Advertisement

Perkembangan Logika

1. Perkembangan logika meliputi waktu 2500 tahun di Barat dai sekitar itu pula di Timur. Di sini kita menggunakan pende katan historis maupun analitis.

Advertisement

A. Sejarah logika Barat mulai di Yunani. Logika bisa dikatakai berakar pada pembuktian-pembuktian geometri kaum Pytha gorean, dialektika Zeno dari Elea atau dialektika Plato. Catt gories, Topics, On Interpretation. Prior Analytics, dan Postern, Analytics dari Aristoteles mengembangkan analisis proposisi proposisi, interelasinya, kuantifikasinya, dan penggunaan dalan penalaran. Meskipun beberapa inferensi jenis Iain dikaji, puncal analisis Aristoteles adalah ajaran silogisme, dan keluasan pt ngetahuan berkaitan agak erat dengan pencarian term-term tengah.

2. Bersamaan dengan perkembangan logika di Yunani, berkermbang pula aliran logika Nyaya di India. Silogisme Nyaya itk nuntut lima proposisi dan bukan tiga. Aliran ini menyibukkai diri dengan analisis bahasa dan klasifikasi kekeliruan-kekelim an. Kurun waktu perkembangan logika ini dalam banyak hi sejajar dengan perkembangan logika Aristoteles.

3. Mazhab Peripatetik terus mengembangkan logika Aristotele Mazhab ini bersaing dengan mazhab logika Megarian-Stoi Tradisi yang disebut terakhir ini, mungkin karena hubunf annya dengan dialektika Zeno dari Elea, menaruh minat kr pada pengembangan sesuatu yang mirip dengan kalkuk proposisional. Dengan berkonsentrasi pada hubungan-hubungan yang bertipe “jika… maka” dan “atau … atau pa anggota mazhab Megarian-Stoa menggarap bentuk-benti) penalaran yang sahih untuk hubungan-hubungan ini.

4. Saingan Iain dari Mazhab Peripatetik ialah logika Epikurean. Menurut logika ini, semua koneksi logis berawal secara empiris, dan dengan demikian berdasarkan induksi atau analogi.

5. Daya hidup aliran-aliran logika utama berlanjut terus sampai Abad Pertengahan. Tulisan-tulisan Cicero, Galen, Sextus Em- piricus, Alexander dari Aphrodisius, dan Porphyry merupakan bukti kenyataan ini. Boethius kadang menyinggung kontro- versi-kontroversi logis antara kaum Stoa dan kaum Aristotelian, sambil terus berpihak pada Aristoteles. Adalah spekulasi Boethius tentang cara eksistensi spesies dan genus yang mewarnai diskusi tentang universalia (konsep-konsep universal) Abad Pertengahan.

6. Alcuin, John Scotus Erigena, dan Abelardus semua mempunyai hubungan dengan logika antara abad ke-8 dan ke-12 M. Abelardus paling terkenal dari kelompok ini. la menyusun empat risalah tentang logika. Ia memandang verba “adalah” sebagai kopula setiap proposisi kategoris (walau bukan dia yang pertama berpendapat demikian), dan beranggapan bahwa kopula itu bukan predikat eksistensi. Ia menyatakan bahwa suatu proposisi kategoris afirmatif baru berlaku bila gatra pangkal dan gatra sebutan menggantikan hal-hal yang sama, yang mengarah kepada teori tentang suppositio terminonorum. Dia bergumul dengan problem negasi dan modalitas. Dia mengupas argumen yang menyangkut paradoks-paradoks implikasi dengan anggapan bahwa anteseden suatu pernyataan kondisionai yang berarti mesti menuntut konsekuen yang sudah ada secara intrinsik, supaya menyingkirkan kebenaran pernyataan-pernyataan kondisionai seperti “jika Socrates batu, maka ia seekor keledai.” Ke dalam kaidah-kaidah argumen yang sah ia masukkan versi-versi awal modus ponendo ponens dan modus tollendo tollens, transitivitas, negasi, dan interelasi pernyataan-pernyataan modal, la meninggalkan pandangan logikawan Stoa bahwa disjungsi harus ditafsirkan dengan tajam.

7. Avicenna membedakan tanda-tanda alamiah pengertian pertama dari paham-paham abstrak pengertian kedua, dengan menganggap logika berurusan dengan tanda-tanda pengertian kedua. Ini rupanya merupakan awal diskusi mengenai intensi intensi pertama dan kedua.

8. Pada abad ke-13 William dari Sherwood menghasilkan suati manual logika. Dalam manual ini modus dan figur silogism yang sah muncul dalam versi mnemonik (jemhatan keledai dengan nama-nama Barbara, Celarent, Cesare, Felapton, etc Dia mengkaji proposisi konjungtif, disjungtif, dan kondisiona dengan istilah-istdah yang pada intinya modern. Dan sebual karya tentang Syncategoremata, yang menganalisis “dan”, “atau’ “tidak”, “jika”, “setiap”, “ketuali”, “hanya”, dikairkan dengai dia.

9. Pada abad yang sama Petrus dari Spanyol (kemudian menjad Paus Yohanes XXI) menyusun Summulae Logicales, sebual buku pegangan logika yang digunakan secara luas pada penghujung Abad Pertengahan, dan hingga abad ke-17. 16 edisi buku teks ini dijelaskan dengan lebih baik oleh pengem bangannya terhadap teknik versi-versi mnemonik daripad; analisis-analisisnya tentang proposisi, predikabilia, kategori silogisme, topik, kekeliruan, suposisi, relasi, ampliasi, apelasi restriksi, dan distribusi. Sudut pandangannya mirip sekali de ngan manual logika William dari Sherwood.

10. Roger Bacon tidak sendirian dalam menekankan pentingnya prosedur-prosedur empiris dan riser eksperimencal. Sebelum dia sudah ada Robert Grosseteste.

11. Raymond Lull pada periode yang sama mengembangkan ide untuk menggabungkan konsep-konsep secara mekanis untul menyediakan dafrar alternant yang lengkap. Metode ini, yang dinamakan An Magna, mempengaruhi perkembangan logika.

12. William dari Ockham menghasilkan suatu studi sistemati tentang term, proposisi, dan argumen. Pandangan Williar yang disebut nominalisme berasal dari ajarannya bahwa semu; tanda mewakili hal-hal individual, kendati beberapa tand; mewakili banyak hal individual. Apa yang menurutnya tida terpercaya ialah keyakinan bahwa ada universalia (hal-ha universal) yang berada di dalam banyak individu sekaligus Dan meskipun prinsip yang dikenal dengan nama pisau cuku Ockham (yakni : Entia non sunt multipltcanda praeter necessitate = entitas-entitas tidak dapat dilipatgandakan melampaui keniscayaan) tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ockham, prinsip ini jelas tidak ada dalam karyanya yang diterbitkan.

13. Peter Ramus melawan pengaruh Aristoteles, dan mencoba menyusun suatu logika jenis lain. Dia sedemikian populer, sehingga para penulis abad ke-17 membagi para logikawan ke dalam logikawan Aristotelian, Ramis, dan seni-Ramis.

14. Novum Organum Francis Bacon, yang diterbitkan tahun 1620, juga ditulis untuk melawan Aristoteles. Tetapi Bacon, tidak seperti Ramus, mempunyai alternatif asli. Dia berpendapat bahwa logika tradisional tidak bisa menjadi alat untuk penemuan ilmiah. Dan ia sendiri berusaha membangun alat seperti ini. Pengaruhnya luar biasa, tetapi tidak seberapa berhasil.

15. Antoine Arnauld dan Pierre Nicole menghasilkan buku La Logique OH I’Art de penser. Buku ini menganggap logika sebagai seni mengolah atau mengatur akal seseorang. Dengan menolak baik logika Abad Pertengahan maupun Logika Ramus, mereka menerima Aristoteles sebagian. Dalam pilihan antara Aristoteles dan ilmu baru, mereka lebih menyukai yang disebut belakangan. Sikap ini merupakan paduan sikap kesalehan dan perhatian terhadap ilmu modern. Namun sebagai pengikut Descartes pengertian mereka tentang metode ini berasal dari geometri. Induksi, misalnya, dianggap tak dapat diandalkan. Pembedaan mereka antara komprehensi (isi) dan ekstensi (luas) term-term umum sangat terkenal. Komprehensi adalah sehimpunan atribut yang tak bisa dihilangkan tanpa meng- hancurkan ide tersebut. Ektensi merupakan sehimpunan hal yang kepadanya ide itu dapat diterapkan.

Dalam semangat Descartes dan Pascal mereka menetapkan delapan kaidah metode:

a) Tidak boleh ada istilah yang tidak jelas atau tidak dikenal karena tidak ada definisinya:

b) Gunakan di dalam definisi hanya istilah yang sudah benar- benar dikenal atau dijelaskan;

c) gunakan sebagai aksioma- aksioma hanya hal-hal yang sungguh-sungguh eviden;

d) terima sebagai eviden hanya apa yang mudah dikenal sebagai betid;

e) buktikan semua proposisi yang tidak jelas dengan cara membuat definisi dulu; yang cocok dengan aksioma-aksioma dan proposisi-proposisi yang sudah dibuktikan;

f) hilangkan ekuivokasi istilah-istilah dengan definisi-definisi restriktif;

g) bertitik tolak sedapat mungkin dari yang paling umum dan simple, dari genus ke spesies;

h) bagikan tiap genus ke dalam semua spesiesnya, tiap keseluruhan ke dalam bagian-bagiannya, tiap masalah ke dalam kasus-kasusnya.

16. Leibniz pantas diakui sebagi logikawan hebat.

a) Seraya menghormati Aristoteles, ia berpendapat bahwa tidak semua argumen dapat dimasukkan dalam bentuk silogisme. Penghargaannya terhadap logika subjek-predikat, bagaimanapun juga, mendorongnya untuk menganggap enteng pernyataan-pernyataan relasional, dan membangun semacam ontologi substansi-atribut.

b) Dia menganggap ide Ars Combinatoria (“seni penemuan”) lebih fundamental daripada logika biasa.

c) Dan Characteristica Universalis (bahasa universal), dengan tata bahasa dan aturan prosedurnya yang dibangun secara filosofis membuat orang sanggup bergerak leluasa ke seluruh bidang pengetahuan.

d) Usaha Leibniz untuk membangun suatu kalkulus universal dimaksudkan untuk memperluas minat yang sudah disebutkan; memang kalkulus itu masih terpenggal-penggal, akan tetapi setidaknya suatu upaya sudah dilakukan untuk menghasilkan scbuah matematika abstrak.

17. Pada abad ke-18 Leon hard tinier numbantu mengarahkan perhatian para logikus pada interpretasi luas pernyataan-pernyataan umum. Alternatif ini dikembangkan oleh Gergonne pada abad ke-19.

18. Sir William Hamilton pada abad ke-19 memperkenalkan suatu pendekatan terhadap logika di mana predikat maupun subyek dikuantifikasikan. Tetapi modifikasi ini tidak mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang penting.

19. John Stuart Mill amat menarik perhatian, karena karyanya System of Logic bertujuan jelas untuk mengembangkan suatu logika yang cocok dengan tradisi empiris filsafat Inggris. Dia memandang definisi-definisi sebagai proposisi-proposisi identik yang memberi informasi hanya tentang penggunaan bahasa. Dengan demikian ia mendukung pandangan definisi-definisi nominal. Di lain pihak dia menganggap semua proposisi se¬bagai memenuhi pola subjek-predikat. Namun ia juga berang- gapan bahwa setiap silogisme memperlihatkan petitio principii.

Incoming search terms:

  • perkembangan mazhab logika

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • perkembangan mazhab logika