Advertisement

1. Heraklitos menemukan di alam semesta suatu daya pembentuk yang analog dengan daya rasio pada manusia. Jiwa manusia merupakan bagian rasio objektif atau logos dari segala sesuatu. Menurut Herakleitos logos ialah

a) Sebab imanen dari pola atau identitas yang jelas (nyata) dalam perubahan konstan segala sesuatu. Herakleitos sebetulya mungkin percaya bahwa logos adalah suatu eksistensi material seperti api (pyr).

Advertisement

b) Alasan pokok bagi eksistensi benda tertentu mana saja dalam alam semesta.

c) Keniscayaan, hukum, nasib, atau takdir kosmis.

d) Apa yang di alam semesta tetap sama sementara segala sesuatu yang lain berubah. Aspek-aspek pada alam semesta yang dapat diidentifikasi, dibicarakan, dinamakan, dan relatif tetap tidak berubah. Umat manusia memiliki suatu bagian dari Logos universal sebagaimana tampak dalam daya-daya penalaran mereka dan dalam eksistensi mereka yang terus menerus sebagai identitas- identitas.

2. Dari Anaxagoras melalui Aristioteles, nous menggantikan logos sebagai prinsip penggerak alam raya. Nous merupakan daya imaterial, sedangkan logos material.

3. Logos kembali muncul dalam sistem kaum Stoa, ketika prinsip teleologi mereka disebut logos maupun Allah. Oleh aliran/ mazhab Scoa, logos diartikan sebagai berikut:

1) Prinsip pokok, kosmis inteligensi atau akalbudi (Allah) yang menghasilkan aktivitas yang diatur secara rasional dalam alam semesta. Sebagaimana dalam Herakleitos, Logos dikenal dengan suatu kekuatan material, dan khususnya dengan api abadi, yang merembesi segala hal sebagai pelaku penyebabnya.

2) Prinsip aktif inteligensi atau akalbudi sebagaimana diperlihatkan kepada kita yang dapat kita gunakan a) untuk memahami tujuan dan arah rasional alam semesta;

b) untuk menangkap cara mengatur kehidupan kita yang niscaya agar cocok dengan alam; dan karenanya

c) untuk memperkuat dukungan dan ketahanan segala sesuatu sebagaimana mereka terjadi sebab mereka ditakdirkan secara rasional oleh Logos. Logos itu heimarmene = “predeterministis”, suatu pikiran yang “menakdirkan”.

3) Logos secara takdir mengatur segala sesuatu

a) untuk kebaikannya sendiri (sejauh mereka, menjadi apa adanya, dapat menyatakan kebaikan mereka) dan

b) untuk seluruh harmoni dan kebaikan alam semesta sebagai suatu keseluruhan. Logos disebut pronoia, yang berarti “takdir ilahi”, (penyeleng- garaan ilahi) “foreknowledge” (pengetahuan tentang semua akan terjadi), “prameditasi”, berarah-tujuan.

4) Logos adalah sumber semua nilai moral. Terlepas dari perbedaan-perbedaan fisik dan kulturalnya, semua individu adalah anggota umat manusia sebab masing-masing memiliki suatu bagian dari Logos kekal itu yang dalamnya semua manusia melebur tanpa pembedaan pada waktu kematian.

5) Jiwa (Logos) semua manusia tidak mati sebagaimana Logos kosmis di mana jiwa adalah suatu bagian. Prinsip di bawahnya adalah logos ipvrmatikos, suatu prinsip rasio (akal) aktif yang bekerja dalam materi mati. Logos pada manusia adalah rutin (rasio) di dalam psikenya yang menjadi oratio (kata) pada bibirnya. Pembedaan ini dibuat oleh Philo dan para Bapa Gereja.

 

4. Malahan dalam Judaisme terdapat ketenderungan untule mempersonifikasikan kata (sabda) Allah sebagai yang-ada yang kreatif dan sebagian independen, yaitu sebagai daya kreatif Allah.

5. Philo mengidentikkan kata (sabda) kreatif Perjanjian Lama dengan logos dari kaum Stoa. Logos lalu menjadi suatu prinsip transenden, sebagai sarana yang memungkinkan Allah menyatakan diri-Nya di dunia ini. Tetapi logos juga berfungsi sebagai penebus. Logos merupakan sarana menuju hakikat spiritual yang lebih tinggi.

6. Logos ditemukan di antara emanasi-emanasi dalam sistem-sistem Gnostik.

7. Di kalangan kaum apologis, Minucius memandang Tritunggal Kristen sudah ada gambarannya dalam filsafat Yunani, dan mengidentikkan logos para filsuf Yunani dengan Sang Putra Agama Kristen.

8. Dalam filsafat modern, Fichte menyatakan bahwa Allah hadir sebagai logos dalam semua yang ada. Dan dialektika Hegel merupakan pernyataan logos yang sedang bekerja.

9. Unamuno menolak logos sebagai suatu abstraksi, dengan menggantikannya dengan Sabda sebagai pernyataan mesra manusia yang menjadi daging.

10. Bagi Heidegger logos atau sabda hadir dalam semua pembi- caraan, yang mampu menyingkapkan Yang-Ada bila disebut dengan tepat.

Advertisement