Advertisement

Sebuah perspektif filosofis, dikembangkan di Amerika, yang seketika menjadi pusat perhatian pada tahun 1940-an dengan terbitnya karya Yervant Krikorian Naturalism and the Human Spirit, 1944, kendati anteseden-anteseden pandangan ini berasal dari awal dasawarsa 1900-an. Naturalisme berpandangan bahwa semua penjelasan pada akhirnya harus mengacu pada objek-objek dan peristiwa- peristiwa dalam kerangka ruang-waktu. Tidak ada tata yang non- natural yang dapat dijelaskan. Pandangan ini berbeda dari materialisme dalam penyangkalan bahwa semua fenomen dapat direduksikan kepada materi yang bergerak. Aspek-aspek kualitatif pengalaman, misalnya pembedaan-pembedaan yang khas bagi logika, etika, dan estetika, dianggap sah dan dalam arti tertentu tak dapat direduksi.

1. Kelompok ini memandang Santayana sebagai perintis, kendati Santayana menyebut dirinya seorang materialis dan memandang roh bersifat epifenomenal.

Advertisement

2. Woodbridge menemukan pada Santayana suatu metafisika organik anti-reduksionistik. Metafisika ini, bila dipadu dengan Aristotelianisme, menjadi naturalisme. Naturalisme merupakan pandangan yang ditampilkan dengan tandas oleh Woodbridge selama beberapa tahun.

3. Waktu John Dewey datang ke Colombia ia mulai merasakan pengaruh Woodbridge. Selain menamakan pandangannya “Instrumentalisme”, ia juga menggunakan istilah “Naturalisme empiris”. Apapun namanya, kategori-kategori penjelasannya tetap mengacu kepada dunia ruang-waktu, dan filsafatnya ber sifat anti-reduksionistik.

4. Morris Cohen juga menganut tradisi ini, sebagaimana mahasisw; dan koleganya Ernest Nagel. Pemikiran Nagel juga mendapa pengaruh dari Dewey.

 

Beberapa Sikap Dasar

1. Monistik: Alam semesta merupakan satu-satunya realitas. I; abadi, beraktivitas sendiri, ada sendiri, terkandung sendiri, ter gantung pada diri sendiri, bekerja sendiri, jelas sendiri. Alan semesta tidak diperoleh dari, tidak tergantung pada, keberadaai atau entitas-entitas adikodrati atau transenden mana pun. Ge jala-gejala alam tidak dapat “tercampur”, “dilanggar”, “ditang guhkan”. Tidak ada suatu bidang adikodrati. Tidak ada jiws roh, pikiran yang tidak terjelma, kekuatan imaterial. Tida ada imortalitas, reinkarnasi, transmigrasi.

2. Antisupernaturalistik: Semua gejala dapat dijelaskan berkenaa dengan interelasi inheren dari peristiwa-peristiwa alam tanp bantuan dan penjelasan supernatural (adikodrati). Tidak ad realitas lain selain proses-proses (peristiwa, objek, hal-hal yan terjadi, kejadian) dalam ruang dan waktu. Tidak ada seba yang non-natural. Alam semesta memiliki strukturnya sendi dan mengasalkan strukturnya sendiri. Banyak tingkat realiti atau manifestasi alam semesta, dapat ada, tetapi tidak acl yang disebabkan secara adikodrati.

3. Proilmiah: a) Gejala-gejala alam dapat dijelaskan secara memadai dengan meningkatkan metodologi ilmu-ilmu. b) Semi gejala pada prinsipnya dapat dijelaskan dengan metode-metode ilmiah, c) Semua gejala dapat dijelaskan dengan metodoloj ilmiah, d) Pengetahuan dapat diperoleh hanya dengan mete dologi logis-empiris ilmu-ilmu. Intuisi, pengalaman mistil iman, wahyu ditolak sebagai sarana yang tepat dan langsur untuk sampai pada kebenaran tentang realitas.

4. Humanistik: Manusia merupakan salah satu dari banyak pe wujudan (alamiah) dari alam semesta (dan biasanya dipandar sebagai tidak mempunyai arti penting berdasarkan titik pai dangan alam semesta). Perilaku manusia akan dijelaskan berkai an dengan — dan dilihat terkait dengan — a) perilaku yang serupa dengan, tetapi lebih rumit daripada perilaku binatang- binatang lain, dan b) pengaruh-pengaruh sosial dan lingkungan yang menciptakan dan mengkondisikan kebutuhan-kebutuhan dan kesadaran manusia. Hakikat etis dan estetis manusiawi mempunyai dasarnya dalam gejala-gejala alam. Suatu studi empiris tentang tempat manusia dalam alam dan tentang hakikat manusiawi dapat melengkapi kita dengan nilai-nilai etis dan estetis yang memungkinkan manusia dapat hidup secara kooperatif dan bahagia. Nilai-nilai adalah buatan manusia dan didasarkan secara realistik pada kondisi-kondisi alamiah. Nilai-nilai tidak memiliki sumber atau sanksi adikodrati.

5. Tendensi-tendensi ke arah: a) penjelasan nonteleologis, b) penjelasan nonantropomorfis, nonanimistik, c) keterpercayaan pada pengalaman dan metode penyelidikan rasional, d) individualisme (dalam usaha kooperatif dengan individu lainnya), e) maksimisasi dan realisasi potensi manusiawi, f) kebebasan penyelidikan dan kesempatan, g) memandang manusia dalam suatu hubungan organis dengan lingkungannya, masyarakat, dan alam semesta. Berlawanan dengan supernaturalisme.

 

Incoming search terms:

  • definisi naturalisme
  • pengertian naturalisme
  • defenisi tentang naturalisme

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • definisi naturalisme
  • pengertian naturalisme
  • defenisi tentang naturalisme