Advertisement

1. Kemunculan filsafat menandakan suatu peralihan dari uraian mitis tentang alam raya ke cara-cara penjelasan yang rasional. Di antara para filsuf kuno, ada yang menyerang dengan hebat penjelasan-penjelasan mitis yang diterima umum. Di antarannya Heraklitos dan Xenophanes. Di kalangan kaum Sofis, muncul praktik alegori, yang memandang penjelasan- penjelasan mitis sebagai kebenaran konseptual yang masih terselubung. Cara menggumuli mitos macam ini amat menarik perhatian para pemikir Kristen pada abad-abad berikutnya.

2. Plato, di sisi lain, salah seorang yang menganggap mitos sebagai sekutu dalam penggarapan filsafat. Mitos tidak hanya memungkinkan suatu ekspresi secara menghampiri tentang pengertian-pengertian filsafat yang tak tersedia ungkapan persisnya. Tetapi mitos juga sangat cocok untuk mengungkapkan segi-segi yang berubah dari dunia menjadi yang tak menentu.

Advertisement

3. Orang Yahudi Helenistik merasa ada gunanya memperlakukan Perjanjian Lama sebagai suatu alegori yang menyediakan secara terselubung ide-ide filosofis Yunani. Philo Judaeus seorang wakil ternama dari pendekatan ini.

4. Para pemikir Kristen, sejak abad-abad pertama hingga Abad Pertengahan, memandang interpretasi alegoris sebagai instrumen analisis yang esensial. Agustinus menemukan alegori – alegori dalam seluruh Alkitab, bahkan dalam perumpamaan Orang Saniaria yanjj baik liati. Merupakan prosedur baku pada Abad Penengahan memilah-milah arti alegoris, arti analogis, dan arti mistis dari suatu perikop tertentu.

5. Vico memandang mitologi sebagai instrumen yang memungkinkan sejarah bangsa manusia, sebagaimana hadir dalam adat-istiadat kelompok-kelompok kemasyarakatannya, dipertahankan. Mitos merupakan sarana ekspresi baku pada abad- abad pertama umat manusia, dan kenyataan masyarakat membentuk mitos.

6. Schelling membalikkan ajaran Vico mengenai hubungan antara mitos dan sejarah. Dia menyatakan bahwa sejarah bangsa manusia ditentukan oleh mitologinya. Mitos mempertahankan potensi-potensi kreatif murni dari para anggota kelompok kemasyarakatan, yang memberikannya bentuk.

7. Strauss menganggap injil-injil Kristen sebagai mitologi, yang menggambarkan penemuan (invensi) manusia secara tidak sadar yang dianalisisnya dalam kerangka Hegel.

8. Max Mueller, dalam penelitian bahasa dan kebudayaannya, menganggap mitos sebagai “bayangan gelap” yang dilontarkan bahasa pada pemikiran. Bayangan itu terjadi disebabkan ambivalensi verbal, yakni paronimi. Kenyataan bahwa suatu kata tunggal mampu membawa beberapa citra (imaji). Fakta, kata- kata sanggup mempunyai tidak hanya suatu arti tertentu saja, tetapi juga sugesti-sugesti figuratif, yang memungkinkan mitos dapat diuraikan. Bagi Mueller, ini merupakan penyakit bahasa, yang disesalkan namun juga tak terelakkan.

9. E.B. Tylor menjelaskan mitos sebagai produk kekacauan atau kebingungan manusia, yang mencampuradukkan begitu saja pengalaman mimpi dan bangunnya.

10. Sorel berminat kepada tipe mitos tertentu, yang menyatakan kehendak sosial menyangkut keadaan masa depan yang di¬inginkan.

11. Interpretasi Freud menemukan penjelasan mitos dalam hubungan cinta-benci yang sangat erat dalam keluarga yang ditindas dan diwujudkan dalam konteks kosmik.

12. Jung menemukan unsur-unsur mitos yang selalu datang kem¬bali dalam ketidaksadaran kolektif manusia, yang melekat pada seluk-beluk pengalamannya.

13. Cassirer menghidupkan kembali pandangan Schelling tentang autentisitas mitos sambil memusatkan perhatian pada makna kritis bahasa. Pada tahap berpikir mitis, kata dan realitas diidentikkan, sehingga daya naratif dan daya alam identik.

14. Levi-Strauss membangkitkan lagi pernyataan Vico bahwa mitos menggambarkan adat-istiadat kelompok-kelompok sosial. Pendekatan Levi-Strauss adalah melalui antropologi, suatu instrumen yang lebih canggih daripada pendekatan historis yang dilakukan oleh Vico. Selanjutnya, Levi-Strauss menemukan peranan mitos dalam mempertahankan dan mempersatu-kan realitas sosial melawan pertentangan-pertentangan sosial yang dapat diperdamaikan dalam cerita mitis. Anggapannya, mitos tak dapat diuraikan secara rasional, karena menetapkan suatu problem non-Cartesian; dan dia menganggap analisisny sebagai “mitos tentang mitologi”.

Advertisement