Advertisement

Dalam sejarah filsafat dapat dibedakan setidaknya empat macam arti kebebasan. Tak ada kesepakatan mengenai arti kebebasan yang digunakan secara amat luas.

A. Salah satu arti paling dasar kebebasan berkisar pada ide pilihan yang berarti. Dalam arti ini, kebebasan berarti daya seleksi salab satu dari dua atau lebih alternatif (kemungkinan). Jika kita bebas dalam arti ini, kendatipun kita memilih p dalam situasi yang memuat p. q, r, kita dapat memilih q atau r jika berada dalam situasi yang sama lagi. Artinya, kita dapat berbuat lain daripada yang kita perbuat dalam situasi itu. Jika kita mempunyai kemampuan untuk berbuat lain daripada yang biasa kita lakukan dalam sebagian terbesar keadaan yang kita hadapi dalam kehidupan, kita bebas dalam arti ini. Jika kita menganut pandangan demikian, bukanlah sesuatu yang aneh jika masa depan dipandang sebagai terbuka atau tidak tertentu. Oleh karena itu, indeterminisme merupakan akibat alamiah dari pandangan seperti ini.

Advertisement

1. Daya atom-atom untuk berbelok atau berputar-putar yang diakui oleh kaum Epikurean, baik Epikuros maupun Lucretius, merupakan salah satu cara menyatakan indeterminisme.

2. Pandangan St. Agustinus maupun St. Thomas Aquinas mendukung adanya pilihan dalam kehidupan manusia. Tetapi menurut mereka, kebebasan memilih dipadu dengan pengetahuan yang sudah ada lebih dulu dari Allah, dan dengan demi- kian dengan masa depan yang sudah tertentu. Diutarakan, inkonsistensi hanya merupakan tampakan saja dan akibat kaburnya pembedaan antara alam yang kekal dan yang sementara. Malahan St. Agustinus membedakan antara liberum arbitrium (kebebasan sewenang-wenang), pilihan bebas yang menyiratkan kemampuan berbuat jahat, dan libertas, pilihan bebas yang digunakan dengan baik. Kebebasan ilahi adalah libertas, dan bukan liberum arbitrium.

3. William Ockham sedemikian kuat keyakinanya akan daya manusia untuk menimbulkan atau tidak menimbulkan akibat- akibat, sehingga kejadian-kejadian mendatang dianggapnya sebagai kontingen (kendati, bagaimanapun, diketahui oleh Allah).

4. Pico della Mirandola beranggapan bahwa kebebasan pilihan manusia memberinya kedudukan istimewa dalam alam semesta.

5. Martineau sedikit mengubah definisi ini, dengan percaya bahwa kebebasan merupakan kemampuan untuk memilih di antara motif-motif yang sama penting.

6. Baik Charles Peirce maupun William James percaya akan kebebasan sebagai pilihan. Peirce mendukung indeterminisme dengan teori tychisme dan James dengan pernyataan bahwa semua hal berhubungan untuk sebagian terbesar oleh relasi- relasi eksternal. Pernyataan ini dimasukkan dalam doktrin pluralisme.

7. Bergson, Berdyaev dan Whitehead menganut ajaran ini sedemikian rupa sehingga pilihan dan perubahan dalam waktu berkaitan erat. Melalui seleksi kemungkinan-kemungkinan masa depan, masa lalu menjadi tertentu, dan ini terjadi dari waktu ke waktu, dari momen ke momen.

8. Kaum eksistensialisme umumnya menganut kebebasan pilihan yang sangat luas. Kebebasan tak terelakkan, tetapi sering mendatangkan penderitaan, membuat tidak enak. Sartre menekankan ambivalensi sikap manusia terhadap kebebasan: tersebar luas dalam kehidupan manusia, dan karakter eskapis dari ajaran-ajaran determinisme (mengakui dan sekaligus meragukan kebebasan).

 

B. Arti kedua kebebasan, konsisten dengan ajaran-ajaran determinisme, mengidentikkan kebebasan dengan berbuat seturut kemauan kita. Bila kemauan dibenarkan oleh tindakan kita sendiri, sekalipun adanya kemauan itu ditentukan oleh seperangkat sebab, kita dikatakan bebas menurut pandangan ini.

9. Dengan menganut pandangan ini, David Hume percaya bahwa kebebasan cocok dengan keharusan, dan lawan dari kebebasan bukan keharusan tetapi rintangan (kekangan). Thomas Hobbes setuju dengan pandangan ini. Manusia adakalanya sanggup melakukan apa yang diinginkan, kendati keinginan atau kemauan itu terbentuk oleh sebab-sebab yang pertama-tama keluar dari tangan Allah.

11. Ungkapan teologis pandangan ini ditemukan dalam Jonathan Edwards. Manusia berbuat apa yang disenanginya tetapi kehendaknya ditentukan oleh Allah.

12. Dalam pandangan Voltaire, ide pilihan bebas tidak terpahami. Kita dapat melakukan apa yang kita pilih, tetapi apa yang kita pilih mau tak mau harus kita pilih, dan ini cukup bebas.

13. Banyak filsuf kontemporer dari aliran analitik condong kepada definisi kebebasan semacam ini dan kepada nesesitarianisme atau keharusan. Tetapi karena mereka juga cenderung kurang metafisis dibandingkan dengan para pendahulunya, hasil analisis mereka tidak pernah dinyatakan dalam pernya- taan yang universal.

 

C. Arti ketiga dari kebebasan berpusat pada tindakan yang lahir dan motif-motif internal dan bukan eksternal. Altematif ini menuntut suatu doktrin tentang manusia sedemikian sehingga manusia mempunyai hakikat dasariah, atau diri, yang memungkinkan bertindak, dan bukan bertindak sesuai dengan dunia luar. Arti ini sering dikaitkan dengan interpretasi kebebasan sebagai pilihan. dan barangkali keduanya sebaiknya dihubungkan seperti itu.

14. Meskipun kita telah menempatkan Aristoteles dalam kelompok penganjur kebebasan sebagai pilihan, jelas pula bahwa manusia yang bebas bagi Aristoteles membuat pilihan-pilihan dalam kerangka kodrat rasional yang sudah maju. Khususnya di kalangan kaum Stoa pandangan ini mendapat tekanan.

Manusia adalah bebas bila sesuai dengan kodratnya yang rasional. Oleh karena itu, kebebasan terjadi sebagian karena keterbatasan, dan sebagian karena kepenuhan rasional. Bersama-sama kedua kualitas ini mendatangkan kehidupan yang mandiri.

15. Tindakan dalam kerangka kodrat pokok seseorang kiranya tampak jelas dalam tradisi Neoplatonis, dan mungkin dalam Plato juga. Dalam tradisi ini kebebasan dan otonomi berkaitan. Dan ini mengandaikan pewujudan di dalam diri kualitas dari yang kekal yang setiap saat merupakan acuan diri.

16. Spinoza menemukan kebebasan manusia di dalam kehidupan di bawah aspek keabadian, dengan memahami yang universal di dalam pengalaman-pengalaman partikular dalam kehidupannya. Menurutnya, otonomi rasional macam ini dapat dikombinasikan dengan determinisme kausal dari jenis yang paling ekstrem.

17. Kant juga mengidentikkan kebebasan dengan otonomi, suatu kualitas kehidupan manusia yang tampak tersedia bagi kita semua, tetapi terletak pada kedalaman jiwa. Mungkin Kant menggabungkan pandangan ini dengan arti kebebasan yang pertama, karena ia menganjurkan adanya determinisme dalam dunia fenomenal, dan kebebasan dalam hubungan dengan dunia noumenal.

18. Pandangan Hegel tentang kebebasan agak rumit, tetapi kebebasan sudah pasti menuntut pengembangan keberadaan potensial seseorang, sehingga tujuan seseorang merupakan realitasnya yang dasariah.

 

D. Arti keempat kebebasan dapat disimak di bawah ini.

19. Pada St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas, kita juga menemukan identifikasi antara kebebasan dan Sang Baik. Perbuatan yang bebas menuntut suatu konotasi normatif, sehingga kebebasan berarti berbuat apa yang harus diperbuat. Dalam arti ini, Allah yang adalah baik secara sempurna, dan tidak bisa lain daripada itu, adalah juga bebas secara sempurna. Inilah arti kebebasan sebagai libertas.

20. Walaupun Boutroux mengidentikkan kebebasan dengan kontingensi, pandangan ini ia masukkan dalam keyakinan bahwa kebebasan yang sebesar-besarnya harus ditemukaP dalam kehidupan moral.

 

Incoming search terms:

  • pengertian kebebasan
  • definisi kebebasan
  • arti kebebasan
  • definisi tentang kebebasaan
  • definisi kebebasan adalah
  • definisi dari kebebasan
  • arti lain kebebasan
  • arti kebebasan yang mandiri
  • Arti bebas kebebasan
  • pengertian kebebasan memilih

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kebebasan
  • definisi kebebasan
  • arti kebebasan
  • definisi tentang kebebasaan
  • definisi kebebasan adalah
  • definisi dari kebebasan
  • arti lain kebebasan
  • arti kebebasan yang mandiri
  • Arti bebas kebebasan
  • pengertian kebebasan memilih