Advertisement

Para pengamat secara konsisten mengamati pesan bohong itu agak kurang jujur dibanding pesan deteksi kejujujuran. Dengan berlusin telaah, deteksi keakuratan tipuan biasanya melampaui kesempatan, tetapi jarang lewat secara menyolok (DePaulo et al., 1982). Tidak mengherankan jika orang dapat mendeteksi kenyataan berdusta lebih baik daripada memikirkan latar belakang perasaan pendusta yang sebenarnya. Contohnya, mereka merasa sulit membedakan komunikasi yang mengelabui dibanding pesan jujur yang penuh keraguan.

Dalam sebuah telaah, DePaulo et al. (1982) menyuruh para pengirim merekam pesannya tentang orang yang benar-benar mereka sukai atau tidak mereka sukai, baik dengan menceritakan hal yang sebenarnya atau dengan mengatakan yang sebaliknya, lalu merekam pesan tentang orang terhadap siapa perasaan dicampuradukkan. Seperti dalam telaah lainnya, pesan-pesan yang didiskusikan dalam bab ini, ditampilkan para pengamat melalui beberapa saluran berlainan. Mereka menemukan bahwa para pengamat tidak dapat membedakan pesan yang campur-aduk dari pesan bohong. Mungkin orang dapat membedakan ekspresi sejati perasaan positif atau negatif hal-hal lain, akan tetapi, mereka tidak dapat mengisolasi tipuan itu sendiri yang mereka ketahui adalah bahwa orang tersebut tidak sepenuhnya terdengar positif atau negatif.

Advertisement

Advertisement