Advertisement

1. Mengenai struktur negara, Plato menganggap kelas-kelas negara terdiri dari para pemimpin, para tentara, dan para pekerja; bentuk-bentuk pemerintahannya: aristokrasi, timokrasi, oligarki, demokrasi, dan tirani.

2. Aristoteles memandang negara sebagai ciptaan alam, karena manusia yang hidup sendirian tidak dapat mencukupi dirinya sendiri dan dengan demikian harus dianggap sebagai suatu bagian dalain hubungan dengan keseluruhan. Aristoteles menganggap monarki, aristrokrasi, dan politeia sebagai bentuk pemerintahan terbaik. Bentuk-bentuknya yang merosot adalah tirani, oligarki, dan demokrasi.

Advertisement

3. Hobbes memandang negara sebagai suatu “makhluk buatan”, hasil karya manusia dan mewakili kekuasaan-kekuasaan manusia terbesar, yang sesungguhnya adalah “Allah yang dapat mati”. Namun, negara tidak bersifat organik tetapi melulu agregat (gerombolan) bagian-bagiannya. Ia membagikan pemerintahan ke dalam monarki, aristokrasi, dan demokrasi.

4. Rousseau menganggap negara sebagai suatu “pribadi publik”, “pribadi moral” yang kehidupannya harus ditemukan dalam “persekutuan anggota-anggotanya”. Kurang jelas pernyataannya bahwa tubuh politik disebut “state” (negara) bila ia pasif, dan “sovereign” (berdaulat) bila aktif.

5. Bagi Kant, yang memandang negara sebagai sesuatu yang berlandaskan prinsip legislasi universal, tahap final adalah “persatuan universal negara-negara” dalam “suatu kongres permanen bangsa-bangsa”.

6. Hegel menambah penekanan pada kehidupan, pemikiran, dan kesadaran sebagai karakteristik negara, la juga berpendapat bahwa negara harus dihormati sebagai yang ilahi di bumi, dan “gerakan Allah” di dunia. Negara lalu, menurucnys menjadi suatu organisme yang hidup dan ilahi.

7. Bentham kembali kepada konsep negara Hobbes sebagi suatu agregat individu-individu. Dia menganggap kepentinga umum berasal dari kalkulus (perhitungan) kesenangan da kesakitan individu-individu.

8. J.S. Mill, yang mengikuti Bentham dengan modifikasi-mc difikasi tertentu, menganjurkan pemerintahan perwakilan, da kemerdekaan sebesar-besarnya dan seluas-luasnya, sebagai bentuk pemerintahan yang disukai.

9. Dalam Marxisme maupun Anarchisme “penggulingan negara dinanti-nantikan, dengan revolusi atau evolusi, tergantun pada aliran pemikiran.

10. Teori tentang negara fasis dikaitkan dengan nama Giovani Gentile, walaupun versi Idealisme Aktual-nya — sama seper idealisme gurunya, Hegel — dapat dipandang entah sebagi pensakralisasian dunia temporal atau pentemporalisasian yan ilahi. Bukan Gentile melainkan suatu kelompok di antai pengikut-pengikutnya, termasuk Ugo Spirito, yang mengola teori-teori tentang negara korporasi.

11. Parsons menganggap “pertahanan perbatasan sebagai prasyari penting eksistensi negara.

 

Advertisement