Advertisement

1. Dalam bahasa Aristoteles dan kaum Skolastik yang menggunakan pembedaan ini, yang-ada ini adalah Sang Ada yang Niscaya atau Allah. Suatu proposisi disebut kontingen, jika peristiwa-peristiwa yang menentukan kebenaran atau kesalah- annya bersifat kontingen. Jika peristiwa-peristiwanya niscaya, begitu pula proposisinya. Kontingensi dalam peristiwa, yang- ada, dan proposisi tidak identik dengan kemungkinannya. Suatu peristiwa, yang-ada, atau proposisi yang dikatakan mungkin, mungkin kontingen dan mungkin niscaya. Dan penyangkalan kontingensi dalam peristiwa, yang-ada, dan proposisi mungkin berarti keniscayaan atau kemustahilan.

2. Avicenna memandang semua hal sebagai niscaya: Allah sebagai niscaya di dalam diri-Nya sendiri, hal-hal di dunia sebagai kontingen, tetapi juga niscaya dalam arti bahwa hal-hal itu ditentukan oleh tindakan sebab-sebab dari luar.

Advertisement

3. Leibniz membuat pembedaan antara kontingen dan niscaya dengan cara sedikit lain. Ia membuat pembedaan antara kebenaran fakta dan kebenaran akal. Kebenaran fakta bersilat kontingen, karena kebenaran macam ini bisa saja bersifat sebaliknya. Menurut Leibniz, kebenaran fakta kontingen ada pada pilihan Allah akan suatu dunia tertentu. Dengan jatuhnya pilihan itu kebenaran-kebenaran fakta tidak bisa bersifat sebaliknya. Kebenaran-kebenaran akal, di lain pihak, bersifat niscaya, betul dalam dunia mana pun, dan karenanya tidak kontingen (tergantung) pada dunia tertentu mana pun.

4. Ada juga pandangan yang dianut oleh Lequier, Cournot, Whitehead, dan Hartshorne bahwa masa depan adalah kontingen, dan dengan begitu tidak dapat diketahui sampai sekecil-kecilnya, biarapun oleh Allah sekalipun. Dalam pandangan ini, yang niscaya mengacu kepada segi-segi generik dunia, dan kepada apa yang, menjadi definitif pada masa kini, terus merupakan bagian dari suatu masa lalu yang tak berubah.

5. Boutroux berpendapat bahwa rerdapat kontigensi pada setiap tingkat alam semesta dan ketika satu tingkat bergerak menuju kehidupan dan inteligensi jumlah kontingensi bertambah.

6. Cara lain mengatakan keniscayaan ialah yang dilakukan oleh Wittgenstein, Carnap, dan lain-lain, yang niengidentikkan keniscayaan dengan kebenaran-kebenaran logis, dan memandang kebenaran-kebenaran logis sebagai tautologi-tautologi yang be- nar untuk semua nilai kebenaran.

Advertisement