Advertisement

Dalam arti konseptual deskripsi metafisika sebagai sesuatu yang “melampaui” fisika sering dipertahankan atau dipakai. Metafisika lalu dianggap sebagai studi tentang hal-hal yang pertama dan terakhir, yang isinya melampaui fisika, atau disiplin lain manapun. Namun demikian, bukan itu arti yang dimaksudkan Aristoteles. Dan berbagai pendekatan telah dilakukan terhadap metafisika, seperti akan kita lihat. Metafisika sesungguhnya mengarah kepada pembentukan sistem-sistem ide; dan ide-ide ini mungkin memberikan kita suatu penilaian tentang hakikat realitas, atau memberi alasan mengapa kita mesti puas dengan mengetahui sesuatu yang belum menjelaskan hakikat realitas, bersama dengan -metode penguasaan apapun yang dapat diketahui. Akan kita sebut beberapa pendekatan subjek ini.

1. Para filsuf dari Elea merupakan filsuf-filsuf kuno yang memulai pergulatan metafisik. Parmenides merupakan tokoh sentral kelompok itu. Di sini metodenya adalah konsistensi rasional, dan pernyataannya ialah bahwa yang real adalah yang rasional, sekalipun ini tidak sejalan dengan pengalaman inderawi. Malah kaum Eleatik ini menandaskan pembedaan antara penampakan dan kenyataan. Kenyataan adalah satu, kekal, tak berubah; dan dunia pengalaman biasa dianggap sebagai penampakan belaka.

Advertisement

2. Plato juga membedakan antara penampakan dan kenyataan, tetapi dia tidak begitu saja mau menolak pengalaman inderawi. Tampakan atau hal-hal konkret baginya adalah tiruan tidak sempurna dari ide-ide kekal.

3. Aristoteles memperlonggar pembedaan penampakan-kenyataan. dengan menganggap metafisika sebagai disiplin yang berurusan dengan konsep-konsep yang terlalu umum untuk dipaparkan di dalam salah satu bidang khusus pengetahuan. Problem kausalitas dan substansi, dan analisis istilah-istilah umum seperti potensialitas dan aktualitas, merupakan contoh topik atau konsep yang dipakai dalam sejumlah bidang penelitian dan yang dapat diuraikan secara pasti hanya dalam di.siplii umum metafisika. Bagaimanapun juga baginya metafisik, merupakan studi tentang yang ada sejauh ada, sementars ilmu-ilmu mempelajari bagian bagian dari yang-ada.

4. Plniinus menampilkan pandangan yang sama seperti Plato paling nyata ialah bahwa gerakan menuju kenyataan pada saat yang sama merupakan gerakan seseorang menuju keselamatan pribadi. Tema metafisika ini adalah persekutuar dengan Allah.

5. Thomas Aquinas menyoroti pandangan Aristoteles, khususnya pandangan bahwa metafisika merupakan studi tentang yang- ada sejauh ada. Tetapi yang jauh lebih menarik ialah bahwa di sini metafisika merupakan studi tentang yang-ada transenden, dan itu berarti keberadaan Allah sendiri.

6. Menurut Descartes, kriteria metafisika bukan transendens atau generalitas, tetapi kepastian. Orang mesti mencari titilr berangkat yang tak diragukan. Bertolak dari titik itu orang mesti beranjak dengan teliti dengan tahap-tahap yang sama- sama pasti guna membangun suatu basis bagi semua pengetahuan, termasuk tentu saja pengetahuan ilmu-ilmu khusus.

7. Spinoza mengembangkan suatu pendekatan yang berbeda dari pendekatan-pendekatan di atas. Berdasarkan sekumpulan definisi dan asumsi awal, ia membangun suatu sistem deduktif yang kebenarannya ditunjang oleh konsistensi keseluruhan dan kekukuhan deduksi-deduksi.

8. Leibniz memahami proposisi-proposisi metafisis sebagai kebenaran-kebenaran yang niscaya, yang penyangkalannya mengandung kontradiksi. Kebenaran-kebenaran itu berbeda dari kebenaran-kebenaran yang kontingen, karena mereka benar dalam semua dunia yang mungkin, tidak hanya dalam dunia yang kebetulan ada sekarang ini.

9. Biarpun Locke menerima beberapa argumen yang melampaui pengalaman, misalnya, argumen tentang Allah, pendekatannya sangat empiris. Hubungannya dengan metafisika tidak lain adalah pendirinya terhadap pengetahuan kita tentang dunia. Dan pendekatan umumnya ialah mencoba menentukan bagaimana ide-ide kompleks kita dapat dibuktikan berasal dari pengalaman.

10. Berkeley melanjutkan pendekatan ini. Dia mempertahankan keabsahan argumen tentang Allah, lebih yakin tentang kenyataan jiwa-jiwa dibandingkan Locke dan agak yakin bahwa Locke salah dalam memandang ide substansi sebagai “sesuatu” yang bereksistensi di dunia.

11. Berangkat dengan teori pengetahuannya, Hume merobohkan metafisika sebagai suatu omong kosong belaka. Baginya pengetahuan berasal dari pengalaman dan hanya pengetahuan yang berasal dari pengalaman yang sungguh merupakan pengetahu¬an, dan metafisika tidak termasuk dalam kelompok itu.

12. Kant menemukan suatu cara yang tepat untuk sepakat dengan Hume maupun untuk menemukan keniscayaan dalam pengetahuan ilmiah. Ini memerlukan penelusuran lebih dalam hubungan kita dengan fenomen-fenomen. Ia juga menyediakan akal praktis yang wilayahnya atau cakupannya meliputi proposisi-proposisi metafisis tentang Allah, kebebasan, dan imortalitas.

13. Hegel memahami tugas metafisika sebagai penyusunan sehimpunan deduksi rasional yang akan merangkumi dan menjadL contoh realitas. Berbeda dengan sistem rasional Descartes darL Spinoza, sistem Hegelian bersifat dialektis, yang timbul dengan oposisi dan sintesis dan bukan tipe-tipe penalaran yang lebih dikenal. Yang juga tidak biasa adalah pernyataan bahwa pada. akhirnya Roh Absolutlah yang didcduksikan, dan yang hidupnya sesungguhnya merupakan kehidupan dunia ini.

14. C.S. Peirce memandang metafisika sebagai ilmu observasional, yang melibatkan fenomenologi yang cermat tentang aspek- aspek umum eksistensi. Struktur metafisika yang cocok bersifat  arkitektonik (mirip arsitektur), yang timbul dari titik fokus pengalaman total kita.

15. R.G. Collingwood memahami metafisika sebagai studi tentang presuposisi-presuposisi terdalam dari sistem-sistem dan skema- skema yang diajukan selama perjalanan peradaban.

16. Rudolf Carnap dan kaum empiris lainnya menganggap sistem- sistem metafisika tidak mempunyai nilai kebenaran, tetapi mempunyai nilai emosional.

17. Henri Bergson memandang metafisika memuat pendekatan intuitif terhadap dunia, yang sanggup mengutusi kecenderungan akal untuk membuai spiisialisasi dan menangkap arus perubahan proses temporal.

I8. Whitehead merasa metafisika menuntut generalisasi imajinatif dari keseluruhan data pengalaman manusia dalam semua bidang, dari ilmu-ilmu ke agama. Dia memandang hasil-hasil kegiatan macam ini tak pernah lebih daripada kemungkinan.

19. Gilbert Ryle menganggap pernyataan-pernyataan metafisis mengandung kekeliruan kategori. Kesimpulannya mungkin, atau problem timbul, karena bahasa salah dipakai. Banyak filsuf bahasa biasa lainnya membuat klaim yang sama.

20. Dorothy Emmet membedakan dua jenis metafisika: Yang satu menekankan koherensi, yang lain membuat referens transenden.

Incoming search terms:

  • pengertian metafisika
  • rasional metafisik konsep
  • apa maksud metafisika
  • arti dari metafisika
  • definisi metafisika
  • konsep metafisika
  • maksud metafisikal dan rasional
  • pengertian ilmu meta fisika beserta contohnya

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian metafisika
  • rasional metafisik konsep
  • apa maksud metafisika
  • arti dari metafisika
  • definisi metafisika
  • konsep metafisika
  • maksud metafisikal dan rasional
  • pengertian ilmu meta fisika beserta contohnya