebagai bagian dari filsafat; pada masa lain terpisah dari filsafat. Ilmu dulu dipandang sebagai disiplin tunggal, dan sekarang sebagai seperangkat jamak disiplin-disiplin. Istilah ini mengandung arti kuat dan lemah, tergantung apakah kita mengaitkan disiplin ini lebih erat dengan kebenaran yang tak berubah, ataukah dengan opini (keyakinan) yang berubah-ubah. Dulu ilmu dipandang berurusan dengan kenyataan; sekarang dianggap bergumul dengan fenomen-fenomen atau penampakan-penampakan hal-hal. Ilmu- ilmu adakalanya dibagi ke dalam tipe-tipe deduktif dan induktif, atau ilmu-ilmu tentang akal budi dan ilmu-ilmu tentang fakta. Butir-butir ini dapat dilihat dalam uraian selanjutnya di bawah ini.

1. Tujuan filsafat periode awal ialah mencari unsur-unsur dasariah alam semesta, suatu usaha yang sekarang disebut ilmiah. Pada periode ini tidak dibuat pembedaan antara ilmu dan filsafat. Kemudian ilmu dianggap sebagai bagian dari filsafat dan pada akhirnya sebagai seperangkat disiplin yang bersama- sama terlepas dari filsafat.

Advertisement

2. Plato membedakan antara pengetahuan (episteme) dan opini (doxa). Yang terdahulu dianggap sebagai materi pokok ilmu dalam arti yang sebenarnya. Tetapi terdapat studi-studi sebelum episteme. Studi-studi ini kadangkala disebut mathtma (pela- jaran, jamak: mathematika) dan kadang dinamakan dianoia (pemikiran atau pengertian). Karena studi-studi ini bersifat plural, lebih hipotetis, dan kurang pasti dibandingkan episteme, pembedaan itu memberikan dua macam pandangan tentang ilmu: ilmu-ilmu episteme yang terpadu dan ilmu-ilmu dianoia yang terpecah-pecah.

3. Aristoteles memandang ilmu sebagai pengetahuan demonstratif tentang sebab-sebab hal. Ilmu harus dibedakan dari dialektika (premis-premisnya tidak pasti) dan dari eristika (tujuannya ialah mengungguli penonton). Ilmu-ilmu ada yang teoritis, praktis dan produktif. Ilmu teoritis lebih tinggi dibandingkan kedua yang lain. Tetapi ilmu-ilmu tak dapat tidak bersifat plural. Masing-masing harus dimengerti dalam kerangkanya sendiri.

4. Selama Abad Pertengahan scientia biasanya ditafsir dalam arti kuat ilmu yang dikaitkan dengan episteme. Dan konon inilah jenis pengetahuan yang dipunyai Allah tentang dunia. Triviuf (Gramatika, Retorika, dan Dialektika) dan Quadnvium (Arit metika, Geometri, Astronomi, dan Musik), di pihak lain, me muat sejumlah studi yang dianggap sebagai ilmu-ilmu dalaii arti yang kurang ketat.

5. Averroes, yang menganggap being (yang-ada) sebagai istilal univok, rnemandang ilmu sebagai kekal, yang berurusan df ngan keapaan semua hal.

6. Robert Kilwardby membedakan antara ilmu-ilmu yang mengu pas hal ihwal ilahi dan yang mengupas hal-ihwal manusiawi Namun demikian, ia memasukkan ilmu-ilmu natural, metafisik dan matematis ke dalam kategori yang pertama.

7. Roger Bacon menyatakan bahwa ilmu eksperimental, yang melibatkan observasi maupun metematika, lebih tinggi dan pada ilmu spekulatif. Tetapi teologi, dengan bertolak da; pengalaman batin, lebih unggul daripada keduanya.

8. William Ockham membedakan antara saentia rationalis (ilmu rasional) dan scientia realts (ilmu mengenai hal ihwal real).

9. Francis Bacon menandaskan peranan induksi dalam ilmv Metode induktif merupakan jalan menuju kebenaran, yang sisi lainnya adalah kegunaan. Ilmu-ilmu tidak mungkin tidak plural, mencerminkan fakultas-fakultas manusiawi. Misalny; ilmu alam berawal dari akal, dan sejarah dari ingatan.

10. Hobbes membagi ilmu-ilmu ke dalam dua tipe: ilmu yani berasal dari fakta dan yang berasal dari akal.

11. Galileo menjalankan sepenuhnya metode yang digariskan ole Roger Bacon, dengan saling mengaitkan pertimbangan err piris dan formal, begitu rupa sehingga teon-teori dapat dikor firmasikan (diperkokoh) atau didiskonfirmasikan (dirubuhkan).

12. Bagi Descartes, ilmu tidak punya basis lain kecuali aki budi. Metode akal budi dapat diterapkan pada problem aji saja. Ilmu dikaitkannya dengan kepastian dan sungguh-sun£ guh disejajarkan dengan diktum Abad Pertengahan, bahw ilmu yang sesungguhnya identik dengan pengetahuan Allah

13. Newton condong kepada pandangan positivistik mengenal ilmu. Dinyatakannya, hypotheses non fingo (saya tidak menemukan hipotesis-hipotesis). Tekanannya jatuh pada pencarian pola data matematis.

14. Kant mengaitkan pengetahuan ilmiah dengan keputusan apriort sintetik, berdasarkan prinsip-prinsip yang melekat pada kodrat manusia. Keputusan-keputusan demikian berhubungan hanya dengan dunia fenomenal.

15. Comte menganggap ilmu-ilmu menggambarkan spektrum keabstrakan yang kian berkembang, dari matematika ke sosiologi, sesuai dengan urutan pemunculannya ke dunia. Positivismenya terletak dalam pernyataan bahwa eksplanasi atau penjelasan ilmiah menjadi dominan dalam setiap bidang pengalaman manusia.

16. J.S. Mill menandaskan bahwa semua ilmu bahkan matematika, bersifat induktif dan karenanya probabilistis.

17. Spencer rnemandang filsafat sebagai tujuan pengetahuan, yang mencari kesatuan total, dan menggunakan sebagai datanya kesatuan-kesatuan parsial yang dicapai oleh ilmu-ilmu yang terpecah.

18. W. Wundt sependapat dengan Spencer bahwa filsafat bertugas melengkapkan ilmu-ilmu. Dalam pandangannya, ilmu-ilmu kebudayaan tak dapat direduksikan kepada ilmu-ilmu alam.

19. Peirce merintis pandangan pragmatis tentang ilmu sebagai modus dasar penelitian. Bagi Peirce komunitas ilmiah, komu- nitas para peneliti, merupakan paradigma seluruh komunitas.

20. Dewey melanjutkan pandangan pragmatik mengenai ilmu sebagai penelitian yang timbul dari situasi problematis. Dengan demikian, ilmu dapat dipandang sebagai pada dasarnya punya landasan yang sama dengan rasionalitas.

21. Windelband mengklasifikasikan ilmu-ilmu alam sebagai nomotetik dan ilmu-ilmu kebudayaan sebagai idiografik, sambil mendukung pandangan bahwa ada dua tipe dasariah ilmu dengan suatu perbedaan jenis yang nyata di antara keduanya.

22. Poincare menekankan unsur konvensionalisme dalam ilmu, seraya mengetengahkan bahwa prinsip-prinsip ilmiah merupakan kesepakatan yang beragam jenisnya.

23. Duhem berpandangan bahwa ilmu bertujuan mencari relasi- relasi yang tetap antara penampakan-penampakan. Dengan demikian ia melakukan penekanan Kantian berkenaan dengan cakupan ilmu.

24. Cassirer memperlawankan pemikiran ilmiah dengan yang mistik dan religius. Esensi dari yang terdahulu terletak di dalam konsep, dan dari yang disebut terakhir dalam penggunaan metafora. Kecondongan dari yang terdahulu ke luar dan dari yang belakangan ke dalam.

25. Haeberlin memandang ilmu-ilmu sosial sebagai yang primer dan ilmu-ilmu alam sekunder.

26. Gerakan positivisme logis membangun prospek kesatuan ilmu- ilmu, yang bertumpu pada konvensi-konvensi bahasa fisika. Mereka yang menolak tesis reduksionisme inenentang kemungkinan kesatuan ilmu. Menurut pandangan ini, semua disiplin dapat diungkapkan dengan bahasa fisika.

27. Braithwaite telah membentangkan analisis kompleks mengenai eksplanasi ilmiah, di mana teori-teori ilmiah dipandang sebagai kalkulus-kalkulus yang sebagian sudah diinterpretasikan d(- ngan aneka macam tingkat generalisasi.

28. Hempel meneruskan penekanan positivisme logis. Dalam anggapannya, metode-metode hipotetiko-deduktif dari ilmu-ilmi alam harus berlaku juga untuk ilmu-ilmu sosial.

29. Quine dekat dengan pragmatisme. Pada hematnya, ilmulai yang membentuk bagian terbesar skema konseptual yan; layak untuk keyakinan perorangan yakin, skema konseptuil ilmu tidak dapat dipastikan dengan pengalaman. Selalu ad banyak cara menangani evidensi yang bertolak belakang de ngan teori ilmiah tertentu.

30. Kuhn menganggap makna teori ilmiah pasti dikontrol ole paradigma ilmiah tertentu. Dalam pandangannya, komunitt ilmiah memiliki banyak sifat agama sektarian, termasuk oh todoksi dan oposisi terhadap bidaah.

31. Bagi Toulmin biologi evolusioner memberikan analogi yang berarti bagi evolusi teori ilmiah, termasuk kehadiran dalan yang belakangan variasi-variasi kebetulan dan seleksi alamial

32. Feyerabend mengemukakan bahwa kemajuan ilmu tergantur lebih pada multiplikasi (pelipatgandaan) hipotesis-hipocesi alternatif daripada pengakumulasian fakta-fakta.

Incoming search terms:

  • falsafah kesatuan ilmu
  • perbedaan episteme dan doxa
  • pengertian episteme dan doxa
  • pengertian doxa dengan episteme
  • perbedaan episteme dengan doxa
  • materi falsafah kesatuan ilmu
  • falsafah kesatuan ilmu jurnal
  • teori dari roger bacon tentang ilmu alam
  • pengertian idiografik
  • pengertian ilmu demonstratif

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • falsafah kesatuan ilmu
  • perbedaan episteme dan doxa
  • pengertian episteme dan doxa
  • pengertian doxa dengan episteme
  • perbedaan episteme dengan doxa
  • materi falsafah kesatuan ilmu
  • falsafah kesatuan ilmu jurnal
  • teori dari roger bacon tentang ilmu alam
  • pengertian idiografik
  • pengertian ilmu demonstratif